Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dann

3 Prinsip Paling Asik Mengajar Saat Pandemi

Guru Menulis | Saturday, 02 Oct 2021, 11:00 WIB
Gambar 1. Saya mengajar Tahsin Al-Quran via G-Meet

Pandemi adalah mimpi buruk bagi semua sektor dimanapun dan kapanpun. Sejak munculnya sampai sekarang, dia sudah berhasil membuat heboh jagat raya khususnya sektor pendidikan. dalam konteks indonesia, masa peralihan pendidikan tatap muka ke digital bagikan kejutan yang dipaksakan. Mau tidak mau, segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikkan dirumahkan dan digitalkan. Tetapi disinilah titik sadar para guru untuk mengusahakn melek teknologi. Tidak harus mampu membuat software ataupun apps di gadget tetapi mengerti dan paham teknis mengajarnya dan mampu memberikan sentuhan kepada murid-murid versi digital.

Dalam pengalaman saya mengajar Al-Qur’an itu juga sama dengan mata pelajaran lainnnya. Ada saja hal yang lebih baik dilakukan secara offline dibandingkan online. Sebagai contoh adalah untuk menegur anak untuk fokus saat materi disampaikan, ada saja kendalanya. Ada murid memang belum siap secara fisik karena belum makan pagi, ada murid belum masuk link karena kendala orangtua, ada murid yang memang fokusnya hanya diawal saja tidak bertahan lama karena banyak distraksi seperti suara tv dan lainnya. Ini baru sedikit cerita dari kendala sistem pembelajaran online yang prematur. Tetapi setelah mencoba berbagai cara dan merenungi sebab kelakuan para murid di kelas online, saya menemukan tiga prinsip dasar yang cocok untuk puzle masalah mengajar online ini. Pertama mindset guru, kedua bahasa sederhana, dan terakhir menghibur di kelas.

Pertama : Mindset guru

 

Gambar 2. Growth Mindset dan Fixes Mindset

Guru yang baik itu adalah menjadi guru yang paling memahami kebutuhan muridnya. Maka untuk memahami kebutuhan muridnya, seorang guru harus tau cara membangun kedekatan dengan anak. Karena mayoritas anak itu akan akrab dengan orang baru setelah dia mengenal dan nyaman dengannya.

Mindset guru itu tegambar dari dua hal. Pertama dari apa yang terlihat yaitu pakaian, posisi kamera, suara, silde mengajar saat kelas online dimulai. Kedua dari yang tidak terlihat seperti suasana hati. Ini menjadi faktor utama dan sangat penting bagi setiap guru. Karena pakaian akan menentukan identitas kita siapa dibenak murid-murid. Jangan sampai kita berpesan “anak-anak saat belajar online harus pakai seragam yang rapih ya”, tetapi kita sendiri yang melanggar ucapannya. Teladan yang dibangun pun tidak akan berefek apa-apa tanpa keikhlasan. Bahwa mungkin murid tidak melihat kita, tapi Allah SWT pasti menilai apa saja yang kita kerjakan. Maka kita bisa menambahkan pesan “anak-anak semuanya, mungkin bapak tidak lihat kamu dispilin karena sebatas kamera saja. Tapi ada Allah SWT yang selalu melihat kamu”.

Selanjutnya dari perihal teknis posisi kamera, suara, dan slide mengajar saat online. Bayangkan jika guru sudah menjelaskan panjang lebar tapi yang terlihat hanya gerakan mulut saja, tanpa slide dan tanpa suara. Maka langkah pertama yang harus dipastikan guru ke murid adalah bertanya “apakah kamera, suara, slide bapak sudah terlihat dan terdengar jelas?” lalu dijawab murid dengan serentak “sudah pak”. Maka setelah itu, barulah kelas bisa dimulai. Dengan begitu guru mampu memberikan rasa nyaman kepada para muridnya

Kedua : Bahasa sederhana

Gambar 3. Teori VARK

Guru yang paham seutuhnya dengan materi artinya dia membuat paham ke anak tk. Sudah tidak asing ditelinga kita, bahwa seorang yang paham dia akan menjelaskan dengan bahasa yang sederhana bukan malah jadi tanda tanya. Para murid yang datang untuk belajar pasti memiliki resiko. Bisa jadi, dia akan paham dalam sekali penjelasan atau butuh cara yang berbeda dengan teman-temanya dikelas.

Cara belajar anak memang beragam dan umumnya dirangkum dalam konsep VARK. Pertama Visual, kedua Auditory, ketiga Read dan write, dan terakhir Kinesitetic. Maka sang guru harus mampu membaca dan menerjemahkan gerak-gerik muridnya condong kearah mana dalam cara belajarnya. Sebagai contoh, dalam materi Al-Qur’an ada bacaan panjang dan pendek. Murid sudah mendengarkan contoh, sudah melihar silde tetapi masih bingung cara membedakannya. Maka sang guru mencoba menjelaskan dengan berkata “huruf yang panjang itu, pasti ada tanda bendera diatasnya”. Artinya murid tersebut condong ke cara belajar visual. Dia membayangkan sesuai apa yang guru katakan. Dan saat itu langsung paham materi yang disampaikan.

Dalam melatih bahasa sederhana, bisa dengan berbagai cara. Dimulai dengan coba berbicara ke anak kecil tentang perasaan. Contohnya, saat anak kecil bertanya “Rasa takut itu apa ya?”. Lalu bagaimana cara kita menjelaskan perasaan tersebut? Atau malah membungkam pertanyaan si kecil dengan perkataan “Takut ya takut nak”. Coba dijawab dengan bahasa lebih dekat dengan dunianya, seperti “Takut itu saat kamu sendirian di rumah tidak ada ayah dan mamah”. Pasti hal ini lebih mudah dipahami dibenak anak murid. Dengan begitu guru mampu memberikan kesan mudah saat belajar kepada para muridnya

Ketiga : Menghibur di kelas

Gambar 4. Guru Menghibur Muridnya

Guru yang tau dunia muridnya pasti tau cara menghibur muridnya. Efek yang pasti terjadi dari belajar pasti adalah jenuh dan bosan. Bisa disebabkan sulit atau memang sudah tidak ada hal yang menarik dipelajari. Maka sebagai guru yang kreatif dan inovatif, bisa beradaptasi dengan hiburan via digital.

Cara menghibur murid itu bisa dimulai dengan bercerita dan games sederhana. Semua ini harus didasari dengan niat menghibur. Maka semua komponen dari suara guru, gerakan guru dan ajakan guru sangat menentukan keberhasilan pesan emosi positif kepada para murid via digital. Andai guru ingin mengajak semangat dan berkata “ayo anak-anak kita semangat” tapi diperagakan dengan suara datar dan tidak memberikan pesan emosi apapun. Akibatnya para murid juga sebatas berkata “semangat” dengan terpaksa. Tetapi berbeda jika guru mengajak “Siapa yang mau dengerin cerita seru dari bapak” dengan nada asik dan wajah berseri-seri. Maka murid pun serentak menjawab dengan antusias “aku mau pak!”.

Dalam pembagian waktu antara menghibur dan belajar, guru juga harus punya sistem manajemen kelas. Misalnya dalam enam puluh menit mengajar, saya membaginya menjadi lima puluh menit belajar dan sepuluh menit terakhir bermain dan bercerita. Kebiasaan ini akan membangun kedisiplinan anak untuk bisa membagi waktu belajar dan bermain. Begitu juga dengan gurunya, membiasakan diri untuk membangun kedekatan dan memberikan sentuhan walaupun via online. Jangan sampai kita hanya belajar saja tanpa peduli kebutuhan bermain dan bercanda murid. Karena kebutuhan bertemu teman-teman berkurang dan hanya diam dirumah, pasti membuat murid mencari kesenangan lainnya. Dan jika guru mampu mengisi kebutuhan tersebut, sudah pasti para murid akan mau duduk dan mendengarkan pelajaran kita sampai selesai.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image