Menyelisik Inti Kesadaran Tertinggi Manusia

Image
Ghofiruddin Alfian
Sejarah | Thursday, 11 Nov 2021, 13:17 WIB
PixxlTeufel dari Pixabay" />
Gambar oleh PixxlTeufel dari Pixabay

Kesadaran merupakan suatu keadaan terbangun dari yang semula terpejam. Di kala terpejam pemandangan di sekeliling tidak akan terlihat. Begitu pun dengan suara-suara, ia tidak mungkin didengar oleh telinga. Bahkan dalam keadaan yang benar-benar terpejam, manusia tidak mampu untuk berpikir jernih dan mengoptimalkan perasaan yang merupakan perangkat utama manusia untuk menilai keadaan yang ada di dalam maupun di luar dirinya.

Kesadaran yang dimaksud di dalam tulisan ini bukanlah menyangkut soal terbangun dari sebuah keadaan yang bersifat fisik, seperti tidur atau pingsan. Kesadaran di sini adalah menyangkut tentang kesadaran sebagai sesungguh-sungguh manusia. Lalu, siapakah sesungguhnya manusia itu? Apakah ia hanya seonggok materi yang hanya membutuhkan materi dalam hidupnya? Dan pertanyaan yang paling penting adalah; untuk apa sebenarnya manusia itu diciptakan?

Banyak definisi yang telah dikemukakan oleh para pemikir tentang manusia. Ada yang mengatakan bahwa manusia itu adalah sebuah dzat atau materi yang memiliki sistem organ yang sangat kompleks dan segala tindak-tanduk yang melingkupi kesehariannya hanya ditentukan oleh sebab-akibat yang hanya bersifat material pula. Di sisi lain ada yang mengatakan bahwa manusia itu bukan sekedar materi. Ia adalah makhluk yang dikaruniai oleh akal-pikiran, juga hati perasaan yang dengannya manusia mampu mengembangkan kebudayaan, peradaban dan perdamaian yang sesungguhnya.

Definisi pertama sungguh tidak ada salahnya karena memang kenyataannya adalah seperti itu. Manusia adalah materi yang hidup di dunia materi pula sehingga segala sesuatunya bisa diukur dengan hanya materi. Dalam pengertian ini bisa dikatakan manusia berpikir dengan organ otak di mana segala sesuatu yang terpikir maupun dipikir itu selalu berkaitan dengan panca indera. Sedangkan panca indera sendiri jelas hanya mampu mencerap hal-hal yang bersifat materi.

Lalu perasaan dalam pengertian material, ia hanyalah sebuah emosi yang merupakan akibat dari ketercapaian atau ketidakmampuan untuk mendapatkan sebuah materi pula. Namun, jika memang seperti itu, mampukah manusia itu untuk mewujudkan sebuah kehidupan yang berkebudayaan dan berperadaban tinggi, sekaligus menciptakan kedamaian yang hakiki?

Kenyataannya adalah orang yang telah menancap di dalam dirinya ideologi materialisme, dengan kata lain ia hanya materi dan hanya membutuhkan materi, ia cenderung terombang-ambing dalam kehidupan. Ia sulit mendapatkan ketenangan atau kedamaian karena terlalu menganggap bahwa manusia lain, yang juga sebuah materi, adalah rival atau saingannya untuk mendapatkan materi dan materi. Ia tidak pernah menjadikan manusia yang lain sebagai kawan satu perjalanan untuk mengarungi manis-pahit kehidupan.

Manusia yang seperti ini jika ia seorang pria, ia hanya akan menganggap perempuan pasangannya sebagai salah satu sumber masalah yang bisa mengurangi kadar kuantitas materi yang ia miliki. Lebih jauh, orang seperti ini akan mudah dikendalikan oleh manusia lain yang lebih tinggi jabatannya dan lebih banyak hartanya. Manusia seperti ini hanya akan menjadi pengemis dan jika ideologi ini semakin menjamur, kebudayaan yang ada hanyalah sebagaimana hutan rimba di mana yang paling perkasa ialah yang akan mengendalikan dunia.

Keperkasaan untuk mengendalikan dunia tersebut tentu bukan sekedar keperkasaan fisik di mana seorang manusia memiliki kekuatan tubuh yang sangat luar biasa sehingga manusia lain dapat ditundukkannya. Keperkasaan tersebut sesungguhnya terletak pada kekuatan pikiran untuk memahami setiap gejala atau masalah dalam kehidupan dan menentukan tindakan yang tepat untuk menyelesaikannya.

Kekuatan pikiran itu juga dapat mempengaruhi manusia-manusia yang lain, jika disampaikan dengan bahasa yang tepat. Dengan demikian kebudayaan dan peradaban dapat lebih berkembang, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat manusia melampaui apa yang pernah ada dalam sejarah.

Hanya saja karena pikiran itu lebih dekat kepada materi, keperkasaan yang melekat padanya cenderung digunakan untuk menguasai atau bahkan menindas orang-orang yang berada di bawahnya. Dengan penguasaan materi yang berlebih dan disertai dengan keperkasaan pikiran tersebut, orang tertentu mampu mengendalikan tindak tanduk sikap manusia yang lain.

Berapa banyak itu telah terjadi dan sejarah penjajajahan di muka bumi adalah dikarenakan manusia tertentu memiliki dua hal tersebut. Pihak yang menjajah tentu tidak akan mau merelakan pihak yang dijajah untuk mengembangkan visi kemanusiaannya sendiri karena akan mengakibatkan sebuah arus kesadaran tentang sebuah kemerdekaan. Pihak yang dijajah harus tetap dididik agar tetap dalam kebodohan. Mereka harus mendapatkan asupan di dalam pikiran mereka bahwa yang terpenting di dalam kehidupan dunia ini adalah materi, materi dan materi.

Jika sudah demikian, pihak yang menjajah hanya tinggal melempar umpan, tanpa harus ikut berkecipak dalam riuhnya air, dan ikan-ikan yang dijajah akan saling berebut, saling sikut, baku hantam dan mengobarkan peperangan dengan berjuta alasan yang disambut dengan tertawa riang oleh para penjajah yang tidak terlihat oleh mata telanjang.

Pertanyaannya, adakah kedamaian dari kehidupan atau peradaban yang demikian? Kita bisa mengatakan bahwa ketika tuntutan material manusia terpenuhi, ia akan merasa senang dan puas. Misal, kita lapar, makan, lalu kenyang, kita merasa puas. Kita senang ketika memiliki kendaraan baru, pakaian baru, rumah baru dan segala hal yang memiliki identitas terbarukan atau kekinian. Bahkan seorang pria akan sangat puas jika berhasil menaklukkan perempuan-perempuan baru yang ia temui. Hal ini juga berlaku sebaliknya, ketika saat ini juga banyak perempuan yang senang menggoda pria demi sebuah pengalaman baru.

Tapi sampai kapan kita bisa betah dengan gaya hidup yang demikian? Apakah harus menjadi tua renta dan bangka, ketika nafsu dan gairah sudah terkulai lemas dan tidak berdaya lagi menghadapi serangan-serangan keduniawian yang selalu terbarukan dan akhirnya hanya akan menindas perasaan? Atau dengan kata lain, selama kita masih muda, mari kita saling sikat dan saling sikut untuk meraih apapun yang kita impikan. Apakah sekarang itu, manusia telah begitu kehilangan hati nurani dan perasaannya untuk mengasihani sesamanya?

Dan di sinilah letak kesadaran sesungguhnya dari inti kemanusiaan di mana tubuh atau materi, pikiran dan perasaan saling mengisi satu sama lain untuk menciptakan sebuah kebudayaan bersama atau peradaban yang dipenuhi dengan ketentraman dan kedamaian yang hakiki. Manusia semestinya menyadari bahwa ia adalah materi yang memiliki kerentanan sehingga ia harus diberikan asupan sekedar yang dibutuhkan untuk melanjutkan kehidupan, sebab jika ia terlalu dimanjakan secara berlebihan ia akan merongrong rasa kemanusiaan itu sendiri, menimbulkan sikap egois yang hanya mementingkan diri sendiri.

Sedangkan pikiran yang merupakan kekuatan utama manusia untuk memecahkan setiap permasalahan hidup serta untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban harus senantiasa diasah. Manusia harus selalu belajar dalam hidupnya, terutama belajar untuk berani mengambil tindakan yang beresiko sekalipun jika mendapati ketimpangan atau penindasan di depan mata. Kita tidak boleh hanya menggunakan pikiran itu sekedar hanya dalam batas wacana pikiran maupun lisan. Pikiran itu harus digunakan untuk menyingkap segala celah yang terdapat dalam sistem yang katakanlah tidak benar untuk selanjutnya melakukan sebuah tindakan yang tepat untuk mewujudkan sebuah perubahan menuju ke arah yang lebih baik.

Lalu perasaan yang memunculkan simpati di dalam diri manusia harus selalu menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan sebuah keputusan. Tentu hal ini bertujuan supaya diri manusia ini tidak berubah menjadi sesosok monster yang doyan makan daging sesamanya. Perasaan ini bisa menjadi rem bagi kita tatkala kita terlalu jauh meninggalkan sosok manusia-manusia tidak beruntung yang membutuhkan uluran tangan kita. Kita harus menunggu mereka, atau sekalian menjemput mereka dengan memberikan pemberdayaan-pemberdayaan yang berguna bagi kehidupan mereka.

Jika manusia-manusia yang dianggap atau merasa unggul itu menyadari inti kemanusiaan tersebut tentu akan mudah tercipta sebuah rasa persatuan di dalam diri manusia-manusia yang lain karena manusia-manusia lain yang tidak sedang beruntung merasa dihargai. Dengan persatuan tersebut tentu akan merangsang manusia itu mengambil setiap hikmah dan kebijaksanaan yang selalu menyertai mereka dalam kehidupan. Hikmah dan kebijaksanaan yang telah melekat dalam segenap sanubari manusia sebagai rakyat itu tentu akan mengarahkan kepada kondisi terwujudnya keadilan sosial, tanpa penjajahan dan penindasan. Jika sudah demikian, maka umat manusia ini akan berada di dalam peradaban tertinggi yang belum pernah ada di dalam sejarah dengan kebudayaan-kebudayaannya yang juga bersifat adiluhung serta memberi rasa tenteram dan damai yang sesungguhnya.

Q: Lantas, di manakah letak ketuhanan?

A: Ketuhanan itu berada di relung hati yang terdalam. Ia terpatri sempurna jika diwujudkan dalam tindakan nyata yang mencerminkan manusia dengan kemanusiaannya. Bukan cuma omong kosong dan slogan belaka. Bukan cuma formalitas keagamaan tanpa memedulikan sesama. Ketuhanan merupakan kesadaran tertinggi manusia.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI GENERASI MILENIAL

Image

Mahasiswa PMM-UMM Membantu Pendidikan di TPQ Baitussalam Dusun Jetis, Desa Mulyoagung

Image

Hukum Kontrak dalam Muamalah Islam

Image

Elvano Snack Sediakan Cemilan Sehat dan Buka Lapangan Kerja

Image

Peluncuran E-Book, 'Berbeda, Berdialog dan Berjuang Bersama'

Image

Pengembangan metode bank syariah sebagai solusi utama pencegahan adanya riba dalam pelaksanaan kegia

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image