MASINDO Ajak Seluruh Stakeholder Gaungkan Budaya Sadar Risiko

Image
Indra Mannaga
Gaya Hidup | Friday, 30 Sep 2022, 18:55 WIB

Budaya sadar akan risiko masih belum membumi di Indonesia. Rendahnya pengentahuan dan penerapan budaya akan risiko ini tentu sangat berdampak bagi individu, maupun kepentingan kelompok. Tidak hanya pada risiko kesehatan, tetapi juga risiko lingkungan, ekonomi, serta sosial. Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (MASINDO), Dimas Syailendra menuturkan, keprihatinan terhadap budaya masyarakat yang seperti inilah yang melatarbelakangi berdirinya MASINDO oleh individu-individu, serta organisasi yang konsen pada budaya sadar akan risiko.MASINDO melakukan upaya-upaya seperti edukasi, advokasi, serta sosialisasi mengenai hal yang memiliki bukti ilmiah, serta menyebarkan informasi dengan fakta lapangan. Dengan kondisi yang masih minim akan sadar risiko, MASINDO mengajak seluruh stockholder untuk membuat riset.“Pentingnya budaya sadar akan risiko ini merupakan tahap awal untuk kita berpikir ke arah yang lebih baik, dimana budaya aware ini bisa menjadikan acuan kita dalam memikirkan setiap tindakan dan keputusan yang diambil selalu ada risiko di dalamnya,” ungkap Dimas.Sementara itu, melihat angka prevalensi merokok di Indonesia masih tinggi, untuk menanggulangi risiko kesehatan, pemerintah diminta untuk bisa bersikap lebih terbuka mengenai perkembangan penelitian dan inovasi produk tembakau alternatif. Dengan prevalensi merokok yang tetap meningkat, tentu biaya kesehatan juga meningkat akibat perilaku merokok bertambah.Pentingnya akses informasi yang akurat dan terbuka mengenai tembakau alternatif seperti rokok elektrik, tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin. Sehingga perokok dewasa bisa mengetahui dan bijak memilih untuk beralih kepada produk tembakau alternatif yang rendah akan risiko. Sebab dampak negatif pada perokok dewasa adalah hilangnya peluang untuk meningkatkan derajat kesehatan dengan mengurangi risiko akibat merokok. Direktur Eksekutif Center of Youth and Population Research (CYPR), Dedek Prayudi mengatakan, saat ini banyak produk tembakau alternatif yang berderar dan bisa dikonsumsi di Indoensia. Ia berharap pemerintah bisa mendukung dan melihat manfaat yang ada pada tembakau alternatif seperti yang sudah diterapkan di Inggris dan Jepang guna menekan angka prevalensi perokok dan bahaya tembakau.Untuk menyeimbangi penerapan sadar risiko dengan menggunakan tembakau alternatif ini, Dedek meminta pemerintah untuk membuat aturan mengenai keberadaan dan penggunaan produk tembakau alternatif. Karena dengan adanya regulasi dan aturan yang jelas, produk tembakau alternatif ini dapat dikonsumsi dan dimanfaatkan secara optimal. “Produk ini bisa mengurangi prevalensi perokok jika diregulasi dengan tepat” pungkas Dedek.(*)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Mahasiswi Prodi Bidan Unisa Yogya Raih Juara 1 Puisi Tingkat Nasional

Image

Kesekian Kali

Image

Puskesmas Terbaik DKI Jakarta Berdasarkan Review Terbaru

Image

Ruang Lingkup Morfologi

Image

Pengaruh k-pop terhadap remaja

Image

Prodi Hukum Bisinis Unismuh Makassar Siap Gelar Kuliah Perdana Awal Desember

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image