Meskipun Sering Terasa Pahit, Kejujuran Itu Menyelamatkan Kehidupan

Image
Ade Sudaryat
Agama | Friday, 05 Aug 2022, 06:02 WIB

Alkisah ada seseorang yang piawai berbuat kejahatan. Ironisnya, pihak yang berwajib jarang bisa membuktikan kejahatan yang ia lakukan. Singkat cerita, setelah sekian tahun melakukan berbagai tindak kejahatan, ia mampu mengumpulkan harta yang begitu banyak jumlahnya. Untuk mengurus jumlah hartanya yang tak terhingga, ia mempekerjakan beberapa orang, baik sebagai pemelihara harta, sekuriti, dan sebagai pengawal dirinya.

Di sebuah tempat yang indah dan sunyi, ia membangun sebuah villa sebagai tempat istirahat. Sudah sejak lama, ia ingin menikmati kebahagiaan dari hasil kejahatannya. Ia berkeyakinan, dengan membangun villa di tempat sunyi, ia akan dapat hidup bahagia dan tenang menikmati harta hasil kejahatannya.

Pada suatu kesempatan, ia memutuskan untuk beristirahat di villa tersebut. Ia membawa para gundik dan para pelayan, termasuk para pengawal yang selama ini setia melindungi dan membantu ketika melakukan tindak kejahatan. Mereka siap membantu dan melayani berbagai kebutuhannya. Satu hari , dua hari, ia bisa menikmati kebahagiaan istirahat di villanya. Namun, lama kelamaan hatinya mulai gundah gulana. Prasangka jelek kepada para pembantunya mulai berkecamuk di hatinya.

Ia mengetahui betul, di balik keramahan dan senyum penuh pelayanan para pembantunya tersembunyi hasrat culas menunggu saat yang tepat untuk merampas hartanya. Sikap ini persis seperti sikap dirinya ketika bergaul dengan orang lain dan ingin menguasai dan merampas hartanya. Sikap berbohong, menyembunyikan kejahatan dan tujuan culas untuk menguasai harta orang lain pernah ia ajarkan kepada para pembantunya. Prinsip utama yang ia ajarkan, “kalau Anda tak berbuat bohong dan culas, Anda akan sulit untuk mendapatkan kekayaan.”

Lama kelamaan, prasangka buruk kepada para pembantunya semakin menggumpal di hatinya. Ketika melihat makanan dan minuman yang disajikan, ia merasa ketakutan ada racun di dalamnya. Ketika para pengawal mengikutinya, ia merasa takut ditikam dari belakang. Akhirnya, ia hidup dalam ketakutan. Setiap hari, bukannya ketenangan dan kebahagiaan yang ia peroleh, namun dirinya berfikir dan membuat siasat agar dirinya selalu selamat.

Kisah tersebut saya adaptasi dari petuah Platon, salah seorang tokoh filsafat Yunani. Saya tidak mengajak Anda untuk terjun ke dunia filsafat. Namun dari kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran, perbuatan jahat tak lebih menguntungkan daripada berbuat baik. Perbuatan bohong, menghalalkan segala cara dalam memperoleh kekayaan dan jabatan belum tentu beruntung dan mendatangkan kebahagiaan.

Di lain pihak, dalam kenyataan hidup, karena tertekan dengan berbagai kebutuhan dan kesulitan hidup, terkadang kita berkeinginan mengikuti kebohongan yang dilakukan orang pada umumnya, terlebih-lebih ketika kebohongan sudah memasyarakat di sekitar kita. Bukan rahasia lagi, pada saat ini sering kali kita melihat, orang jujur nasibnya tidak mujur dan selalu terkubur. Sementara orang yang berani berbuat bohong, hidupnya serba mudah dalam mendapatkan harta dan jabatan. Mereka nampak bahagia. Betulkah demikian?

Pada Tahun 2012, dalam Konvensi Tahunan Asosiasi Psikolog Amerika, Anita E. Kelly dan Lijuan Wang Department of Psychology University of Notre Dame, Indiana USA, memaparkan sebuah hasil penelitian eksperimen yang berjudul A Life Without Lies: Can Living More Honestly Improve Health?

Penelitian eskperimen tersebut tentang hubungan kejujuran dengan kesehatan fisik dan mental yang melibatkan 110 individu sebagai responden dengan kisaran usia 18 hingga 71 tahun. Penelitian berlangsung selama 10 minggu.

Setiap minggu, para peserta mengunjungi sebuah laboratorium untuk melengkapi pengujian kesehatan dan sebuah tes poligrafi untuk mengukur jumlah kebohongan yang mereka katakan pada minggu tersebut. Dari hasil penelitian diindikasikan, orang Amerika rata-rata berbohong sekitar 11 kali per minggu.

Singkat cerita, para peneliti meminta setengah dari para peserta untuk berhenti berbohong selama 10 minggu. Intruksi mereka adalah “Tahanlah diri Anda dari mengatakan kebohongan kepada siapapun dengan alasan apapun. Anda mungkin boleh menolak mengatakan yang sebenarnya, menolak menjawab pertanyaan dan merahasiakan sesuatu, tapi Anda tidak bisa mengatakan apapun yang Anda tahu salah.”

Peserta yang mengikuti instruksi tersebut memperoleh hasil yang mencengangkan. Selama waktu penelitian tersebut, diperoleh hasil hubungan antara berbohong dan kesehatan. Peserta yang berperilaku jujur, secara signifikan kesehatannya meningkat baik. Mental dan fisik mereka lebih sehat, dan mendapatkan peningkatan yang lebih baik dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Mereka menjadi lebih akrab dengan orang-orang di sekitarnya.

Islam identik dengan kejujuran, diwahyukan kepada orang yang memiliki sifat jujur, al amin. Dialah Nabi Muhammad saw. Inti utama dari ajaran Islam pun adalah kejujuran. Seorang muslim harus jujur mengakui kebenaran akan perintah Allah dan Rasul-Nya. Salah satu syarat diterima tobat pun adalah kejujuran mengakui dengan tulus telah berbuat dosa dan kesalahan. Orang yang akan masuk sorga adalah orang-orang yang jujur.

Singkatnya kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat hanya akan diperoleh orang-orang jujur. Benar, secara kasat mata, pada saat ini orang-orang yang berani berbuat bohong nampak bahagia dan memperoleh keberuntungan, sementara orang jujur nampak melarat dan menghadapi berbagai kesulitan. Namun hakikatnya tidaklah demikian.

“Hendaklah kamu berlaku jujur karena kejujuran menuntunmu kepada kebenaran, dan kebenaran menuntunmu ke sorga. Seseorang yang selalu berlaku jujur, dia tercatat di sisi Allah swt sebagai orang jujur. Hindarilah olehmu berlaku dusta karena kedustaan menuntunmu kepada kejahatan, dan kejahatan menuntunmu ke neraka. Seseorang yang selalu berlaku dusta, dia tercatat di sisi Allah swt sebagai pendusta.” (H. R. Muslim).

Mari kita belajar meyakinkan, jujur itu hebat, jujur itu nikmat, jujur itu sehat, dan jujur itu membawa ketenangan hidup di dunia dan akhirat. Meskipun pada saat ini banyak jargon yang mengatakan, “orang jujur harus siap tersungkur, terkubur, hidup melarat dan sengsara”, yakinkanlah kesengsaraan dalam bingkai kehidupan yang jujur jauh lebih baik dan terhormat daripada kebahagiaan semu dalam bingkai kebohongan.

Memang nampak idealis, tapi harus menjadi prinsip hidup yang utama, “kesengsaraan dalam bingkai kejujuran merupakan “kesengsaraan yang membawa nikmat”. Kejujuran akan selalu melahirkan kebahagiaan dan ketenangan.

Ilustrasi :Jujur itu hebat (sumber gambar : republika.co.id)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Optimis Raih AIPT Unggul, Unismuh Gelar Rapat Evaluasi Persiapan Akreditasi

Image

Peduli Banjir Pati, Wadja Group Salurkan Bantuan Logistik

Image

Bantu Korban Gempa Cianjur, Mapala Umri Salurkan Bantuan Donasi dan Kirim Relawan

Image

Darurat Penggunaan Gadget pada Anak, Ibu Profesional Depok Ajak Orang Tua Melek Teknologi

Image

Kegiatan Ibadah Rohani Kristen Di Lapas Brebes

Image

Gelar Expo Program Wirausaha Merdeka, Unismuh Sukses Cetak Ribuan Enterpreneur Baru

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image