Secara Wahyu, Fakta, dan Hitungan Angka, Akhlak Nabi Saw itu Al-Quran (Bag. 1)

Image
Ade Sudaryat
Agama | Thursday, 16 Jun 2022, 16:21 WIB

Salah satu tugas yang diemban Nabi Muhammad Saw adalah memperbaiki akhlak umat. Pada saat ia diutus akhlak masyarakat Makkah pada waktu itu berada dalam pusaran budaya jahiliyah yang barbar. Kehidupan mereka berdasarkan tradisi nenek moyang mereka yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketentuan Allah.

Mereka tidak memiliki sosok yang patut diteladani. Hampir 500 tahun sejak Nabi Isa a.s. diangkat ke langit tak ada seorang pun yang mendapatkan wahyu, yang berarti selama itu pula tak ada seorang nabi pun yang diutus ke muka bumi.

Tidaklah mengherankan jika pengangkatan Muhammad bin Abdullah menjadi nabi akhir zaman mendapat tantangan dan penolakan besar-besaran dari penduduk Makkah pada waktu itu. Terlebih-lebih ketika mereka mengetahui bahwa salah satu tugas yang diembannya adalah memperbaiki ketauhidan akhlak penduduk Makkah.

Namun demikian, secara sosial budaya penduduk Makkah merasa terpukau dengan kemuliaan akhlak Rasulullah saw, malahan jauh sebelum ia diangkat menjadi seorang nabi. Gelar “Al Amin”, orang jujur atau orang terpercaya, merupakan gelar yang belum pernah diberikan penduduk Makkah kepada siapapun selain kepada Muhammad bin Abdullah.

Kepercayaan secara sosial budaya terhadap kemuliaan akhlak Muhammad bin Abdullah terus berlangsung sampai ketika ia diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul. Sekalipun mereka menolak kenabian dan ajakan untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka masih mempercayai kejujuran Rasulullah saw. Mereka sering menitipkan uang dan barang di rumah Rasulullah saw, karena apapun yang dititipkan kepadanya tidak akan berkurang, apalagi hilang.

Karenanya, tidaklah mengherankan ketika Rasulullah saw diperintahkan untuk hijrah dari Makkah ke Madinah selain ia sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke Madinah, ia pun sibuk mengembalikan barang dan uang titipan yang kebanyakan pemiliknya adalah orang-orang yang tidak mau mengikuti ajarannya.

Singkatnya, kemuliaan akhlak Rasulullah saw menjadi daya tarik dalam melaksanakan dakwah. Secara wahyu, kemuliaan akhlak Rasulullah saw merupakan design khusus dari Allah agar ia benar-benar menjadi teladan ketika meyampaikan wahyu Allah swt. Wahyu atau perintah dari Allah langsung melekat dan dipraktekkan Rasulullah saw dalam kehidupan nyata.

Perintah apapun yang Allah wahyukan, ia merupakan orang pertama yang melaksanakannya. Sekalipun terasa berat, semua perintah Allah ia laksanakan. Dengan kata lain, Al Qur’an 30 juz yang sering kita baca pada saat ini merupakan kumpulan wahyu Allah kepada Rasulullah saw yang juga merupakan akhlak kehidupannya.

Dengan kata lain, akhlak Rasulullah saw dalam kehidupan nyata merupakan tafsir atas ayat-ayat Al Qur’an yang ia terima dari Allah. Apapun yang ia lakukan dalam kehidupan nyata senantiasa bersandar kepada wahyu Allah, terutama Al Qur’an. Sangat mustahil jika akhlak Rasulullah saw bertentangan dengan Al Qur’an.

Dengan kata lain bisa ditamsilkan, seorang dokter harus dalam keadaan sehat jika akan mendiagnosa penyakit dan mengobati pasiennya. Tidak mungkin seorang dokter akan dipercaya pasien untuk mendiagnosa suatu penyakit sementara dirinya sendiri tengah sakit, apalagi jika sakitnya parah.

Demikian pula dengan Rasulullah saw. Ia diberi mandat untuk menyembuhkan “penyakit kejahiliyahan” masyarakat Arab pada waktu itu, terutama penyakit bejadnya keimanan dan akhlak masyarakat. Karenanya, bekal utama yang harus Rasulullah saw miliki selain tauhid, juga kemuliaan akhlak.

Ia harus menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Tanpa keteladanan dan contoh yang dilakukan dalam kehidupan nyata, orang-orang di sekitarnya akan sulit menerima dan mengikuti segala ucapan, titah, dan perintahnya.

Pada bulan Dzulqa’dah, enam tahun setelah hijrah, Rasulullah saw bersama sekitar seribuan lebih umat Islam bermaksud melaksanakan ibadah umrah dan haji. Mereka berangkat dari Madinah menuju Makkah tanpa berniat apapun kecuali niat melakukan ibadah umrah dan haji. Namun sesampainya di Hudaibiyah, maksud Rasulullah saw beserta umat Islam pada waktu itu terhalang keputusan kaum kafir Makkah yang melarang Rasulullah saw berserta para sahabat memasuki kota Makkah.

Musyawarah pun dilakukan. Meskipun berjalan alot, musyawarah ini menghasilkan suatu kesepakatan dan perjanjian damai, yang kemudian dikenal dengan sebutan perjanjian Hudaibiyah. Salah satu isi dari perjanjian ini adalah Rasulullah saw dan para sahabat tidak boleh masuk kota Makkah untuk menunaikkan umrah dan haji pada tahun tersebut.

Meskipun umrah dan haji urung dilaksanakan, Rasulullah saw memerintahkan para sahabat untuk melakukan tahalul (mencukur rambut) dan menyembelih hewan qurban. Karena merasa belum melaksanakan ihram umrah dan haji, tak seorang sahabat pun yang memenuhi perintah Rasulullah saw tersebut.

“Bangkitlah kalian, sembelihlah hewan qurban kalian, lalu pangkaslah rambut kalian.” Rasulullah saw mengulangi perintah tersebut sampai tiga kali. Tetapi semua orang yang hadir di situ, tetap diam, tidak ada seorang pun dari mereka yang bangkit melaksanakan perintah Rasulullah saw tersebut.

Kemudian Rasulullah saw meninggalkan mereka, menemui istrinya, Ummu Salamah r.a. yang berada di dalam tenda dan menceritakan perilaku para sahabatnya. Mendengar ujaran Rasulullah saw tersebut, Ummu Salamah r.a, mengusulkan kepada Rasulullah saw agar ia tak berkata sepatah katapun dan melaksanakan tahalul dan menyembelih hewan qurban di hadapan para sahabat.

Rasulullah saw mengikuti saran istrinya. Ia keluar dan sama sekali tidak mengatakan apapun juga kepada para sahabat, ia langsung menyembelih hewan qurban. Kemudian ia memanggil juru pangkas untuk memangkas rambutnya. Benar saja! Setelah Rasulullah saw melakukannya, tanpa diperintah, para sahabat melakukan seperti apa yang dilakukan Rasulullah saw (Muhammad Sa’id Ramadhan al Buthy, Fiqih Sirah Nabawiyah, hal. 233, Penerbit : Daar el Fikr, Libanon - Beirut).

Inilah bukti keteladanan akhlak yang diperlihatkan Rasulullah saw di hadapan para sahabat. Kemuliaan akhlak yang ia sabdakan bukan hanya sebatas kata-kata, ayat-ayat Al Qur’an yang ia terima bukan sebatas menjadi hafalan pengetahuan, namun benar-benar dijadikan pedoman dan diimplementasikan dalam kehidupan. Tidaklah mengherankan jika dakwah Rasulullah saw meraih keberhasilan (bersambung).

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Layanan Paspor Hari Sabtu Edisi Unit Layanan Paspor

Image

Telah Memenuhi Syarat, Tiga Narapidana Rutan Jepara Mendapat Asimilasi

Image

Lapas Brebes Ikuti Pengarahan dari Kakanwil dan Kadivpas Kemenkumham Jateng Melalui Zoom

Image

Kalapas Batang Ikuti Kursus Orientasi Sedang Pramuka

Image

Tingkatkan Kedisiplinan CPNS Lapas Brebes Melaksanakan Apel Malam

Image

Etika Jurnalistik: Pelanggaran Privasi

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image