Menakar Efektifitas Strategi Pembelajaran Blended Learning di Era Pertemuan Tatap Muka Terbatas (PTM

Image
Citra Kurniawan
Guru Menulis | Saturday, 09 Oct 2021, 21:55 WIB
https://img.freepik.com/free-vector/back-school-new-normal-lifestyle-concept-kids-wearing-face-mask-social-distancing-protect-coronavirus-covid-19-isolated-white-background_83111-1210.jpg?size=626&ext=jpg" />
Sumber Gambar: https://img.freepik.com/free-vector/back-school-new-normal-lifestyle-concept-kids-wearing-face-mask-social-distancing-protect-coronavirus-covid-19-isolated-white-background_83111-1210.jpg?size=626&ext=jpg

Pertemuan Tatap Muka Terbatas (PTMT) beberapa pekan ini di hampir seluruh wilayah Indonesia memberikan pengalaman baru bagi pengajar dan peserta didik. Adanya kombinasi dari antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online memberikan konsekuensi kesiapan terhadap dua mode tersebut. Pembelajaran tatap muka. Di sisi lain, peserta didik telah terbiasa dengan pembelajaran online selama pembatasan aktivitas sehingga peserta didik kadang memiliki efikasi diri yang rendah untuk belajar dalam kelas fisik. Sebagian peserta didik lain mempunyai efikasi diri yang tinggi, ditunjukkan dengan antusiasme mereka untuk menyambut PTMT. Hal ini dikarenakan peserta didik terbiasa dengan fleksibilitas pembelajaran online sehingga saat PTMT mulai berjalan, sebagian peserta didik merasa enggan untuk hadir dalam kelas fisik. Namun, kondisi peralihan suasana belajar dari pembelajaran online menjadi PTMT menjadi tantangan bagi pengajar untuk dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat.

Blended learning adalah salah satu strategi pembelajaran yang dapat dipertimbangkan untuk dipilih pada era PTMT. Kemampuan blended learning untuk menyediakan pilihan kepada peserta didik pada dua mode yaitu (1) mode pembelajaran sikron tatap muka; dan (2) mode pembelajaran sikron dan asinkron dengan pembelajaran online. Hrastinski (2019), pada sebuah artikel yang diterbitkan oleh jurnal TechTrends , memberikan sebuah kajian bahwa blended learning digunakan untuk menggambarkan pembelajaran campuran seperti menggabungkan metode pembelajaran yang berbeda, pembelajaran dengan pendekatan pedagogi dan teknologi. Pada pendekatan yang lain, Watson (2008) memberikan gambaran bahwa blended learning merupakan segmen utama dari kontinum terhadap pengaturan mode tatap muka apakah sepenuhnya online ataupun konvensional.

Peluang Blended Learning

Peluang blended learning untuk memberikan penguatan proses pembelajaran memberikan kesempatan pengajar untuk meningkatkan kreatifitas mengajar. Implementasi blended learning dalam kelas menurut Graham et al. (2013) berusaha untuk meninggalkan kekurangan dari metode pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online, dan kemudian menggabungkan keunggulan keduanya (pembelajaran tatap muka dan online) pada proses pembelajaran online. Sebagai contohnya adalah seorang pengajar menggunakan pembelajaran tatap muka sebagai proses untuk memberikan pemahaman terhadap topik pembelajaran tententu, sedangkan untuk penguatan pembelajaran dan repetisi materi menggunakan pembelajaran online. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena dengan pembelajaran tatap muka, seorang pengajar tak hanya dapat menyampaikan informasi dan pengetahuan secara langsung tetapi juga pengajar dapat menyampaikan “rasa” melalui seni mengajar. Tentu saja penyampaian “rasa” ini tak bisa dengan mudah tersampaikan jika menggunakan pembelajaran online. Jarak yang jauh dan ruang yang berbeda saat menggunakan pembelajaran onlie membuat penyampaian “rasa” terasa berat.

Saatnya sebuah takaran terhadap efektifitas pembelajaran perlu untuk dibahas. PTMT dapat dikatakan sebuah strategi pembelajaran tatap muka versi new normal, dimana pembelajaran dilakukan dalam kelas fisik dengan tetap memperhatikan protocol Kesehatan COVID-19. Meskipun pembelajaran tatap muka boleh untuk diselenggarakan tetapi tetap ada keterbatasan dalam penyelenggaraannya. Keterbatasan pada penyelenggaraan PTMT antara lain durasi pembelajaran yang terbatas. Penyampaian informasi dan materi pembelajaran dalam kelas fisik yang dibatasi durasi waktu menimbulkan kekhawatiran bagi pengajar tentang kualitas ketersampaian materi pembelajaran dan pencapaian luaran pembelajaran.

Selain itu, munculnya potensi terjadinya “loss learning” pada proses pembelajaran menjadi tantangan untuk pengajar meminimalisir hal tersebut. Implementasi blended learning dalam proses pembelajaran diyakini menjadi solusi terhadap kendala dalam PTMT. Efektifitas penerapan blended learning dapat diukur dari sejauhmana kendala – kendala dalam proses pembelajaran selama PTMT berlangsung dapat terselesaikan. Langkah awal pada untuk mengoptimalisasi proses PTMT adalah mengenali awal terkait kendala pelaksanaan PTMT yang dapat menjadi indikator penentu keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.

Tantangan Pertemuan Tatap Muka Terbatas (PTMT)

Dalam pembahasan kali ini mungkin lebih tepat jika kita mengubah “kendala” dengan “tantangan” pembelajaran. Tantangan yang pertama, pelaksanan PTMT menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat sehingga prinsip dalam penerapan physical distancing sangat diperhatikan. Tantangan kedua, terkait dengan durasi waktu yang terbatas dalam proses pembelajaran di sekolah. Tantangan ketiga, penyampaian materi pembelajaran terbatas dalam beberapa pertemuan atau frekuensi mengajar yang sedikit. Tantangan keempat, adaptasi terhadap pengalaman baru saat melaksanakan PTMT baik bagi pengajar maupun peserta didik.

Keempat tantangan tersebut perlu untuk diselesaikan sehingga dapat mempermudah pencapaian tujuan dan keefektifan dalam proses pembelajaran. Pembahasan kali ini menggunakan strategi pembelajaran blended learning sebagai cara untuk mengoptimalkan proses pembelajaran berdasarkan empat tantangan tersebut. Penerapan physical distancing saat pelaksanaan PTMT tentu saja merupakan hal yang berbeda jika dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka biasa. Saat pelaksanaan PTMT berlangsung maka pengaturan waktu belajar diberikan, sebagai contohnya adalah peserta didik dengan nomor presensi ganjil dan nomor presensi genap diatur dengan jadwal terpisah. Pengaturan jadwal secara terpisah dimaksud untuk memberikan ruang lebih dalam kelas sehingga physical distancing dapat diterapkan. Sistem masuk kelas bergantian tentu saja memberikan potensi ketidaksamaan kualitas dan kuantitas penyampaian materi pembelajaran. Dengan menggunakan blended learning, pembelajaran dapat diberikan penguatan materi secara online mode asinkron dengan menggunakan video pembelajaran. Penguatan materi secara online dengan mode asinkron memungkinkan pengajar untuk memberikan penguatan dan repetisi materi pembelajaran yang sebelumnya terdapat kekurangan baik kualitas dan kuantitas saat mengajarkan di kelas fisik.

Durasi waktu dalam pembelajaran selama PTMT tentu saja terbatas dan hal ini menjadi tantangan kedua pada kajian ini. Durasi yang terbatas saat PTMT dapat berdampak kepada penyampaian materi pembelajaran yang seringkali dilakukan terburu-buru. Saat proses PTMT berlangsung, pengajar cenderung akan dikejar-kejar dengan durasi yang ditentukan, dan berpotensi menyebabkan sebagian materi tidak tersampaikan atau tidak maksimal. Implementasi blended learning memungkinkan untuk memberikan waktu yang tidak terbatas dalam penyampaian mater pembelajaran. Materi yang disajikan dalam pembelajaran online mode asinkron memungkin untuk dapat diakses dimana saja dan kapan saja tanpa ada batasan. Peluang ini yang memungkinkan blended learning dapat memenuhi kebutuhan peserta didik selama PTMT.

Tantangan ketiga lebih menekankan tentang keterbatasan frekuensi mengajar. Keterbatasan frekuensi mengajar ini terjadi karena adanya pembatasan frekuensi mengajar dalam periode 1 minggu. Kondisi ini terkadang memberikan tantangan kepada pengajar seperti mereka harus dapat menyelesaikan dan menyampaikan materi pembelajaran dengan frekuensi terbatas. Pengajar memanfaatkan media pembelajaran online baik secara sikron maupun asinkron untuk memberikan penguatan pembelajaran. Yang dimaksud dengan pembelajaran online singkron adalah pengajar mengkombinasikan PTMT dengan pembelajaran menggunakan aplikasi video meeting seperti zoom, gmeet, Microsoft Teams, skype dan aplikasi yang lainnya. Selain itu pembelajaran asinkron juga diberikan dalam bentuk rekaman video, materi digital seperti modul digital. Hal tersebut memungkinkan sekali bagi blended learning untuk membantu mengoptimalkan proses PTMT.

Sedangkan tantangan keempat adalah proses adaptasi terhadap pengalaman baru. PTMT tentu saja menjadi pengalaman yang baru bagi peserta didik yang sebelumnya menjalani pembelajaran mulai awal pandemic COVID-19. Pembelajaran online yang diterapkan sebelum memberikan daya tarik berupa fleksibilitas waktu belajar dan tentu saja ini akan menjadi tantangan bagi peserta didik jika ditawarkan untuk belajar di kelas fisik kembali. Namun pengalamman itu seharusnya tidak perlu untuk dirisaukan karena dengan blended learning memberikan sebuah tawaran menarik yaitu peserta didik memungkinkan untuk tetap bisa belajar secara online seiring dengan pelaksaan PTMT. Pengalaman selama proses pembelajaran online sebelumnya bahkan dapat membantu peserta didik untuk belajar dengan baik dalam PTMT.

Akhirnya, pembelajaran yang dilakukan saat ini (PTMT) bertujuan untuk menjaminkan keberlangsungan proses pembelajaran dengan kembali ke lingkungan sekolah masing-masing, dengan upaya untuk memberikan pengalaman baru kepada peserta didik. Pelaksanaan PTMT tentu saja terdapat keunggulan dan kekurangannya tetapi yang terpenting adalah bagaimana sebuah strategi pembelajaran dapat membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran dengan mudah.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Ruang Lingkup Morfologi

Image

Pengaruh k-pop terhadap remaja

Image

Prodi Hukum Bisinis Unismuh Makassar Siap Gelar Kuliah Perdana Awal Desember

Image

Video Kreatif Keren Tanpa Asap Rokok Lapas Perempuan Palembang Juara 1 pada HUT Yayasan Jantung Seha

Image

Apa sih itu Kebidanan? Apakah Bidan Berperan dalam Komsel kepada Pasien

Image

Bersama AFKSI, FK UMP Gelar Webinar Penanganan Stunting

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image