Imlementasi Konsep Ta'awun dalam Aktivitas Ekonomi Syari'ah

Image
Nabila Salwa Humairah
Agama | Tuesday, 07 Dec 2021, 16:43 WIB

Secara etimologi kata ta’awun berasal dari bahasa arab yang artinya tolong-menolong. Sedangkan, menurut terminology ta’awun adalah sikap tolong menolong antar sesama manusia dalam hal berbuat baik. Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa untuk hidup sendiri, manusia membutuhkan sesamanya untuk saling memenuhi kebutuhan. Ta’awun sendiri merupakan prinsip tolong-menolong yang tanpa mempermasalahkan siapa yang akan ditolong serta siapa si penolong. Ta’awun tidak memandang pangkat, derjat, harta, serta kekuasaan seseorang.

Pengertian Ta’awun dalam Islam adalah sikap saling tolong menolong dalam kebaikan antar sesama manusia terlebih lagi kepada saudara seiman. Karena hubungan sesama muslim itu sangat dekat. Mereka dipersatukan oleh keyakinan yang sama yaitu keyakinan terhadap Allah Yang Maha Esa sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah. Bahkan sesama muslim diibaratkan seperti sebatang tubuh, apabila salah satu bagian tubuh merasa sakit maka bagian tubuh yang lain juga akan merasakan sakit yang sama.

Seseorang yang memiliki sikap ta’awun akan memiliki jiwa sosial yang tinggi, hati yang lembut, tidak menyukai permusuhan, mengutamakan tali persaudaraan dan tidak mengharapkan imbalan atas apa yang dilakukannya. Serta yang utama sekali ikhlas dalam beramal. Kewajiban orang yang mampu terhadap orang yang tidak mampu adalah memberikan sebagian harta yang dimiliki kepada orang yang kurang mampu, terutama dari segi ekonomi. Karena dalam Al-Qur’an telah diatur bahwa sebagian harta milik orang yang mampu terdapat hak orang yang tidak mampu.

Dalam aktivitas ekonomi tolong-menolong antar sesama umat islam dapat diimplementasikan dalam bentuk zakat, infaq, serta shadaqah., dll. Konsep tolong-menolong dalam ekonomi islam akan berdampak positif terhadap perbaikan ekonomi di masyarakat baik secara langsung maupun tidak. Karena prinsip tolong-menolong dalam ekonomi islam ini merupakan pendistribusian pendapatan dan kekayaan umat yang mampu dapat dimanfaatkan dengan baik dan merata.

Konsep ta’awun pada ekonomi syari’ah itu pada dasarnya memiliki beberapa prinsip :

1) Kepemilikan pribadi dalam islam itu mempunyai batasan, islam menolak keras setiap pendapatan yang didapatkan apabila bertentangan dengan syari’at.

2) Kekuatan utama ekonomi islam itu adalah kerjasama. Pemilik modal, penjual, pembeli, dan sebagainya haruslah berpegangteguh pada Al-Qur’an dan sunnah.

3) Bagi seseorang yang memiliki kekayaan yang berlebih sampai pada tingkatan tertentu (nisab) memiliki kewajiban untuk menzakatkan 2,5% hartanya.

4) Islam melarang keras perbuatan Riba..

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Fakta sebelum MotoGP 2022 Italia: Daftar pemenang di sirkuit Mugello, ada nama Marquez dan Quarararo

Image

Hanya 1 Jutaan, Harga Nokia 3310 5G Terbaru Mei, 2022

Image

Doa dan Motivasi Jelang ASPD SDN Lempuyangan 1 Yogyakarta

Image

Download Lagu dari YouTube ke MP3 di YTMP3 Mudah dan Cepat

Image

Jadwal Tayang Pertandingan Motogp Italia 2022 Live Trans7: Quartararo Akan Beri Kejutan Di Mugello

Image

Halal Bihalal Royal Riders Indonesia 2022: Lebih dari Sekadar Kekeluargaan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image