Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mulia Rahayu

Guru Kreatif dan Eksistensi PAUD Masa Pandemi

Guru Menulis | Friday, 01 Oct 2021, 23:53 WIB

Masih teringat jelas di benak saya awal pandemi, akhir Maret 2020 saat bersama teman-teman segugus mengadakan studi banding ke PAUD terpadu di Solo. Tak berapa lama setelah itu kami para guru PAUD harus mengumumkan pada anak-anak untuk belajar di rumah. Kami mengistilahkan pembelajaran daring, meskipun secara realisasinya masih banyak pertanyaan.

Proses pembelajarn daring ini tidak serta merta menuai kesuksesan. Pihak pemerintah, manajemen sekolah, guru, dan orang tua harus memiliki sikap kerjasama untuk bersama-sama memberikan yang terbaik dalam prosesnya. Berbagai seminar, workshop daring diselenggarakan pemerintah dan berbagai pihak yang dapat diikuti guru dengan gratis. Bayangkan bila itu diluar masa pandemi dan diadakan luring, yang jelas kocek minimal Rp. 50.000, 00 akan terogoh untuk acara tersebut.

Pembelajarn daring tidak serta merta harus sesuai pakem karena situasi dan kondisi masyarakat dan wali di PAUD tertentu tak sama. Hal ini dikarenakan karena pembelajaran daring akan berimbas pada banyak komponen sekolah baik itu pengurus yayasan, komite sekolah, kepala sekolah guru juga wali murid dan anak. Harus ada sentuhan untuk wali murid dan terutama PAUD itu sangat butuh sentuhan fisik dan hati. Kalau tidak bisa sentuhan fisik, sentuhan hatipun jadi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pembelajaran daring tidak garing dan eksistensi sekolah tetap terjaga.

Pertama guru harus mempersiapkan media yang bisa memuat materi pembelajaran serta memberikan sentuhan hati pada anak. Ada berbagai pilihan yaitu Zoom, Google Meet atau yang paling memasyarakat adalah WAG. Saya yakin rata-rata wali murid memiliki aplikasi WAG yang didalamnya memuat grup sekolah anaknya, karena di sinilah nanti awal informasi belajar mengajar daring akan terkomunikasikan. Baik itu materi, media, penataan jadwal VC, upload video dan tugas semua bisa berada di grup.

Fitur video call sangat tidak asing bagi siapapun termasuk anak-anak, maka ini menjadi salah satu media yang bisa dioptimalkan oleh guru. Untuk mengawali proses pembelajaran melalui VC ini, saya akan mengkomunikasikan dengan wali murid. Hal yang wajib terjadwalkan adalah waktu. berupa hari dan jam tertentu. Bagi wali yang tidak bisa mendampingi anaknya karena sesuatu hal maka saya memberikan kelonggaran sore atau malam hari. Saya yakin bila VC sudah terjadwal maka misscommunication dengan wali pasti akan terhindari.

Pelaksanaan video call biasanya akan saya awali dengan sentuhan hati dengan menyapa atau say hello, bertanya kabar anak hari ini. Disesi ini maka ada berbagai ekspresi anak seperti malu-malu, senyum atau semangat kemudian ada wali yang wapri bahwa anaknya pengin segera VC lagi.

Kemudian VC dilanjutkan dengan urutan pembelajaran seperti apersepsi dengan tepuk-tepuk, bernyanyi dan berdoa. Bila ada doa khusus atau lagu khusus seperti mars sekolah, disesi ini dapat diperkenalkan. Untuk inti bisa dilanjutkan dengan materi-materi yang ingin disampaikan. Untuk Penutup VC anak bisa diberikan titik sentuhan motivasi agar anak tetap semangat belajar, mengerjakan tugas atau pesan-pesan lainnya seperti stay at home dan penerapan protokol kesehatan.

Hal kedua yang saya lakukan dalam pembelajaran daring PAUD adalah elaborasi materi pembelajaran dengan bahan pembelajaran yang dapat diperoleh wali di lingkungan seitar dengan mudah. Bila diperlukan guru sudah memberikan bahan tersebut diawal waktu.

Di dalam PAUD ada enam ranah perkembangan yaitu Niai-nilai agama dan moral, sosial emosional, bahasa, kognitif, fisik motorik dan seni. Bila memungkinkan di hari VC, keenam ranah ini harus tersampaikan. Jadi ketika anak saya anjurkan VC dengan seragam olah raga sekolah, maka saya ajak anak untuk sekedar senam pemanasan.

Terkadang saat pembelajaran daring di tingkat TK terutama kelompok B, guru TK akan mengalami jebakan tuntutan wali yang akan masuk SD. Tuntutan yang seharusnya tak terjadi dan terus akan terjadi, yaitu tuntutan calistung atau baca tulis dan berhitung. Sebenarnya itu juga tidak 100% kesalahan wali, karena dilapangan anak SD kelas 1 harus bisa membaca dan menulis serta berhitung.

Guru TK masa pandemi ini benar-benar dituntut untuk kreatif dalam memberikan materi tersebut bisa melalui video yang dibuat sendiri ataupun video yang diunggah dari laman You Tube di grup wali. Untuk uji kompetensinya bisa diselipkan saat VC anak disaat kegiatan inti. Sentuhan calistung ini juga akan membuat anak termotivasi untuk tetap belajar. Selain itu memberikan media lembar kerja untuk anak yang berupa buku atau majalah juga efektif untuk pembelajaran calistung.

Ketiga tuntutan guru di era pandemi harus memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk konsultasi tentang perkembangan pembelajaran daring anak. Ruang ini saya berikan lewat jalur wapri, sehingga segala keluh kesahnya tak terbaca digrup kelas. Peran guru untuk menjadi pendengar atau pemberi solusi sangat diharapkan agar para wali merasa tenang dalam mendampingi belajar anak.

Keempat adalah problem pembayaran sekolah yang harus ditanggapi secara bijak oleh pihak sekolah dan guru. Roda perekonomian pandemi yang tak tentu bagi para wali yang kondisinya tak sama perlu diberikan perhatian. Kebijakan tentang pemangkasan biaya pendaftaran, seragam bahkan hingga uang SPP harus bisa dikompromikan. Untuk sekolah yang memperdulikan hal ini maka para wali muridpun akan turut andil mengeksiskan, sehingga akan tetap diminati masyarakat.

Meskipun saat pandemi Covid 19 ini melanda namun kebutuhan sekolah tetap ada, maka dana bantuan pemerintah sangat diharapkan dengan prosedur yang memudahkan. Adanya peraturan penerima dana pemerintah yang bersandar pada jumlah murid terutama untuk lembaga PAUD, mungkinkah sudah bijaksana? Semoga pemerintah mengkaji ulang segala sesuatunya.

Semoga pandemi anak-anak tetap semangat belajar, wali puas dengan pelayanan guru dan sekolah. Sebagai guru semakin kreatif inspirati sehingga eksistensi sekolah terjaga, dan pemerintah semakin bijaksana.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image