Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ridha Rizky Ananda Moriza

Resensi Novel Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Sastra | 2022-10-12 15:57:15

Resensi novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Dibuat Oleh: Ridha Mutiara Rizky Ananda Moriza

Judul: Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Penulis: Tere-Liye

Penerbit: Republika

Tanggal Terbit: Maret-2009

Halaman: 427 Halaman

Harga: Rp. 60.000,00

Menarik dan unik, itu adalah dua kata pertama yang terlintas dalam benak saya saat pertama kali membaca novel ini. Latar belakang dan jalan cerita yang barangkali jarang atau hampir tidak pernah terpikirkan oleh kebanyakan orang ini digarap tuntas oleh Tere Liyesapaan akrab sang penulis. Penulis yang bernama asli Darwis ini mahir merangkai kata demi kata menjadi kalimat, sehingga mampu membuat potongan-potongan kejadian menjadi sebuah lembaran kehidupan yang utuh. Sebagai penggemar garis keras Tere Liye, saya dibuat sulit untuk tidak membuka lembar demi lembar selanjutnya dalam sekali baca.

Bagi saya, membaca novel ini layaknya belajar tentang kebijaksanaan, belajar perihal kesederhanaan dan keikhlasan dalam penerimaan jalan hidup. Selain itu, novel ini pun mengajarkan untuk senantiasa berbaik sangka pada semesta dan Sang Penciptanya. Memahami bahwa pada beberapa hal di dalam hidup, mengalah bukan berarti kalah, tidak membalas bukan berarti lemah. Ada kalanya menerima adalah jalan terbaik bagi diri untuk menjadi apa adanya.. Sebab Sang Pencipta itu adil dengan keadilan-Nya.

Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu ini memberi input yang sangat sederhana, tetapi sangat mengena untuk dicerna. Misalnya saja, banyak dari kita –Termasuk saya sendiri– seringkali melupakan untuk melihat segala pristiwa dari berbagai sisi dan bukan dari kacamata kita saja. Tak jarang segala penilaian terhadap orang lain ataupun keadaan itu langsung dilontarkan, tanpa mau menelaah secara objektif. Maka dari itu lahirlah perdebatan-perdebatan sebab keselisih pahaman akan suatu penilaian yang bahkan kita sendiri pun tidak tahu, tentang sisi lain yang sebenar-benarnya kita ingkari.

Satu pemikiran di dalam novel ini yang membuat saya kagum adalah, pemaknaan dari “kehilangan.” ‘Semua kehilangan itu menyakitkan . dan cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi, bukan dari sisi yang ditinggalkan ’ Maka kemudian tidak akan ada lagi pertanyaan lanjutan yang mungutuk langit seperti ‘Kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hamba-Nya? Apa semua kesedihan ini kurang menyakitkan?’? Menurut saya, Tere Liye sangat apik menuliskan alur demi alur untuk memberi gambaran kehidupan ke pembacanya. Dengan tokoh yang dibuat melalui kehidupan yang tak mudah, tapi pada akhir cerita sang pembaca mampu paham tentang apa sebenarnya teka-teki hidup yang dialami si tokoh

Berikut adalah penggambaran singkat tentang novel yang dari tadi saya sebut luar biasa ini.

Novel setebal 426 halaman ini bercerita tentang seseorang yang mempunyai lima (5) pertanyaan besar di dalam hidupnya. Lima (5) pertanyaan sederhana yang mungkin banyak orang juga mempertanyakannya.

Apakah cinta itu?

Apakah hidup ini adil?

Apakah kaya adalah segalanya?

Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup?

Apakah makna kehilangan?

Lantas, kelima pertanyaan tersebut dijawab satu per satu secara berurutan dengan serangkaian peristiwa masa lalu sang tokoh dengan jawaban yang bijak dan sederhana.

Di dalam novel ini, kita berkenalan dengan tokoh utama yang bernama Ray, seorang remaja tanggung yang tinggal di panti asuhan dengan penjaga panti yang sok suci. Rehan Raujana, nama yang diberikan istri penjaga panti yang telah meninggal. Lantas ia mengganti namanya menjadi Ray. Hanya Ray, karena menurutnya, panjang-pendeknya suatu nama, ia akan tetap dipanggil dengan nama pendek. Orangtuanya meninggal saat terjadi kebakaran, sehingga ia kemudian tinggal di panti asuhan yang pemiliknya bersifat sangatlah serakah. Ia dihukum berkali-kali atas perbuatan nakalnya, sebentuk perlawanan atas perlakuan penjaga panti yang tidak adil. Ray adalah anak yang cerdas, maka ia ingin mencegah ketidak adilan di panti asuhan tersebut.

Ketika di panti, ia seringkali bertanya; “Begitu banyak panti asuhan di kota ini, mengapa ia harus bertahun-tahun tinggal di panti yang seperti ini?” Maka ketika ia berusia 16 tahun, di pagi hari raya ia memutuskan untuk mencuri uang di kantor penjaga panti dan memilih untuk kabur dari tempat itu. Lalu, secara tidak sengaja ia menemukan potongan masa lalunya di sana.

Ray pun sempat menjadi preman karena memutuskan kabur dari Panti Asuhan dan hidup di jalanan. Di luar panti, Ray menjalani kehidupan yang sungguh keras. Namun, di jalanan pula ia menemukan kebahagiaannya. Ia bisa makan semaunya tanpa di jatah seperti di panti, ia bisa tidur semaunya dan Ray bebas melakukan apa pun sesukanya. Di jalanan ini pulalah Ray menjalani hidupnya yang gelap. Mencuri, berjudi, hingga mabuk-mabukan.

Namun, kemudian ia menemukan kehidupan yang berbeda di ibukota, setelah peristiwa kemenangan besarnya yang berakhir terdamparnya ia di salah satu rumah sakit ibukota. Di sana, ia tinggal di Rumah Singgah. Bertemu dengan anak-anak jalanan yang mempunyai banyak mimpi masa depan untuk menjadi lebih baik.

Di suatu ketika, Ray memutuskan keluar dari rumah penampungan dan kembali hidup gelandangan. Mengamen dari gerbong Kereta satu ke gerbong lainnya, sampai tinggal di kolong jembatan. Ray senang menaiki tower air, menyendiri dan melihat rembulan dari atas sana.

Kehidupan Ray berubah drastis setelah ia nekad ikut mencuri berlian di salah satu Bank Internasional. Ray pulang ke kampungnya dan kemudian jatuh cinta pada Gadis Si gigi kelinci. Lantas kemudian mereka menikah dan Ray pun hidup bahagia karena dipercaya dan diangkat sebagai kepala mandor.

Namun sayang, kebahagiaan Ray tidak bertahan lama. Istrinya meninggal saat setelah melahirkan. Ray kembali ke kota dan merintis usaha baru dan yang kemudian sukses luar biasa.

Namun, Ray jatuh sakit saat semua impian yang bahkan tak pernah ia bayangkan telah menjadi kenyataan. Ray tetap merasa hampa, kosong, sepi, bahkan meski ia memiliki banyak harta. Ray masih diberi kesempatan mengulang masa lalunya, merenungkannya, lantas memperbaikinya.

“Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan merasa kurang dengan semua kesenangan, maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu.” Tere Liye

Walau saya adalah penggemar garis keras penulis yang berasal dari Sumatera Selatan ini, saya tidak begitu saja melewatkan kekurangan yang terdapat pada novel ini, tentunya menurut pendapat pribadi saya.

Novel ini membosankan pada bab-bab awal. Jika seseorang yang kurang berminat dengan novel yang alurnya berjalan dengan perlahan, mungkin saja tidak akan mau menamatkan untuk membaca novel ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image