Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shalwa Ananta

Malasnya Mahasiswa di Zaman Sekarang: Antara Stigma dan Realitas Gaya Hidup

Gaya Hidup | 2026-01-09 13:33:55

Sering terdengar keluhan bahwa mahasiswa masa kini semakin malas. Tugas menumpuk kerap ditunda, perkuliahan daring ditinggal, dan waktu lebih banyak habis untuk menggulir layar gawai. Fenomena ini kemudian melahirkan penilaian bahwa mahasiswa telah kehilangan semangat belajar dan kedisiplinan akademik. Namun, sebelum cap “malas” itu dilekatkan begitu saja, ada baiknya kita menengok lebih dalam realitas yang dihadapi mahasiswa hari ini.

Mahasiswa saat ini hidup di tengah arus distraksi yang tidak pernah berhenti. Media sosial menghadirkan hiburan sekaligus tekanan sosial yang konstan. Di sisi lain, tuntutan ekonomi memaksa sebagian mahasiswa untuk bekerja paruh waktu demi mencukupi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan. Ketidakpastian masa depan, mulai dari persaingan kerja hingga kecemasan akan arah hidup, turut membebani pikiran. Dalam kondisi seperti ini, fokus belajar menjadi tantangan tersendiri. Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kelelahan mental, tetapi gejala tersebut kerap disalahartikan sebagai kemalasan.

Meski demikian, mahasiswa tetap memegang peran penting sebagai agen perubahan. Status sebagai insan terpelajar mengandung tanggung jawab moral dan intelektual yang tidak ringan. Rasa malas, dalam bentuk apa pun, tidak seharusnya dijadikan pembenaran untuk mengabaikan kewajiban akademik. Mahasiswa perlu kembali membangun kesadaran akan tujuan belajar, bukan sekadar menjalani rutinitas perkuliahan tanpa makna.

Pada saat yang sama, kampus, dosen, dan lingkungan sekitar juga memiliki peran strategis dalam membentuk iklim akademik yang sehat. Pendidikan tidak seharusnya hanya menuntut capaian nilai dan target administratif, tetapi juga menghadirkan pendampingan dan keteladanan. Ketika mahasiswa merasa dipahami dan diarahkan, motivasi belajar akan tumbuh dengan sendirinya.

Alih-alih terus menghakimi, mungkin yang lebih dibutuhkan adalah ruang dialog yang terbuka dan pendampingan yang berkelanjutan. Bisa jadi, yang tampak sebagai kemalasan sejatinya adalah tanda kelelahan, kebingungan arah hidup, atau kehilangan makna dalam proses belajar. Mahasiswa tidak sepenuhnya malas, mereka sedang berjuang mencari jati diri dan tujuan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

#mahasiswa#generasimuda#pendidikan#duniakampus#kemalasan#mediasosial#tantanganmahasiswa#peranmahasiswa

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image