Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yupiter Sulifan

Dalam KurMer, Guru BK Muter-muter

Guru Menulis | Thursday, 15 Sep 2022, 09:37 WIB

Mulai tahun ajaran baru 2022-2023 ini, mas menteri Dikbudristek, Nadiem Makarim mengamanatkan kalau semua sekolah bisa menggunakan kurikulum merdeka secara mandiri. Kurikulum merdeka yang untuk selanjutnya penulis tulis KurMer, ini disediakan dan dirancang khusus sebagai bagian dari upaya Kemendikbudristek untuk mengatasi krisis belajar yang telah lama dihadapi di Indonesia dan menjadi makin parah karena datangnya pandemi.

Seperti kita ketahui, krisis ini ditandai oleh rendahnya hasil belajar peserta didik, bahkan dalam hal yang mendasar seperti literasi membaca. Bukan itu saja, krisis belajar juga ditandai oleh ketimpangan kualitas belajar yang lebar antar wilayah dan antar kelompok sosial-ekonomi. Dan hadirnya KurMer ini diharapkan bisa memulihkan sistem pendidikan dari krisis belajar yang berlarut-larut ini.

Dalam kurikulum merdeka, pendidik diharapkan bisa memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik sesuai dengan karakteristiknya. (foto : yupiter sulifan)

Tentu saja pemulihan sistem pendidikan dari krisis belajar ini tidak bisa diwujudkan hanya dengan melalui perubahan kurikulum saja. Dibutuhkan juga kesiapan pelaksananya, dalam hal ini tenaga pendidik dan kependidikan. Kurikulum berpengaruh besar pada apa yang diajarkan pendidik dan ini akan bisa mempengaruhi perilaku ataupun perubahan karakter peserta didik. Sebaliknya, kurikulum yang disusun dan dirancang dengan baik akan mendorong serta memudahkan pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran dengan lebih baik.

Setidaknya penulis mengidentifikasi adanya perbedaan antara KurMer dengan Kurikulum 2013 ini yakni untuk tingkat SMA sudah tidak ada peminatan di kelas X. Di KurMer ini diganti menjadi fase E dan fase F atau pemilihan mata pelajaran yang diminati dan sesuai dengan bakat minat peserta didik.

Pergantian ini tidak serta merta berlangsung mulus, cukup memusingkan kepala pihak kurikulum sekolah. Bukan hanya pihak kurikulum, guru BK (Bimbingan Konseling) juga harus “muter-muter”. Semenjak awal masuk sekolah di tahun ajaran baru, guru BK sudah bekerja keras menggali karakter peserta didik baru (kelas X) di fase E. Sekedar tahu saja, karakter peserta didik yang harus digali ini terdiri dari karakternya (introfert dan ekstrofert), tipe gaya belajarnya (auditori, visual dan kinestetik), kepribadiannya (sanguin, koleris, melankolis dan plegmatis), kecerdasan majemuk (spasial visual, verbal linguistik, logis matematis, kinestetik jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalistik dan eksistensial) serta minat profesi/cita-cita (bidang iptek, bidang sosial dan bidang bahasa).

Guna mendapatkan data ini bisa lewat alat tes (dari psikolog/biro konsultasi psikologi) atau dari alat non tes (guru BK yang membuat sendiri dengan berdasar teori yang ada ataupun menggunakan alat non tes buatan guru BK lainnya). Kedua alat tes ini tentunya membutuhkan waktu tersendiri untuk menginterpretasi dan menganalisisnya.

Setelah memilah karakter peserta didik, guru BK masih memantau perkembangan hasil pemilahan ini. Bila ada masalah dikemudian hari dari hasil pemilahan ini, guru BK yang membantu menyelesaikannya.

Selama proses di fase E, peran guru BK diperlukan untuk mengawal hasil pemilahannya tadi. Ketika ada kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) ini ciri khas lain dari KurMer, guru BK harus bersiap menerima kiriman peserta didik yang bermasalah. Dalam arti, peserta didik yang selama proses P5 berlangsung tidak ada respon dan tidak berpartisipasi sama sekali.

Fase E selesai, guru BK mengawal ke fase F. Fase F ini menyangkut pemilihan mata pelajaran yang diambil peserta didik. Disinilah rawan masalah, peserta didik tidak sedikit yang tidak nyaman dengan mata pelajaran yang dipilihnya. Dan ini garapan guru BK, inipun masih dibayangi peserta didik yang ingin pindah mata pelajaran.

Yang pasti selain tugas diatas, guru BK juga masih harus melaksanakan tugas kewajibannya sesuai Permendikbud nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Walau terkesan muter-muter yang ditunaikan guru BK tapi tetap dikerjakan sebagai bentuk pengabdian membimbing peserta didik dalam menapaki tugas-tugas perkembangannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image