Wartawan Padi

Image
Robin sah
Eduaksi | Thursday, 22 Sep 2022, 16:42 WIB

Sejak menerima pesan balasan WA itu, langsung ada niatan membubuhkan sikap beliau dalam tulisan. Tapi, belum juga ada kesempatan. Masih menggarap ini dan itu. Termasuk naskah majalah Mulia. Tapi tekat masih ada.

Ya. Secara pribadi, ane menilai jawaban beliau memang sangat mengesankan. Menggambarkan kepribadian yang bijaksana. Sudi melayani orang lain dengan baik, meski dia bukan siapa-siapa.

Secara reputasi karir di dunia kewartawanan dua bukan orang sembarangan. Salah satu tokoh wartawan senior. Di koran tertama nan bernafaskan relegiusitas yang cukup kental. Posisinya pun menterang. Sudah duduk dinkursi redaktur.

Kedudukan lainnya pun sangat tinggi. Bersama tokoh-tokoh nasional lainnya, seperti Habiburrahman el-Syirazy dan Helvy Tiana Rosa. Para penulis novel-novel keren dan sutradara itu. Hebat, bukan?

Dengan posisi demikian, tergambar jelas kesibukan beliau. Yang luar biasa, setiap kali ane hubungi, entah itu karena mengirim naskah/sekedar sapa, selalu direspons dengan baik. Padahal, terkadang dalam seminggu sampai beberapa kali ane mengirim naskah untuk dipublikasi di media beliau. Selalu direspon, minimal dengan memberi jawaban;

"Baik, kang!"

Sampai pada akhirnya, ane sendiri jadi baper. "Apa iya, saya tidak mengganggu, yah. Kok japri beliau terus?"

Hal itulah, yang akhirnya memaksa ane untuk menanyakan, apa pesan-pesan yang saya kirimkan itu mengganggu apa tidak?

Ane tawarkan, kalau mengirim naskah, tidak usah ane menginformasikan via japri. Khawatir mwngganggu. Tinggal beliau melihat email. Toh sudah akrab juga dengan email ane pribadi. Tapi jawabannya;

[15/9 16:34] Khairul Hibri: Afwan ust, sekedar tanya.

Apa perlu sya memberi informasi smacam ini (chat WA), stiap kali memgirim tulisan/berita ke email antm atau tdak usah. Ckup kirim sja ke email??

"Gak masalah, Kang. Saya senang kalau dijapri." Jawab beliau.

Jawaban inilah yang membuat ane terjun. Di luar sana, betapa banyak, belum juga jadi apa-apa, soknya sudah luar biasa. Di-chat, tidak dibalas-balas. Padahal jelas-jelas sudah centang biru. Tandah terbaca. Bahkan, yang nge-chat bukan orang sembarangan juga. Seniornya. Ustadznya. Gurunya. Tapi, tetap juga dicueki.

Ini sejatinya, bukan soal sibuk atau tidak subuk untuk bisa me jawab. Tapi ini soal etika dalam bermedia sosial.

Kepada tokoh wartawan senior itu, mari kita belajar etika dalam bermedia sosial yang 'ramah lingkungan.' Tak berlebih koianya, bila ane beri julukan beliau 'wartawan padi.' Semakin berilmu. Semakin tawadhu' pula orangnya.

Semoga bisa menapaki. Termasuk pribadi yang menulis ini.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Kedokteran Unismuh Jalin Kerja Sama dengan Perusahaan Telemedisin Asal Italia

Image

Tingkat Kedisplinan di Implemntasikan oleh Pegawai Rupbasan Semarang dengan Giat Apel Pagi

Image

PK Bapas Nusakambangan Gali Data demi Kesesuaian Rekomendasi Program

Image

Layanan Paspor Hari Sabtu Edisi Unit Layanan Paspor

Image

Apel Bimbingan Klien Asimilasi di Rumah di Bapas Purwokerto

Image

Pengalaman Gonta-ganti Susu Formula Untuk Anak

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image