Kisah Ashabul Kahfi, Bukti Adanya Hari Kebangkitan

Image
Trimanto B. Ngaderi
Agama | Thursday, 18 Aug 2022, 08:57 WIB

KISAH ASHABUL KAHFI, BUKTI ADANYA HARI KEBANGKITAN

“Iman yang kau sembunyikan di tengah kesunyian, kelak akan berteriak di tengah keramaian; kebenaran yang takut kau sampaikan dalam gelap, kelak akan terdengar dalam terang” (Isa Ibn Maryam).

Pada paruh pertama abad 2 M, di negeri Syam diperintah oleh seorang Gubernur Romawi Timur yang sangat zalim dan kejam, Diokletianus. Gubernur ini memerintah daerah yang bernama Philadelphia (sekarang Amman, Yordania). Pada waktu itu, Romawi menganut penyembahan terhadap dewa-dewa. Ada dewa Apollo, Jupiter, Isis, dll. Bahkan, Kaisar Romawi sendiri dianggap sebagai jelmaan dari dewa.

Di sisi lain, sebagian dari warga Romawi telah menganut agama Nasrani (ajaran Nabi Isa as yang masih asli), walau dalam jumlah yang angat kecil sekali. Akan tetapi, mereka menyembunyikan keimanan mereka. Sebab, menyebut nama Tuhan (Allah) pada waktu itu adalah sebuah kejahatan. Jika ada seseorang diketahui menganut agama tauhid, maka ia akan ditangkap dan mendapatkan siksaan yang sangat berat. Ada yang dicambuk, dipenjara hingga ada yang disalib atau dibakar hidup-hidup di alun-alun kota.

Mereka yang disalib atau dibakar hidup-hidup, jasadnya sengaja dibiarkan begitu saja agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Oleh karena itu, para penganut agama Tauhid tidak berani menampakkan keimanan mereka atau menyebut nama Tuhan di tempat umum. Mereka sering berkumpul secara sembunyi-sembunyi untuk mendengar ceramah agama, atau sekedar untuk saling menguatkan satu sama lain, menjaga solidaritas, dan meningkatkan persaudaraan. Mereka berkumpul di tempat-tempat rahasia, ruang bawah tanah, atau di tempat yang gelap dan sepi.

Sekalipun di bawah ancaman dan tekanan yang luar biasa, semangat mereka untuk berdakwah tak pernah luntur. Mereka tetap mengajak orang-orang untuk beriman kepada Tuhan dan mengingkari berhala-berhala. Mereka mencari pengikut di antara orang-orang miskin dan para budak. Mengajak kaum yang lemah dan tertindas tidaklah terlalu sulit, karena mereka juga sudah lama membenci para penguasa Romawi yang zalim dan kejam.

Dakwah agama tauhid ini tidak berhenti hanya kepada orang kecil saja. Maximillianus, penasihat gubernur sekaligus menantunya termasuk salah satu yang tertarik dengan agama Nasrani. Ia diam-diam mempelajari agama baru ini. Ia sering menemui orang Nasrani, termasuk bergabung dalam pertemuan rahasia mereka. Tak lama kemudian, beberapa penasihat gubernur lainnya dan pejabat negara juga tertarik dengan agama Nasrani.

Melarikan Diri ke Gua

Suatu hari, Kaisar Romawi saat itu, Hederianus, mengadakan kunjungan ke Philadelphia. Ketika itu diadakan acara jamuan makan malam di istana gubernur yang dihadiri oleh para pejabat negara, para pendeta kuil, para pendeta Yahudi, juga para rakyat biasa. Sebelum acara jamuan makan dimulai, setiap pejabat negara wajib menghadap dan berlutut di hadapan Kaisar, mengucapkan sumpah setia dan mengagungkan dewa-dewa.

Ketika sampai pada giliran Maximillianus, ia tidak mau berlutut. Sembari tetap berdiri dan berjalan mendekat ke arah kaisar, ia berkata, “Aku hanya taat dan menyembah kepada Tuhan pencipta langit dan bumi!”

Seketika itu juga ruang istana menjadi gaduh dan gempar. Gubernur Diokletianus kaget bukan kepalang, mukanya merah karena marah dan menahan malu, giginya gemeretak dan tangannya dikepalkan. Para prajurit di sekitarnya segera mencabut pedang dari sarungnya. Kaisar Hederianus sendiri tak kalah terkejutnya, namun sejurus kemudian ia bisa menguasai diri dan memerintahkan para prajurit untuk menahan pedangnya dan membiarkan Maximillianus untuk melanjutkan ucapannya.

Saat itulah digunakan oleh Maximillianus untuk menunjukkan keimanannya di depan khalayak. Tidak hanya itu, ia juga menghina dewa-dewa Romawi sebagai sebuah benda mati yang tak bisa berbuat apa-apa. Para penasihat gubernur dan pejabat negara yang juga menganut agama tauhid segera maju ke depan, bergabung dengan Maximillianus. Mereka juga mengumumkan keimanannya kepada Tuhan dan memberikan argumen-argumen untuk memperkuat pernyataan Maximillianus.

Disebabkan telah merendahkan kaisar dan menghina para dewa, Maximillianus dan kawan-kawannya ditangkap dan dimasukkan penjara, menunggu keputusan hukuman selanjutnya. Selama di penjara, mereka diberi kesempatan untuk bertobat dan kembali menyembah dewa-dewa. Namun, mereka tetap teguh pada pendirian mereka.

Suatu malam, salah satu petugas penjara ada yang berkhianat dan melepaskan Maximillianus dan kawan-kawannya. Akhirnya mereka bisa kabur dan menuju ke sebuah gua di pinggiran kota, dekat sebuah desa bernama desa Raqim.

Gua Anjelus

Inilah tempat Maximillianus dan kawan-kawannya bersembunyi dari pengejaran tentara-tentara Romawi. Mengapa Maximillianus bersembunyi ke gua ini? Karena sebelumnya ia pernah berkunjung ke sini beberapa saat lamanya untuk menyendiri, bermunajat kepada Tuhan agar berkenan membantunya dalam menghadapi tekanan dan penindasan para penguasa.

Selama bersembunyi di gua Anjelus, salah satu mereka mempertanyakan, “Mengapa Tuhan tidak memenangkan orang beriman di atas orang-orang kafir?” Sedangkan yang lain berkata, “Kapankah kebenaran akan mengalahkan kebatilan?”

Singkat cerita, di guna ini mereka aman. Tak lama kemudian, mereka diselimuti hawa kantuk yang tak tertahankan. Akhirnya mereka semua tertidur, termasuk Qithmir, anjing yang dibawa oleh Antonius si penggembala. Di dalam Al Qur’an (Kahfi: 9-26), mereka yang bersembunyi di dalam gua ini disebut “ASHABUL KAHFI” (Para Penghuni Gua), atau dalam versi Barat dinamakan “The Men of Anjolos”.

*****

Ketika mereka terbangun, mereka merasa sangat lapar sekali. Lalu, mereka meminta Maximillianus pergi ke kota untuk mencari makanan. Walau di sisi lain mereka juga merasa takut, seandainya ia bertemu dengan prajurit Romawi dan ditangkap.

Sesampainya di kota, Maximillianus melihat berbagai pemandangan aneh. Kota Philadelphia telah berubah total. Banyak gereja berdiri tengah kota, banyak orang menyebut nama Tuhan di tempat-tempat umum. Kuil para dewa juga tidak ada lagi, yang ada justru patung-patung Isa dan Maryam.

Maximillianus merasa kaget. Benar-benar membingungkan. Mengapa Philadelphia bisa berubah hanya dalam waktu semalam. Yang membuatnya lebih heran lagi, para prajurit yang melihatnya kok tidak menangkapnya. Selanjutnya ia berjalan menuju toko roti. Ketika ia membayar dengan uang koin yang dimilikinya, si penjual terkejut karena tidak mengenali uang koin tersebut. Penjual mengatakan bahwa uang koin tersebut sangat kuno, sudah ratusan tahun yang lalu dan tak berlaku lagi.

sumber gambar: https://republika.co.id

Bukti Hari Kebangkitan

Dibangunkannya (dibangkitkannya) kembali Ashabul Kahfi dari tidur panjang selama 309 tahun merupakan bukti nyata bahwa Allah SWT nanti akan membangkitkan kembali orang-orang yang telah mati pada hari kiamat kelak. Orang mati di alam kubur bisa diibaratkan dengan orang-orang yang tidur di dalam gua tadi.

Jika Allah saja sanggup menciptakan manusia dari satu sel air mani (yang tak terlihat), kemudian menjadi manusia seperti kita; tidaklah sulit bagiNya untuk mengumpulkan kembali tulang-belulang yang telah rapuh (terurai) untuk bersatu kembali menjadi wujudnya yang semula. Atau dengan kata lain, Allah mampu menciptakan manusia yang tadinya tidak ada menjadi ada.

309 tahun telah berlalu. 42 kaisar telah datang silih-berganti. Romawi yang dulunya adalah negara pagan, kini telah menjadi negara teokrasi. Diawali dengan Kaisar Konstantine yang memeluk agama Nasrani. Bahkan, kaisar harus tunduk kepada Paus (pemimpin tertinggi) gereja. Nasrani menjadi agama mayoritas penduduk di seluruh wilayah kekaisaran Romawi.

Inilah kemenangan kebenaran di atas kebatilan, yang dulu pernah diharapkan oleh Maximillianus dan kawan-kawannya. Dan kini, dengan mata kepalanya sendiri, Maximillianus melihat bukti dari kebenaran janji Tuhan. Kaisar dan rakyatnya adalah orang-orang yang beriman. Berhala-berhala dan para dewa telah lenyap. Tempat-tempat ibadah berdiri dengan megah di setiap sudut kota.

Maximillianus juga menyadari akan relatifnya waktu. Bagi Tuhan, tidak ada bedanya antara sehari, seminggu, sebulan, setahun, maupun seabad. Karena Dia memang tidak terikat oleh ruang dan waktu. 309 tahun bagi Maximillianus rasanya hanya seperti satu malam saja. Dalam “semalam” dunia telah begitu berubah. Kezaliman dikalahkan oleh keadilan. Kemungkaran dikalahkan oleh kebajikan. Kebatilan kalah oleh kebenaran.

Mengapa para penguasa zalim dan para penyembah berhala senantiasa melawan Tuhan, jika pada akhirnya mereka kalah dan tetap tunduk kepada kehendakNya?

(Untuk mengetahui secara lebih lengkap mengenai kisah Ashabul Kahfi ini, silakan membaca sejarah mereka atau melihat film serialnya).

Referensi:

Film Ashabul Kahfi (The Men of Anjolos) dan beberapa artikel online.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Writer, Blogger, Social Worker

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Saka Taruna Bumi Lapas Pemuda Plantungan Sebagai Sarana pembinaan WBP

Image

Apel Pagi, Kepala LPKA Kelas I Palembang Kemenkumham Sumsel Ingatkan Pentingnya Jaga Integritas

Image

Ilmu Komunikasi Umsida Asah Kesiapan Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja Lewat Uji Kompetensi Profesi

Image

5 Rekomendasi Restoran dengan Pemandangan Terindah di Sentul, Bogor

Image

Kakanwil Ajak Jajarannya Panjatkan Doa Untuk Korban Tragedi Sepakbola di Kanjuruhan

Image

UNIMUDA Sorong Gelar Sosialisasi Penyusunan RKAT Secara Luring

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image