Memberi Nasihat dengan Materi Bertahap dan Terjadwal itu Bagian dari Sunnah Rasulullah Saw

Image
Ade Sudaryat
Agama | Monday, 21 Nov 2022, 16:29 WIB

Ajaran-ajaran Islam itu sudah sempurna, tidak akan berubah sampai hari kiamat. Dasar-dasar hukum dari berbagai aspek kehidupan sudah tercantum dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw yang dituangkan dalam ribuan hadits. Dalam memutuskan hukum beragam permasalahan kehidupan kekinian tetap harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw melalui suatu proses yang disebut ijtihad.

Meskipun ajaran Islam sudah sempurna, dalam mendakwahkan atau mengajarkannya kepada siapapun harus diberikan secara bertahap, sesuai dengan kadar kemampuan intelektual atau kebutuhan orang terhadap ajaran Islam. Dalam hal ini kita dapat belajar dari Mua’adz bin Jabal ketika ditugaskan Rasulullah saw untuk berdakwah ke negeri Yaman.

“Ajaklah mereka (penduduk Yaman) untuk mengucapkan dua kalimah syahadat. Jika mereka sudah mentaati dalam mengucapkan dua kalimah syahadat, ajarkan kepada mereka tentang kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka sudah taat dalam melaksanakan ibadah shalat, ajarkan kepada mereka tentang kewajiban zakat yang diwajibkan kepada orang-orang kaya dari mereka, dan didistribusikan kepada orang-orang faqir diantara mereka” (H. R. Muttafaqun ‘alaih, dikutif dari Kitab Riyadhu al Shalihiin, hadits nomor 1208).

Selain bertahap, dakwah yang diberikan kepada siapapun, terutama orang-orang awam yang baru mengenal Islam harus diberikan sesuai dengan masalah yang ingin mereka ketahui atau dapat menjawab permasalahan agama yang sedang mereka hadapi. Misalnya ketika mereka belum memahami bacaan shalat, kita tak perlu mengajarkan materi lainnya kecuali mengajarkan bacaan shalat yang mereka perlukan.

Dalam hal ini, Imam Sufyan Ats Tsauri mengatakan, seorang ‘alim, guru, atau da’i itu laksana seorang dokter. Seorang dokter yang baik akan memberikan obat sesuai dengan jenis penyakit yang diderita pasien. Dengan demikian, seorang ‘alim harus memberikan ilmu atau pengajaran sesuai dengan kebutuhan jama’ah yang tengah dihadapinya.

Selain bertahap, seorang ‘alim harus memiliki waktu-waktu tertentu dalam meberikan nasihat atau pengajaran. Rasulullah saw terbiasa memberikan nasihat kepada para sahabat dalam hari-hari tertentu. Kebiasaan ini kemudian dilanjutkan oleh para sahabatnya, diantaranya Abdullah.

Dahulu Abdullah menyampaikan nasihat kepada orang-orang setiap hari Kamis. Seorang lelaki mengajukan usul kepadanya, “Wahai Abu Abdirrahman, sungguh betapa inginnya aku agar engkau menyampaikan ilmu atau nasihat kepada kami setiap hari.”

Abdullah berkata, “sungguh tidak ada yang menghalangiku untuk itu, hanya saja aku tidak ingin membuat kalian bosan. Aku akan mengatur jadwal penyampaian nasihat untuk kalian sebagaimana dahulu Rasulullah saw mengatur jadwal untuk kami karena khawatir kalian akan merasa bosan.” (Shahih Bukhari, Kitabu al ‘Ilmi, hadits nomor 68 dan 70).

Ilustrasi : dakwah (sumber gambar : republika.co.id)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Islamofobia dan Wanita-Wanita Muslim

Image

Lapas Narkotika Purwokerto Jalin Kerjasama dengan Kantor Pos Indonesia Cabang Purwokerto

Image

Trash-Talk dalam Dunia Game Online

Image

Kaum Feminisme dalam Cengkraman Patriarki

Image

MAdinah Iman Wisata Serahkan Donasi Bantu Korban Gempa Cianjur

Image

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image