Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ade Sudaryat

Selain Sebagai Ibadah dan Bekal Menghadapi Kematian, Membaca Al Quran Dapat Mencegah Dari Kepikunan

Agama | Thursday, 22 Sep 2022, 06:22 WIB

Seandainya bisa disebut sebagai penyakit, hanya ada dua penyakit yang tidak akan ada obatnya, yakni kematian dan pikun. Siapapun tak akan bisa menolak jika ajal sudah menjemputnya. Ini suatu kenyataan yang tak bisa dibantah siapapun. Sehebat apapun ilmu dan teknologi di bidang kesehatan tak akan bisa menolak akan datangnya kematian.

Satu hal yang bisa dicegah adalah upaya menjaga kesehatan dan menjauhi berbagai hal yang mendekatkan diri seseorang terhadap resiko kematian. Ketika seseorang terkena suatu penyakit, kemudian ia berobat, maka tindakan berobat merupakan upaya agar dirinya kembali sehat. Pada umumnya orang yang sehat “masih agak jauh “ dari kematian, meskipun banyak pula orang yang sehat tiba-tiba meninggal. Semua itu hanya ada dalam kuasa Allah. Siapapun tak akan bisa menolak akan datangnya ajal.

Karena kematian merupakan sesuatu yang Allah rahasiakan kedatangannya, selain mencegah datangnya kematian, satu hal yang paling baik untuk kita lakukan adalah mempersiapkan jiwa kita untuk menghadapinya. Persiapan terbaik dalam menghadapi kematian, selain kita selalu berdo’a untuk diringankan dalam menghadapi sakaratul maut, semaksimal mungkin kita harus menjauhi perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Selain itu, memperbanyak berzikir dalam segala aktivitas kehidupan merupakan upaya persiapan seseorang dalam menghadapi kematian. Allah sangat mencintai orang-orang yang ketika diwafatkan, lisan orang tersebut basah dengan berzikir kepada Allah (H. R. al Baihaqy). Selain itu, sebagian dari hakikat kecerdasan hidup seseorang adalah orang yang menjadikan segala aktivitas kehidupannya sebagai ibadah agar pahalanya menjadi bekal setelah ia menghadapi kematian.

Hal lainnya yang tak bisa diobati adalah kepikunan. Siapapun bisa terkena penyakit ini. Berbeda dengan dengan jenis penyakit lain yang berhubungan dengan status sosial seseorang, seperti kemiskinan, kebiasaan hidup bersih, dan lain sebagainya, penyakit pikun secara rata dapat menyerang siapapun. Orang kaya, orang miskin, orang tua, bahkan kini orang muda sekalipun dapat terkena penyakit lupa ingatan ini.

“Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, diantara kamu ada yang dikembalikan kepada usia tua renta (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (Q. S. an Nahl : 70).

Seperti halnya kematian, kepikunan tak bisa diobati. Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat mengobati orang-orang yang terkena penyakit ini. Satu hal yang dapat dilakukan hanyalah melakukan pencegahan agar kita tak terkena penyakit ini.

Syaikh al Zarnuji dalam salah satu karyanya, “Ta’lim al Muta’alim” (hal. 41), sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata, “Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang menjadi kuat ingatan atau hafalannya, diantaranya menyedikitkan makan, membiasakan ibadah shalat malam, dan membaca al Qur’an sambil melihat mushaf”.

Selanjutnya ia mengatakan, “Tak ada lagi bacan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali dengan membaca al Qur’an”. Dengan demikian, al Qur’an memiliki pengaruh yang kuat terhadap daya ingat dan kesehatan jiwa seseorang.

Sama seperti otot-otot di dalam tubuh, otak juga membutuhkan latihan untuk membuatnya tetap sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya. Membaca Al Quran menjadi cara terbaik yang dapat diterapkan.

Energi positif dari ayat-ayat Quran yang dilantunkan dapat menjadi nutrisi otak yang paling berharga dan bahkan mungkin dapat mencegah dari penyakit yang menyerang saraf otak, seperti Alzheimer dan Demensia (dikutif dari https://www.honestdocs.id, akses tanggal 22/9/2022, jam 05:47 WIB)

Dr. al Qadhi (1984) melalui penelitiannya di klinik Besar Florida Amerika Serikat berhasil membuktikan, bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan ayat al Qur’an, seorang muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Masih pada tahun yang sama, Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara menyebutkan, al Qur’an terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.

Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan di Universitas Boston. Para relawan yang menjadi responden dalam penelitiannya sama sekali tak mengerti bahasa Arab, dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa bacaan yang akan diperdengarkannya adalah lantunan al Qur’an.

Penelitian yang dilakuan sebanyak 210 kali tersebut terbagi kepada dua sesi, yakni membaca al Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari al Qur’an. Kesimpulannya, para responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan al Qur’an, dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari al Qur’an.

Ketenangan jiwa akan sangat berpengaruh terhadap hati dan pikiran. Ketenangan pikiran sangat erat hubungannya dengan kesehatan otak. Karenanya, orang yang sehat otaknya kemungkinan besar akan jauh dari terkena kepikunan.

Rasulullah saw mengajarkan kepada kita agar senantiasa memohon kepada Allah terhadap dua hal, yakni memohon kepada-Nya agar diringankan beban dan rasa sakit ketika menghadapi sakaratul maut, dan berlindung kepada-Nya dari kepikunan. Mendekatkan diri kepada Allah, berzikir, dan senantiasa melaksanakan segala ketentuan Allah dan Rasul-Nya merupakan upaya terbaik dam menghadapi kematian dan mencegah kepikunan

Ilustrasi : Membaca al Qur'an

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image