Waspada Virus Pelangi Minta Legalisasi di dalam Negeri

Image
Zahrotun Nurul Fajriyah
Info Terkini | Saturday, 10 Sep 2022, 19:34 WIB

Kaum pelangi semakin menunjukkan eksistensinya di dunia. Mereka berhasil meraih legalisasi di berbagai negara. Hingga Mei 2022 ada 31 negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis kebanyakan negara dari Eropa, Amerika, dan beberapa di wilayah Asia. Singapura pun mengumumkan akan melegalkan hubungan sesama jenis tersebut di negaranya.

Di Indonesia sendiri, virus pelangi ini juga menyebar. Bahkan mereka mulai meminta haknya sebagai warga negara untuk mendapatkan legalitasnya. Atas nama Hak Asasi Manusia, mereka ingin pilihan mereka dianggap hal yang wajar dan mendapat pengakuan walaupun bertentangan dengan norma yang ada

Kampanye pun mereka lakukan. Dengan dukungan PBB, kaum pelangi semakin percaya diri melenggang. Di tambah kampanye Islam moderat dan sikap toleran, masyarakat diminta untuk menghormati pilihan mereka. Kaum LGBT pun semakin eksis bahkan semakin berani menampakkan eksistensinya di media.

Seiring upaya dan kampanye masif kaum LGBT, pemerintah Indonesia mengeluarkan sebuah kebijakan untuk tidak mempersulit kaum LGBT mendapatkan kartu identitas. Kaum LGBT tetap memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Namun untuk legalitas pernikahan sesama jenis masih mendapat banyak pertentangan karena tidak sesuai dengan prinsip ketuhanan dalam Pancasila yang menjadi dasar negara.

Namun, dengan massifnya perjuangan kaum LGBT dan dukungan dari PBB serta Indonesia yang tergabung dalam anggota PBB, bisa jadi ke depan LGBT akan diberi tempat bahkan legalitas. Dalam bingkai demokrasi, LGBT memiliki kemungkinan akan mampu meraih legalistasnya karena mengatasnamakan hak pribadi. Ditambah paham liberalisme yang semakin menyeruak, membuat generasi semakin merasa bebas melakukan hal sesuka hati. Hal ini perlu diwaspadai karena LGBT adalah virus yang mengancam generasi bangsa.

LGBT merupakan kecenderungan yang bertentangan dengan fitrah manusia. Allah menciptakan manusia hanya dua jenis, laki-laki dan perempuan. Mereka diciptakan berpasang-pasangan, laki-laki bersama perempuan.

Naluri berkasih sayang yang ada dalam diri manusia, termasuk perbedaan jenis kelamin yang lalu dipasangkan, merupakan bukti kekuasaan Allah dan anugerah untuk manusia agar manusia mampu melestarikan jenisnya. Hubungan yang dilegalkan dalam Islam hanyalah dalam bentuk pernikahan. Sehingga darinya lahirlah generasi cemerlang pengatur bumi dengan aturan yang berasal dari Allah SWT.

LGBT jelas melanggar aturan Islam dan hukumnya haram. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885).

Syekh Nawawi mengungkapkan hadis yang diriwayatkan Thabrani dan Baihaqi: “Ada empat orang yang berada dalam murka Allah.” Nabi kemudian ditanya, ‘Siapakah mereka wahai Nabi?' Beliau menjawab, ‘Para lelaki yang menyerupai wanita, para wanita yang menyerupai lelaki, orang yang menyetubuhi binatang, dan lelaki menyetubuhi lelaki.”

Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim seharusnya tegas menolak menyebarnya virus ini. Kaum LGBT harusnya direhabilitasi dan dikembalikan kepada fitrah penciptaannya bukan malah didukung atau diberi panggung yang berakibat semakin menyeruaknya virus itu ke dalam tubuh generasi. Segala bentuk kampanye atas dukungan LGBT harusnya dihentikan karena mereka harus diluruskan.

Jika ada pelanggaran, maka pelaku akan diedukasi. Jika tidak mau bertobat akan diberikan sanksi yang tegas agar mencegah masyakarat lain melakukan tindakan serupa. Nabi Saw. bersabda, “Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth as. maka bunuhlah pelaku dan pasangan (kencannya).” (HR Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah).

Ijmak sahabat Nabi Saw. menetapkan hukuman bagi pelaku homoseksual adalah hukuman mati. Tidak dibedakan apakah pelaku sudah menikah (mukshan) atau belum pernah menikah (ghayr muhshan). Demikian juga kaum lesbian. Rasulullah Saw bersabda, “Lesbi di antara wanita adalah (bagaikan) zina di antara mereka.” Imam Ibnu Hazm menyebut dalil yang telah mengharamkan mubâsyarah, yakni persentuhan kulit dengan kulit tanpa penghalang antarwanita di bawah satu selimut. Jenis dan kadar hukumannya diserahkan pada Khalifah.

Namun, tindakan pencegahan dan sanksi untuk LGBT hanya mampu diterapkan saat Islam dijadikan dasar negara, sehingga sistem pendidikan, pergaulan, dan pemerintahan serta sanksinya didasarkan pada Islam. Hal ini hanya mampu dilaksanakan saat Daulah Islam tegak sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan para Khalifah setelahnya.

WaAllahu 'alam

(Zahrotun Nurul, S.Pd., Aktivis Muslimah)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Beriman Kepada Hari Kebangkitan (Yaumul Bats)

Image

Mushola dan Air Bersih untuk Pengungsi Cianjur

Image

Rekomendasi Restoran Ikan Bakar di Kota Malang, Telap88

Image

Peduli Gempa Cianjur, APPGINDO Bantu Warga Kampung Ciseupan

Image

Wisudawan Hafidz Quran 30 Juz UM Metro Terima Hadiah Umroh ke Baitullah

Image

Tanamkan Peduli pada Bumi Murid Lab School PAUD Ikuti Penanaman Sepuluh Juta Pohon

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image