Menangisi Kehilangan, Ihwal Manusia yang Posesif

Image
saman saefudin
Curhat | Thursday, 21 Oct 2021, 17:38 WIB
Sumber gambar: https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/-_140407144223-611.jpg

Juli 2001. Sesaat setelah Bapak menghembuskan nafas terakhir, Ibu langsung memegang kedua pundaknya, memnggoyang-goyangkannya seolah tak percaya. “Pak, Bapak, bangun. Bapak jangan pergi dulu,” katanya sambil mbrebes mili. Selang beberapa menit, adikku yang bungsu langsung menangis dengan keras, nyaris histeris. Entah kenapa, aku yang sebetulnya juga diliputi kesedihan yang sama, memilih marah dan memarahi adikku. “Jangan cengeng, jangan ratapi kepergian Bapak, nggak boleh!,” kataku.

Apakah manusia memang berwatak posesif? Makhluk yang mudah terjebak dalam hasrat kepemilikan. Atau dalam Bahasa Erich Fromm, modus eksistensialnya melulu to have, bukan to be. Bukankah rasa memiliki pula yang menjadikan kita takut kehilangan atas apa yang kita miliki? Karena “milik” pula, kehilangan bisa menjelma sakit.

Saat orang yang kamu cintai pergi, yang kamu rasakan adalah kehilangan. Begitu dalamnya rasa kehilanganmu, sampai-sampai kamu selalu butuh waktu cukup lama untuk bisa mendamaikan hatimu. Berdamai dengan kenyataan bahwa dia telah meninggalkanmu. Sebagian kita mungkin akan kesulitan menerima kenyataan. Kau ingin selekasnya move on karena begitu pahitnya kenyataan, tetapi pada jeda waktu yang sama sebetulnya kamu memelihara hatimu yang belum bisa menerima kenyataan. Agh, andai saja aku..., kalau saja dia dan sekawannya kita sirami telaten dengan air kenangan.

Lantas, apa yang sebetulnya kita tangisi; kepergiannya atau kehilanganmu? Sakit itu karena dia yang baru saja ada, kini tiada. Hilang. Karena sebelumnya dia adalah milikmu. Lantas, hati menanggung sakit karena kehilangan. Respon biologisnya adalah tumpahan air mata, menangis setiap kali mengenangnya.

Anehkah kita, kaum manusia? Bukankah sebelumnya hidupmu juga sendiri, tanpa kekasih. Dan mungkin saat itu kehidupan juga berjalan fine-fine saja. Lalu dia masuk dalam duniamu, kau labeli sebagai milikmu. Ketika ia pergi, kau sakit karena kehilangan, kesulitan menyadari bahwa sebelumnya kamu juga sendiri. Manusia menjadi terasing dengan cinta yang ia buat sendiri. Ini seperti tangga dan eskalator. Dulu pekerja kantoran mungkin terbiasa naik turun tangga hingga lantai 5, lalu segalanya menjadi mudah setelah ada fasilitas eskalator. Tetapi apa jadinya ketika escalator, entah error system atau linstrik dan genset mati, mendadak semua mengeluh ketika harus kembali naik turun tangga.

Apa bedanya dengan cinta. Konsep cinta menjadi bermakna menyandera, tidak membebaskan. Itu semua karena modus to have tadi. Menurut Fromm, idealnya cinta adalah perkara mencintai (to have), sehingga kita hanya fokus bagaimana mencintai. Tetapi manusia modern yang posesif (materilistis) mereduksi cinta sebagai perkara dicintai (be loved). Bukanlah cinta kalau bertepuk sebelah tangan, orientasinya hanya bagaimana kita dicintai. Cinta menjadi lebih transaksional.

***

September 2001. Kami telah berbaris rapih di pelataran dalam kampus yang luas. Beberapa senior mulai berorasi, menjejali kami dengan ini dan itu. Inilah identitas kita sebagai mahasiswa Fisip. Tiba-tiba imajinasiku melayang, sketsta wajah Bapak begitu jelas hadir di kepalaku. Lantas, sementara mahasiswa baru yang lain tengah merunduk serius menerima wejangan, aku menangis sesenggukan, menghayati kenangan tentang Bapak.

“Bapak, anakmu akhirnya bisa kuliah. Aku kangen Bapak” []

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Seorang pembelajar, saat ini menjadi redaktur di sebuah media lokal di Kota Pekalongan

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Khikman Faqih, Imam Idaqu di Negeri Ginseng

Image

Model ASSURE dalam Mengembangkan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Image

Keunggulan Fitur FF Mod Versi Terupdate

Image

Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Image

Keuntungan Menggunakan Aplikasi Pemutar Lagu Spotifify Premium Mod

Image

Game Legendaris GTA SA Versi Lite yang Sangat Ringan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image