Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ghofiruddin Alfian

Gelanggang Para Pencipta

Sastra | Thursday, 25 Nov 2021, 14:11 WIB

Para pencipta telah kehilangan gelanggang di peradaban industri digital. Gelanggang mereka sekarang adalah di sebuah kesunyian, di sebuah kamar pengap berdebu yang terkadang para semut dan serangga hadir untuk menghardik kepongahan yang tersembunyi. Dan, bila mereka menyesat jauh lebih dalam, tempat mereka sesungguhnya hanyalah di dalam pikiran yang rentan, yang mudah dipengaruhi oleh kata-kata dan tindak-tanduk manis penghibur kesunyian.

Maka hiburan yang paling utama bagi mereka adalah buku-buku dengan tema yang beraneka, yang mampu merangsang pikiran dan perasaan untuk terus berkeliaran secara liar menjelajahi dunia manusia yang telah mendapatkan sentuhan estetika tiada tara. Terkadang juga, mereka mendengarkan dan menyimak musik-musik yang berkualitas maupun yang tidak berkualitas sekedar untuk mengaburkan pendengaran yang selalu ingin meloncat di antara beberapa kutub pemikiran yang saling bersinggungan.

Dan meskipun jarang, ada kalanya mereka menghabiskan waktu untuk menonton film, dan itu lebih sering dilakukan seorang diri dengan mengunduh beberapa film dari internet untuk diputar di komputer atau laptop. Dan televisi adalah pilihan yang terakhir, sebab di sana terlalu banyak pembodohan terencana yang hanya bisa ditampik jika seorang penonton juga melakukan kegiatan membaca di mana sikap kritis memperoleh tempat untuk menjadi penyaring atas pembiusan dan pembiasan realita.

Segala hiburan yang telah disebutkan di atas maupun yang tidak disebutkan akan menjadi sesuatu yang percuma bagi seorang pencipta jika tidak mampu menginspirasi mereka untuk berkarya. Dan sesungguhnya inspirasi karya seorang pencipta tidak sebatas dari sesuatu yang menghibur, namun juga yang sangat tidak menghibur, yang membuat pikiran serasa akan pecah atau dada terasa sesak merasakan derita kehidupan. Semuanya adalah suatu inspirasi nyata untuk diendapkan di dalam sebuah kekosongan yang berada, yaitu di dalam sebuah relung pikiran yang sakral, yang tidak kasat mata, dan senantiasa memiliki kebebasannya sendiri.

Inspirasi dibiarkan terlebih dahulu untuk merasuki alam bawah sadar, menyatu dengan aliran darah di dalam nadi dan seiring dengan pematangan menuju sebuah kesempurnaan –meskipun tidak akan ada yang benar-benar sempurna sebab selalu ada pertentangan yang terjadi di antara jiwa-jiwa yang berlomba− akhirnya ia akan dihembuskan kembali, diekspirasikan ke dalam sebuah karya yang otentik.

Dan, tentu saja sebuah karya yang paling otentik adalah sebuah karya yang ekspresinya benar-benar dari kedalaman diri, baik dari segi esensi maupun bentuk luarnya, sehingga orang-orang akan bertanya dan mungkin justru mempertanyakan tentang keberadaan sebuah karya tersebut. Tanggapan positif ataupun negatif tidak menjadi sebuah persoalan, sebab karya adalah urusan ekspresi diri, bukan bertujuan untuk membuat orang lain terkesan.

Jika sejak awal seseorang terjebak kepada sebuah tujuan untuk membuat orang lain terkesan, maka dunia akan terjebak kepada sebuah kebekuan yang membosankan, yang selalu diulang-ulang yang mungkin bertujuan untuk melanggengkan suatu kepicikan. Akhirnya orang yang seperti ini akan terlempar keluar dari gelanggang para pencipta, dan hanya menjadi seorang penghasil kerajinan untuk kebudayaan atau peradaban industri kapitalistik pemuja hawa nafsu, uang dan kepalsuan.

Tingkatan otentisitas berikutnya adalah jika hanya mengambil salah satu di antara dua pilihan, yaitu sebuah esensi baru yang menyegarkan namun dalam bentuk luar yang sudah menjadi pakem, atau kesegaran bentuk luar untuk menampilkan esensi yang sudah ada sehingga memiliki kesan yang tidak biasa. Namun, kemungkinan pertama rasa-rasanya sangat sulit untuk terealisasi di dalam kehidupan ini, sebab sebuah esensi yang benar-benar baru membutuhkan sebuah daya cipta yang luar biasa, mungkin bagaikan alam semesta yang tiba-tiba muncul dari kekosongan, ex nihilo.

Sedangkan, kemampuan manusia sendiri terlalu terbatas. Meskipun di setiap generasi batas itu selalu dilampaui sedikit demi sedikit untuk bertemu dengan sebuah batas baru di ujung cakrawala yang tanpa batas. Keterbatasan ciptaan manusia selalu membutuhkan bahan baku dari apa yang sudah tersedia sebelumnya. Bisa dikatakan kehebatan ciptaan manusia adalah sebatas inovasi, sehingga terlalu naïf jika seorang manusia menamakan dirinya kreator atau pencipta, meskipun sah-sah saja menggunakan kata itu untuk menunjukkan bahwa manusia adalah subyek yang mampu melakukan dan membuat sesuatu dan bukannya objek yang hanya bisa dikenai oleh sesuatu.

Setelah sebuah karya tercipta, karena kesendiriannya seorang manusia pencipta akan berusaha menampilkan karyanya untuk dinikmati para manusia. Sebagai manusia biasa, tentu harapannya adalah sebuah apresiasi positif yang mungkin akan memberikan sebuah keuntungan yang bersifat jiwa dan raga yang akan memberikan sebuah daya pendorong untuk mencipta yang lebih baik lagi.

Namun seorang pencipta harus mampu melampaui harapan itu sebab ada harapan yang bernilai jauh lebih besar, yaitu kebebasan; kebebasan untuk mencipta dan mencipta untuk kebebasan. Kebebasan untuk mencipta adalah sebuah usaha untuk melampaui segala batasan yang ada. Usaha melampaui sebuah batasan ini menyebabkan seorang pencipta adalah sesosok manusia yang tidak bisa dikenai sebuah larangan berdasarkan aturan tertentu. Dengan kata lain, dia sendirilah yang menetapkan aturan tentang apa yang ingin dia ciptakan. Begitu juga, dia tidak bisa diperintah untuk membuat karya dengan ciri-ciri tertentu yang tidak muncul secara arbitrer atau spontan di dalam benaknya.

Seorang pencipta bukanlah seorang yang menerima pesanan. Dia adalah seorang pengelana yang dibekali sebuah jiwa bebas untuk mengeksplorasi segenap keanggunan yang ada di alam semesta. Dia juga bukanlah bagian dari kelompok-kelompok manapun yang ada di dunia. Dia tidak mencipta untuk keluarga, dia tidak mencipta untuk masyarakat sosial tempatnya berada, dia tidak mencipta untuk Negara, dan bahkan dia tidak mencipta untuk dirinya sendiri. Segala kepentingan yang diperuntukkan itu telah melebur menjadi satu kesadaran; unitas manusia: sebuah kebebasan untuk menjalani hidup dengan memberi dan menerima cinta.

Ps: Mungkin sekali-sekali hasil karya mereka akan dipajang untuk dipertontonkan kepada orang-orang tidak tahu diri sehingga lebih memilih tidak berarti daripada harus berarti namun dengan dibeli. Harga diri mereka terlalu mahal hingga kemahalan itu sendiri tidak memiliki harga yang sesuai. Penawaran yang terlalu rendah masih sering juga membuat jiwa resah, namun penawaran yang tinggi ataupun terlalu tinggi juga sama saja. Keresahan yang disebabkan oleh penawaran yang tinggi disebabkan karena mereka yakin semua itu adalah sebuah sarana pengekangan terhadap kebebasan jiwa yang selalu ingin berkelana.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image