Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ade Sudaryat

Pesan Tersirat dan Tersurat Pasca Haji Akbar

Agama | Friday, 15 Jul 2022, 01:53 WIB

Gema lantunan talbiyah mulai meredup. Melepas kain ihram, menyelesaikan jamarat, dan tahalul merupakan rangkaian penanda khatamnya pelaksanaan rukun-rukun haji. Namun demikian, kondisi ini bukan merupakan akhir dari perjalanan ibadah haji. Sejatinya, para jamaah haji sedang memasuki gerbang kehidupan baru. Mereka harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai ibadah haji dalam kehidupan nyata.

Wukuf yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji tahun ini bertepatan dengan moment yang disebut haji akbar, bertepatan dengan hari Jum’at. Moment seperti ini hanya dialami satu kali dalam kehidupan Rasulullah saw yang juga merupakan haji perpisahan Rasulullah saw dengan umatnya (haji wada’). Beberapa bulan kemudian setelahnya, Rasulullah saw wafat.

Pada saat wukuf haji akbar tersebut Rasulullah saw menyampaikan khutbah secara komprehensif. Isi khutbahnya baik secara tersurat maupun tersirat menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam khutbahnya terdapat beberapa pesan spiritual/keimanan, sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan politik.

 

Dalam bidang keimanan, Rasulullah saw mengingatkan umatnya untuk senantiasa berpegang teguh kepada al Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Tidak mengikuti kehendak nafsu dan mengikuti bisikan syetan.

Dalam bidang sosial, ia berpesan agar setiap orang menjaga hak asasi manusia, selalu menjaga persaudaraan dan perdamaian, tidak boleh saling menzalimi satu sama lainnya. Seorang muslim dengan muslim lainya itu bersaudara.

Siapapun tidak boleh mengganggu perasaan orang lain, tidak boleh mengambil harta orang lain tanpa hak, juga tidak boleh membunuh seseorang tanpa hak, dan agar setiap orang saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran. Ia juga berwasiat agar umatnya menghormati hak-hak kaum wanita, mendidik, memperlakukan, dan menasihatinya secara baik.

Sementara dalam bidang ekonomi, ia berpesan agar kita tidak melaksanakan transaksi ekonomi secara riba, tidak mengambil keuntungan secara berlebihan, dan kita dituntut melakukan transaksi ekonomi berdasakan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, serta memperhatikan hukum halal dan haram. Ia juga berpesan agar setiap muslim memperlakukan setiap pekerja atau para pembantunya dengan baik.

Berkenaan hubungan dengan tenaga kerja, dalam pesannya, ia mengisyaratkannya dengan kata hamba sahaya. Ia berpesan agar setiap muslim memberikan hak-hak hamba sahaya baik berupa hak untuk mendapatkan makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya, serta larangan untuk menzalimi mereka.

Jika prinsip ini diperluas, setiap orang yang mempekerjakan seseorang, ia harus menunaikkan hak-hak pekerja yang berada di bawah kekuasaannya. Ia tidak boleh mengeksploitasi tenaga, kompetensi, dan pengetahuannya seraya mengebiri hak-haknya. Para pekerja harus diberi upah layak, sesuai dengan kesepakatan.

Masih dalam situasi wukuf di Padang Arafah, Rasulullah saw juga memberikan pesan politik agar setiap muslim mendengarkan dan mentaati pemimpin, sekalipun pemimpin tersebut berasal dari seorang hamba sayaha yang cacat. Hal ini merupakan isyarat, sekalipun orang yang menjadi pemimpin kita berasal dari keluarga yang lebih rendah derajatnya, kita tetap wajib mentaatinya, selama ia tidak melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya.

Dari seluruh rangkaian pesan haji wada’ Rasulullah saw tersebut, pesan terpenting yang harus kita garis bawahi adalah, “umatku tak akan tersesat, tak akan hina, dan pasti mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat, selama umatku berpegang teguh kepada kitabullah dan sunahku.” (Diadaptasi dari Fiqhu al Sirah Nabawiyah karya Muhammad Sa’id Ramadhan al Buthy, hal 328, Beirut- Libanon : Daaru al Fikr al Mu’ashirah)

Setiap tahun, selama bumi ini berputar, pesan Rasulullah saw ketika melaksanakan haji wada’ akan terus ada. Kita akan selalu membaca dan mendengarnya.

Satu hal yang terpenting, kita harus meyakini dan melaksanakan pesan Rasulullah saw tersebut, selain sebagai bukti ketaatan dan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, juga sebagai satu-satunya jalan untuk meraih kejayaan di dunia dan kemuliaan hidup di akhirat

Ilustrasi :Wukuf

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image