Bunuh Diri dan Daya Tahan Manusia atas Masalah

Image
saman saefudin
Edukasi | Friday, 30 Sep 2022, 09:07 WIB
Sumber gambar: https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/penelitian-baru-inggris-mengungkapkan-kaitan-depresi-pada-remaja-dengan-_200214095100-474.jpg

Aku wes rak kuat Bul. Aku nyerah Bul”. Begitulah potongan rekaman percakapan audio Kopda Muslimin dengan Kabul, pamannya. Saat itu statusnya adalah tersangka sekaligus DPO dalam kasus percobaan pembunuhan terhadap istrinya sendiri, sebelum diketahui meninggal dunia di rumahnya setelah meminum Sianida pada 28 Juli 2022.

Dari nukilan singkat itu, seolah ada masalah berat yang tak tertanggungbebankan. Mungkin karena rasa bersalah dan malu sang Kopral Dua yang tak tertahankan akibat kejahatan yang dilakukannya.

Belum lama ini, seorang Kepala Kantor Kementerian Agama di Jawa Tengah juga ditemukan meninggal karena gantung diri, diduga akibat depresi. Pertanyaannya, apakah ada masalah hidup manusia yang tak tertanggungkan sehingga sebagian kecil orang memilih bunuh diri sebagai caranya lari dari masalahnya?

Bunuh diri memang bukan fenomena asing di negeri barat, atau bahkan di dunia timur seperti Jepang dan belakangan Korea Selatan. Sosiolog Emile Durkheim pernah menuliskan karya khusus tentang bunuh diri ini dalam “Suicide”, yang mencoba membaca tren kasus bunuh diri di Eropa Barat di sekitar abad 19. Durkheim menemukan kasus bunuh diri ini lebih banyak ditemui pada pemeluk Kristen Protestan dibanding Katolik. Penyebabnya, kata dia, adalah rendahnya solidaritas sosial pada penganut Protestan, mereka hidup lebih individualis. Sementara di kelompok Katolik, ikatan solidaritas sosial lebih tinggi, dan dianggap Durkheim membuat risiko kasus bunuh diri lebih rendah. Dalam karya sosiolog lainnya, Max Weber, juga diketahui bahwa penganut protestan cenderung lebih modern, bahkan kapitalisme dipandang lahir dari dorongan etik Protestan, khususnya Calvinis.

Kecuali itu, ketatnya dogma Katolik juga bisa jadi menjadi penghambat efektif bagi potensi kasus bunuh diri. Mirip dengan Islam, dogma Katolik melarang dan mencela keras tindakan bunuh diri. Kalau Anda pernah nonton film Kingdom of Heaven besutan Ridley Scott, gambaran tentang pandangan Katolik terhadap bunuh diri sedikit terjelaskan. Mereka yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, seberat apapun masalah yang memicunya, dia dianggap tercela dan tidak berhak untuk mendapatkan prosesi pemakaman dan pelayanan rohani ala Katolik lainnya. Meski dalam perkembangan kekinian Gereja Katolik lebih toleran dalam hal pelayanan rohani, namun tetap saja tindakan bunuh diri dianggap sebagai dosa besar yang tercela.

Dalam masyarakat Jepang, sempat populer juga konsep harakiri atau seppuku dalam tradisi Samurai, sebagai pilihan mati terhormat ketimbang hidup menanggung malu yang tak tertahankan, entah karena kejahatan atau kekalahan.

Daya Tahan Manusia

Sebagai penyebab kematian, bunuh diri tidak bisa hanya dilihat sebagai hal yang kasuistik. Sebab selain angkanya yang tinggi, ini juga terkait dengan kualitas kesehatan mental masyarakat. Data WHO mencatat angka kematian akibat bunuh diri setiap tahunnya mencapai 800.000 kasus, atau dengan kata lain setiap 40 detik ada 1 (satu) orang yang mati bunuh diri. Mirisnya lagi, bunuh diri juga menjadi penyebab kematian tertinggi usia muda 15-19 tahun di berbagai negara.

Dalam kaitan kesehatan mental, hasil riset Emotional Health for All Foundation (EHFA) mencatat ada tiga penyebab tertinggi kasus bunuh diri di Indonesia, yakni tekanan psikologis, penyakit kronis, dan masalah keuangan. Kalau mau diperas lagi, bolehlah tekanan psikologis sebagai penyebab umum tindakan bunuh diri. Lantas, kenapa sebagian orang memilih bunuh diri saat menghedapi tekanan psikologis yang berat? Apakah masalahnya memang terlampau berat sehingga tak terhankan, atau menganggap masalahnya tak mungkin terselesaikan, tak berjalan keluar. Jangankan teman, keluarga, atau orang terdekatnya, bahkan terhadap dirinya sendiri ia mungkin tak cukup percaya diri atas kemampuannya. Kondisi ini berpotensi membuat seseorang terjerembab dalam situasi keputusasaan, harapan seolah-olah menjauh dan bahkan menghilang. Ya, situasi berputus asa, hopeless.

Dalam konteks keimanan, mungkin kondisi berputus harapan inilah yang tidak bisa diterima kebenarannya. Bukan hanya karena sikap putus asa seolah menafikan peran Tuhan Yang Maha Kuasa, lebih dari itu juga karena “mendahului takdir”. Sebab salah satu sisi keunggulan manusia justru karena ketidaktahuannya atas takdir yang akan menimpanya. Masa depan, entah itu sekian tahun di depan, bulan depan, pekan depan, besok, atau bahkan sejam ke depan, takdir tetaplah misteri bagi kita. Karena itu, cara terbaik untuk menjemput takdir yang masih misteri itu adalah dengan sikap optimis lantas mengikhtiarkannya semaksimal mungkin saat ini. Jadi, konsep tentang takdir justru mengharuskan manusia berpikir positif atas masa depannya.

Tak terkecuali ketika kita dihadapkan atas masalah hidup, seberat apapun itu, maka agama menuntunkan kita untuk optimis, khusnudzan atas hari esok. Justru karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan masalah itu, sehebat apapun kemampuan kita memprediksi masa depan. Maka ketika Tuhan melarang hamba-Nya bunuh diri, Dia seolah ingin mengatakan; “Jangan takut hamba-Ku, kamu kuat, kamu pasti bisa. Jangan pernah membunuh harapanmu sendiri:. Konsep berpikir positif, optimis, karenanya menjadi logis dan realistis, karena tidak jarang harapan menjadi benteng terakhir manusia saat semesta seolah tak mendukungnya. Dalam QS. Az-Zumar: 53, Allah telah menegaskan hal ini;

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bayangkan, ayat ini tidak diperuntukan bagi orang-orang yang sudah baik, yang kokoh imannya, melainkan justru mereka yang zhalim, orang-orang yang perilaku buruknya melampui ambang batas. Bisa saja, karena banyaknya kesalahan yang mereka lakukan, mereka lantas berkecil hati untuk bertaubat, insecure, tak percaya diri, pesimis Tuhan akan memaafkan silapnya. Maka sebagai Sang Khaliq yang tahu betul kecenderungan makhluk bernama manusia, Tuhan mengantisipasinya dengan firman yang membesarkan hati hamba-Nya; Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah. Manusia boleh saja merasa malu dengan gunungan dosa dan kesalahannya, tetapi jangan sampai itu membuatnya merasa tak pantas untuk menerima ampunan. Karena sebesar dan sebanyak apapun kesalahan, toh maaf Tuhan jauh lebih besar dari itu semua. “Aku bergantung sesuai persangkaan hamba-Ku”, begitu kata Allah dalam sebuah hadits qudsi.

Kenapa manusia tak boleh putus asa atas masalah yang membelitnya? Kenapa Tuhan tetap menghendaki manusia untuk optimis dan berpikir positif? Jawabannya, tentu karena manusia memang memiliki daya tahan dan kemampuan untuk menaklukkan masalahnya masing-masing. Sepahit dan sesakit apapun rasanya ditelikung sahabat sendiri, Anda jauh lebih kuat dari yang pernah Anda bayangkan. Segetir apapun kondisi “ditinggal pas sayang-sayange”, berbanggalah karena ternyata Anda setegar itu. Atau, sesulit apapun tekanan ekonomi yang sedang Anda hadapi, se-melilit apapun hutang yang tengah Anda tanggung, yakinlah bahwa Anda mampu mengendarai badai. Karena saat Tuhan mengirimkan masalah hidup untuk Anda, pastilah itu sepaket dengan fakta bahwa Tuhan mengetahui dan mempercayai kadar kemampuanmu.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya..." (QS. Al-Baqarah: 286).

Kalau Anda masih menyoal; “Kenapa harus aku yang mengalami masalah berat ini?”, maka logikanya justru harus dibalik: Justru karena Anda mampu, maka masalah ini dikirimkan ke Anda, bukan ke si A atau si B. Karena Anda lah yang dipilih, maka jangan lakukan dua hal. Pertama, pesimis, berputus asa, apalagi sampai bunuh diri. Kedua, jangan pernah escape from problem. Karena saat Anda memilih lari dari masalah, percayalah, ini hanya soal waktu hingga masalah serupa akan kembali mendatangi Anda di masa depan, sampai batas di mana Anda akhirnya mau menerima masalah itu dan berupaya menghadapinya sebaik mungkin. So, jangan pernah berpikir bahwa Anda lemah, tak berdaya di hadapan masalah. Sebaliknya, anggap saja Anda adalah sosok terpilih yang hebat dan kuat, The Called Man, yang sedang ditempa Tuhan untuk menjadi manusia berbeda kelas dan kualitas dari sebelumnya. []

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Seorang pembelajar, saat ini menjadi redaktur di sebuah media lokal di Kota Pekalongan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Trash-Talk dalam Dunia Game Online

Image

Kaum Feminisme dalam Cengkraman Patriarki

Image

MAdinah Iman Wisata Serahkan Donasi Bantu Korban Gempa Cianjur

Image

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Image

Unisa Yogyakarta Tandatangani Kerjasama dengan Pemkab Kapuas Hulu

Image

Pariwisata Religi Solo-Magetan, Akulturasi Budaya Islam-Jawa

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image