Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image niqi carrera

Kapankah Penghinaan Nabi saw Akan Berakhir?

Agama | Monday, 20 Jun 2022, 14:39 WIB

India menjadi salah satu negara yang dicintai oleh warga Indonesia. Sedari pagi ibu-ibu rela duduk manis di depan televisi untuk menonton drama India favoritnya. Sampai menjelang petang, channel televisi itupun tak berubah, hanya berganti judul drama. Tetapi tetap sama, serial Bollywood. Kesukaan pada India tak sampai disitu, nama bayi-bayi yang baru lahir juga terdengar serupa lakon kesayangan tontonan India.

sumber: republika.co.id

Tetapi rasa senang itu seketika menjadi benci. Muslim seluruh dunia betul-betul geram dengan India. Bahkan negara-negara Arab kompak memboikot produk India. Perasaan kaum muslimin seluruh dunia terluka akibat ulah seorang juru bicara partai Bharatiya Janata bernama Nupur Sharma yang menghina Nabi Muhammad saw. Ketika Sharma masih menjadi sorotan, seorang ulama di Inggris, Qari Asim, dipecat dari jabatannya sebagai penasihat pemerintah Inggris karena dituding mendukung gelombang aksi protes terhadap film mengenai putri Nabi Muhammad, The Lady of Heaven. Akankah kita diam dengan semua penghinaan ini?

***

Islamofobia tidak mengacu pada gangguan psikologi klinis, namun lebih berkonotasi pada emosi dan sikap negatif yang diacungkan kepada Islam dan komunitas muslim. Istilah tersebut kini menjadi sebuah manuver linguistik yang mematikan. Siapa pun yang terkena “racun” islamofobia akan berubah menjadi sosok yang berbahaya. Apalagi jika islamofobia ini menjangkiti tidak hanya individu, tetapi sudah merambah pada komunitas bahkan negara. Maka dampaknya akan makin dahsyat.

Sebagai contoh individu yang tersihir islamofobia, bisa dilihat kembali pada peristiwa keji yang terjadi di Selandia Baru pada April 2021 di mana Brenton Harrison Tarrant menembaki kaum muslim yang sedang solat Jumat. Untuk level negara, fakta Rohingya tahun 2017 silam menjadi contoh yang tepat. Pada saat itu kepolisian dan angkatan bersenjata melakukan kekerasan terhadap muslim Rohingya sampai menewaskan ratusan ribu orang.

Laporan Runnymede Trust (sebuah lembaga penelitian yang berbasis di Inggris) pada 1997 berisi beragam perspektif tentang islamofobia. Antara lain menggambarkan fenomena tersebut sebagai kebencian atau sikap permusuhan yang tidak berdasar terhadap Islam. Sentimen tersebut berujung pada perilaku diskriminatif terhdap individu dan komunitas muslim. Seperti mengabaikan peran umat Islam dalam masalah politk dan ekonomi sebuah negara.

Jika ditelaah lebih dalam, akar islamofobia ada pada sejarah perseteruan antara Islam dan Nasrani. Puncaknya ada pada peristiwa perang salib yang berlangsung lebih dari dua abad (antara 1095-1291 M). Islamofobia yang terjadi hari ini sesungguhnya merupakan bentuk dari perang salib era modern. Parahnya, tidak hanya menjangkiti kaum Nasrani namun juga non muslim lainnya.

Secara internasional, penguatan arus islamofobia terjadi setelah peristiwa 9/11. Sejak itu ada seruan Amerika Serikat untuk melakukan perang melawan terorisme secara global. Muncul istilah “stick and carrot”. Umat Islam mulai dilabeli sebagai kelompok teroris. Islam pun dicitrakan sebagai agama yang mengajarkan terorisme. Di Indonesia sendiri, manuver islamofobia muncul pasca terjadinya ledakan bom Bali pada tahun 2002.

Dalam sistem kapitalisme, dimana semua hal atau benda yang menguntungkan secara ekonomi maka akan terus diproduksi, di blow up dan dimainkan seperti mesin pencetak uang. Begitu pula dengan islamofobia ini. Narasi islamofobia di negara Barat seperti Amerika Serikat sudah dikembangkan menjadi sebuah industri.

Nathan Lean mengungkapkan dalam bukunya “The Islamophobia Industry” bahwa ketakutan dan prasangka Barat terhadap Islam adalah sesuatu yang menarik untuk diperdagangkan. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa biaya promosi industri islamofobia di media mainstream, media cetak, media daring dan media sosial pada kurun waktu 2003-2013 mencapai Rp 28 triliun.

***

Ketika islamofobia sudah didukung oleh negara adidaya, bahkan dijadikan sebagai komoditas industri maka akan sulit untuk mengatasinya. Islamofobia bisa jadi mustahil hilang dari muka bumi. Yang bisa dilakukan adalah mengatasi dampak islamofobia pada kaum muslimin, terutama pada negeri-negeri dimana muslim menjadi kaum minoritas.

Maka disini jelas butuh kekuatan besar level negara agar kaum muslimin yang terkena dampak islamofobia bisa terlindungi sekaligus islam kembali disegani sebagaimana masa Rasululullah saw dan masa kejayaan Islam. Ketika Islam disegani dunia, maka penghinaan terhadap Nabi saw juga akan otomatis berakhir dengan sendirinya. Wallahu a'lam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image