Ayo Bangkit Bersama dengan Pendidikan

Image
Syahrial
Guru Menulis | Thursday, 26 May 2022, 14:53 WIB

Sejak 1959, tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Untuk tahun 2022 ini tema yang ditetapkan oleh pemerintah dalam memperingati Harkitnas ini adalah “Ayo Bangkit Bersama”.
Sejarah Hari Kebangkitan NasionalPada masa awal mempertahankan kemerdekaan Indonesia, masih banyak ancaman segregasi antargolongan dan ideologi di tengah upaya Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari kolonial Hindia Belanda yang ingin merebut kembali kekuasaannya. Kabinet parlementer jatuh bangun tanpa bisa menyelesaikan masa jabatannya hingga tuntas. Banyak tokoh nasional yang bermusuhan satu sama lain. Selain itu, Belanda pun masih kerap melancarkan aktivitas militer lantaran belum mengakui kemerdekaan Indonesia. Dalam keadaan Republik yang krusial itu, sebuah simbol baru persatuan sangat dibutuhkan. Dalam kondisi demikian, Ki Hadjar Dewantara dan Radjiman Wediodiningrat mengusulkan tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Hal tersebut disetujui oleh Presiden RI Soekarno.
Kebangkitan NasionalKebangkitan nasional adalah bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesadaran sebagai sebuah bangsa untuk menggabungkan diri melalui sebuah gerakan organisasi. Sebelumnya, semangat ini tidak pernah muncul.Kebangkitan nasional nusantara terjadi ketika rakyat mulai menumbuhkan rasa kesadaran nasional sebagai "orang Indonesia". Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928).Semangat persatuan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang digaungkan Boedi Oetomo lantas menjadi lecut semangat para pribumi untuk membebaskan diri dari dominasi penjajah sekaligus mencegah perpecahan bangsa. Boedi Oetomo sendiri merupakan adalah organisasi modern pertama di Indonesia sejarah pergerakan kemerdekaan. Organisasi pra kemerdekaan ini aktif bergerak di berbagai bidang khususnya pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan tanpa melibatkan unsur politik.
Boedi Oetomo dan PendidikanMenyimak sejarah terbentuknya Boedi Oetomo yang menjadi tonggak penetapan Harkitnas, tentu tidak akan terlepas dari peranan pendidikan. Tanpa pendidikan tidak akan ada Boedi Oetomo. Semua tokoh pendiri Boedi Oetomo adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan. Boedi Oetomo adalah organisasi yang dibentuk oleh beberapa mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Arsten). Tokoh pendiri Budi Utomo di antaranya Dr Soetomo, Soeraji Tirtonegoro, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan lainnya.Pada awal abad ke-20, orang Indonesia yang mengenyam pendidikan tingkat menengah hampir tidak ada dan sejak saat itu, Politik Etis memungkinkan perluasan kesempatan pendidikan menengah bagi penduduk asli Indonesia. Pada tahun 1925, fokus pemerintah kolonial bergeser ke penyediaan pendidikan kejuruan dasar selama tiga tahun. Pada tahun 1940, lebih dari 2 juta siswa telah bersekolah sehingga tingkat melek huruf meningkat menjadi 6,3 persen yang tercatat dalam sensus tahun 1930. Pendidikan menengah Belanda membuka cakrawala dan peluang baru, dan sangat diminati oleh orang-orang Indonesia. Pada tahun 1940, antara 65.000 hingga 80.000 siswa Indonesia bersekolah di sekolah dasar Belanda atau sekolah dasar yang didukung Belanda, atau setara dengan 1 persen dari kelompok usia yang sesuai. Di sekitar waktu yang sama, ada 7.000 siswa Indonesia di sekolah menengah menengah Belanda. Sebagian besar siswa sekolah menengah bersekolah di MULO. Meskipun jumlah siswa yang terdaftar relatif sedikit dibandingkan dengan total kelompok usia sekolah, pendidikan menengah Belanda memiliki kualitas tinggi dan sejak tahun 1920-an mulai menghasilkan elit Indonesia terdidik yang baru.

Ayo Bangkit BersamaDulu, para pendiri bangsa ini melihat pentingnya kemajuan dalam bidang pendidikan dan budaya bangsa. Maka pada masa kini para pendidik sudah seharusnya menjadi soko guru yang ikut menentukan masa depan bangsa melalui mendidik generasi digital saat ini. Jika para pelopor dalam bidang pendidikan nasional dan juga kebangkitan nasional itu adalah para guru atau pendidik, seyogyanyalah semangat dan teladan ini ditiru para guru atau pendidik pada masa kini. Para guru bangsa itu tidak hanya mengajar tetapi juga memberi contoh nyata, praktik hidup dan penuh pengabdian berjuang bagi kemajuan anak bangsa.Setelah lebih dari dua tahun berjuang melawan pandemi Covid-19, kita patut memaknai kebangkitan nasional sebagai upaya kolektif bangsa untuk memperkuat persatuan bangsa. Semangat Boedi Oetomo dinilai masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang masih berjuang di tengah kondisi ekonomi dunia dan ketegangan geopolitik global. Mari kita jadikan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-114 ini sebagai momentum untuk bangkit bersama dari berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia belakangan ini.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penggiat literasi yang tinggal di desa

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

PK Bapas Purwokerto Tindaklanjuti Usulan Pembebasan Bersyarat

Image

Pastikan Kondisi Aman, Petugas Rutan Jepara Rutin Lakukan Trolling

Image

Pembayaran Pajak Sarang Burung Walet Menuai Pro dan Kontra

Image

Mengenal Apa Itu Delik Pers. Apakah Hanya Berkutat Pada Kesalahan Pers?

Image

Kunjungi Rutan Jepara, Ustadz Abdurahman Berikan Tausiyah Kepada Ratusan WBP

Image

Gelar Yasinan Rutin, Kalapas Brebes : Intropeksi Diri Sarana Jadi Pribadi Baik

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image