Kehidupan Kita Pada Saat Ini Sedang Berada Pada Siklus L'histoire Se Repete

Image
Ade Sudaryat
Agama | Friday, 12 Aug 2022, 09:51 WIB

Nabi Ya’kub a.s. tidak begitu percaya ketika anak kesayangannya, Yusuf yang kelak menjadi Nabiyullah terbunuh karena tubuhnya dikoyak-koyak serigala . Melihat ketidakpercayaan ayahnya, saudara-saudara Yusuf yang mengajaknya bemain berupaya meyakinkan ayahnya dengan menunjukkan bercak-bercak darah pada pakaian Yusuf. Namun, ayahnya tetap tidak percaya. Ia meyakini tubuh Yusuf tak dikoyak-koyak serigala.

Kelak akhir ceritanya diketahui, saudara-saudara Yusuf merekayasa penghilangan Yusuf dari pusaran kasih sayang ayah mereka. Ketika Yusuf diajak bermain, mereka mencoba menghilangkan nyawa Yusuf, namun saudara-saudara lainnya tak setuju. Akhirnya Yusuf dibunuh secara pelan-pelan dengan cara dilemparkan ke dalam sumur.

Untuk menghilangkan jejak kejahatannya, mereka membuat rekayasa cerita yakni dengan melumuri baju Yusuf yang mereka sengaja buka sebelum ia dilemparkan ke dalam sumur. Kemudian mereka menyembelih seekor kambing yang darahnya ditumpahkan ke atas baju Yusuf dengan harapan ayahnya percaya, tubuh Yusuf dikoyak-koyak serigala.

Berbulan-bulan Nabi Ya’kub a.s. menangis. Ia sangat terpukul dengan kehilangan Yusuf. Di hatinya selalu berkata, “kelak Allah akan membuka tabir kebohongan peristiwa ini.”

Yusuf berhari-hari berada di kegelapan sumur yang dalam. Tubuhnya menggigil kedinginan. Suatu hari pertolongan Alloh mendatanginya. Sekelompok pedagang yang tengah ada di perjalanan merasa kehausan. Mereka mencari sumber air, dan menemukan sebuah sumur. Mereka tidak mengetahui di dalamnya ada Yusuf.

Seseorang dari mereka melemparkan tali timba beserta ember ke dalam sumur. Yusuf yang ada di dasar sumur segera mengambil tali timba tersebut, ia menyangka saudara-saudaranya yang akan menolongnya. Tak lama kemudian orang yang melemparkan tali timba tersebut segera menariknya. Ia pun merasa heran dengan ember yang terasa begitu berat, sampai-sampai ia meminta bantuan teman-temannya untuk menariknya.

Betapa kagetnya mereka, ketika tali timba sudah sampai di atas permukaan sumur, bukan air yang mereka dapatkan, namun seorang anak remaja yang begitu tampan. Singkat cerita Yusuf diselamatkan mereka. Singkat kisah, kemudian Yusuf diadopsi seorang pejabat tinggi Mesir yang kebetulan belum dikaruniai keturunan.

Yusuf tinggal di rumah pejabat tinggi tersebut, dan diperlakukan seperti keluarga sendiri. Mereka sangat menyayangi Yusuf, telebih-lebih istri sang pejabat sangat menyayangi Yusuf yang tumbuh semakin dewasa dan semakin tampan.

Suatu hari ketika suaminya tengah pergi, syetan datang membisikkan aroma jahat kepada istri sang pejabat tinggi tersebut. Istri sang pejabat merasa tertarik dengan ketampanan Yusuf, ia memaksa Yusuf untuk melakukan perbuatan “konten dewasa.”

Yusuf bertahan dengan mengerahkan segala kekuatannya. Ia pun berhasil keluar dari sekapan istri sang pejabat, dan berhasil selamat tidak sampai melakukan perbuatan “konten dewasa.”

Perilaku sang istri pejabat tersebut membuat heboh penduduk Mesir. Untuk menutupi rasa malunya, istri sang pejabat tersebut membuat rekayasa cerita bahwa Yusuf telah memaksa dirinya untuk melakukan perbuatan “konten dewasa” yang memalukan dan meruntuhkan martabat keluarganya sebagai orang terpandang dan tokoh masyarakat.

Sang suami pun mempercayai segala ocehan istrinya. Yusuf pun dikenai hukuman penjara, meskipun kelak diketahui istrinya telah merekayasa peristiwa yang sebenarnya.

Kisah selengkapnya tentang Nabi Yusuf a.s., dapat pembaca telaah dengan seksama dalam Al Qur’an surat Yusuf. Surat ini secara khusus menceritakan perjalanan hidup, moral pejabat, dan berbagai etika kehidupan. Secara khusus Allah menceritakan perjalanan hidup Nabi Yusuf dalam sebuah surat yang lumayan panjang, 111 ayat.

Seperti disebutkan pada akhir surat Yusuf : 111, kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu benar-benar terjadi dan kita harus mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa tersebut.

“Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Qur’an) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

Tulisan ini tidak bermaksud mencerca atau melecehkan terhadap para pelaku peristiwa “Polisi Tembak Polisi” yang sudah satu bulan beritanya menghiasi berbagai media. Namun tulisan ini mengajak pembaca untuk merenung dan mengambil pelajaran bahwa kita pada saat ini tengah menyaksikan siklus L'histoire Se Repete.

Sejarah itu bergerak melingkar. Setiap peristiwa historis akan selalu berulang kembali. Dalam bahasa Perancis siklus ini menjadi sebuah jargon L'histoire Se Repete, sejarah akan berulang. Apa yang dahulu pernah terjadi akan terulang kembali pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang meskipun dengan kondisi dan situasi yang berbeda, namun dalam inti peristiwanya terdapat kemiripan.

Bukan rahasia lagi, publik, bahkan institusi kepolisian merasa tercengang dan kecolongan dengan rekayasa kebohongan yang dilakukan Irjen FS beserta rekan-rekannya. Hal ini tak jauh berbeda dengan saudara-saudara Yusuf yang merekayasa rencana pembunuhan Yusuf.

Caranya berbeda tapi tujuan kebohongannya sama, yakni menghilangkan jejak-jejak pembunuhan. Jika saudara-saudara Yusuf melumuri baju Yusuf dengan darah kambing agar dipercaya bahwa tubuh Yusuf dikoyak-koyak serigala, sementara Irjen FS merekayasa tembakan ke tembok dengan menggunakan senjata Brigadir J agar dianggap seolah-olah ada peristiwa tembak menembak.

Kini muncul dugaan motif “konten dewasa” yang sebenarnya sejak awal peristiwa secara tersirat sudah menghiasi media. Meskipun motif “konten dewasa” ini yang menurut Menkopulhukam, Mahfudz MD, bersifat sensitif, harus hati-hati memberitakannya, dan polisi masih terus melakukan penyidikan.

Satu hal yang jelas terjadi atau pun tidak, rekayasa pembunuhan dengan dalih “konten dewasa” tengah berputar menghiasi berbagai peristiwa pembunuhan di sekitar kita, sama halnya dengan dipenjarakannya Yusuf, sang calon Nabi. Ia dijadikan tumbal oleh istri pejabat tinggi Mesir karena tuduhan telah melakukan “konten dewasa”.

Sejatinya siapapun harus belajar dari berbagai peristiwa kebohongan yang pernah terjadi sebelumnya. Kita masih ingat kasus kebohongan Ratna Sarumpaet sekitar tahun 2018. Tanpa pernah mempertimbangkan akibatnya, di depan Prabowo, Amin Rais, dan tokoh-tokoh elit politik lainnya, ia menuturkan telah terjadi pengeroyokan atas dirinya.

Kita pun harus mengingat akan kebohongan Prada MI, anggota TNI Angkatan Darat yang berulah dengan rekayasa ceritanya. Ia mendapat luka di tubuhnya setelah sepeda motor yang dikendarainya mengalami kecelakaan tunggal di bilangan sekitar Polsek Ciracas Jakarta Timur. Namun kepada rekan-rekannya, ia mengaku luka yang dideritanya tersebut bukan akibat kecelakaan, tapi akibat dikeroyok sekelompok orang, salah satunya anggota polisi.

Meskipun keliru, penuturan korban membangkitkan jiwa korsa, senasib sepenanggungan terhadap rekannya tersebut. Mereka pun melakukan pembalasan. Entah siapa yang memberikan komando, yang jelas seperti yang diberitakan berbagai media massa, Polsek Ciracas Jakarta Timur diserang sekelompok orang tak dikenal pada dini hari, 28/08/2020.

Michael P. Lynch (2004 : 147) dalam karyanya “True to Life: Why Truth Matters” menyebutkan, banyak ragam alasan yang melatari seseorang berani berbuat bohong. Seseorang berani berbohong demi menjaga keamanan dirinya; agar dianggap dirinya lebih baik daripada orang lain; mengalihkan perhatian terhadap suatu masalah; untuk merahasiakan kelakuan buruk atau keadaan yang sebenarnya. Ada pula kebohongan yang dilakukan seseorang karena kesenangan. Ia merasa senang kalau sudah membohongi khalayak atau lawan bicaranya.

Kita harus benar-benar mewaspadai setiap perbuatan bohong, sebab apapun alasannya, perbuatan bohong hanya akan berujung pada rasa malu, menyiksa diri, bahkan mencelakakan diri sendiri. Apalagi jika kebohongan tersebut sampai melanggar hukum seperti yang dilakukan Irjen FS bersama rekan-rekannya yang sudah pasti akan berujung pada rasa penyesalan yang mendalam, malu, dan mendapat hukuman berat.

“Berhati-hatilah kalian terhadap kebohongan. Sesungguhnya kebohongan itu akan menimbulkan kekejian. Dan kekejian akan mengantarkan para pelakunya ke dalam neraka” (H. R. Bukhari – Muslim).

Ilustrasi : Polisi tembak Polisi
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Staff Registrasi Bapas Semarang Siap Menyajikan Data yang Akuntabel

Image

APK Bapas Semarang Turun Ke Ladang Untuk Melakukan Pengawasan Program Asimilasi Dalam Lapas

Image

Tingkatkan Akuntabilitas Bapas Semarang Laporkan Capaian Output Melalui E-Monev

Image

Sepakat dengan Menhan Prabowo Dukung Kriteria Calon Taruna

Image

Dari Gunungkidul ke Solo, SMA Muhammadiyah Al Mujahiddin Jalin Kerjasama dengan UMS

Image

Pelatihan Persyaratan dan Pengenalan serta Dokumentasi ISO 9001:2015 MPP Grobogan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image