Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syaeful Cahyadi

Mengalah di Kota Pelajar

Eduaksi | Tuesday, 28 Sep 2021, 10:42 WIB
Tugu Jogja, salah satu ikon di kota pelajar. (sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Tugu_Yogyakarta)

Ia menghela nafas panjang di tengah ceritanya. Matanya menerawang jauh. Mungkin ia membayangkan andai dulu bisa melakoni mimpinya sehingga kini punya beberapa opsi lain dalam menjalani hidup. "Ya gimana lagi," keluhnya.

Kawan saya itu anak bungsu dari empat bersaudara. "Anak bonusan" demikian saya sering mengejeknya dulu karena selisih usia dia dengan kakaknya nomor tiga sangat jauh, 14 tahun. Alhasil, saat ia lulus SMK, orang tuanya sudah berusia 60-an tahun. Dia adalah anak yang pintar. Saya ingat betul dia langganan masuk 10 besar. Menjelang lulus SMK pada 2012, dia punya keinginan untuk bisa kuliah di jurusan otomotif. Sayang, mimpi itu harus ia kubur sendiri. Orang tuanya yang seorang petani tua tidak mampu membiayainya. Mau minta biaya ke kakak-kakaknya yang secara ekonomi sudah mapan pun tak berani, "Tidak enak, mereka sudah berkeluarga," ujarnya kala itu. Anjuran saya untuk mencari beasiswa potongan biaya pun tak berani ia ambil, "Tetap berat."

Kisah macam itu mungkin tidak pernah menjadi bagian penting dalam semesta Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Yang dikenal adalah universitasnya yang banyak, kehidupan ala mahasiswa dan anak kos, atau banyaknya intelektual dari kota ini. Padahal, di balik semua itu sebuah ketimpangan menganga.

Berstatus sebagai kota istimewa sekaligus kota pendidikan tidak membuat Yogyakarta punya keistimewaan kebijakan pendidikan. Jangan dikira hanya karena berstatus kota pelajar lalu para pelajar di sini mendapatkan kemudahan biaya. Belum pernah rasanya saya dengar kisah pemuda Jogja yang ingin kuliah tapi tidak punya biaya tiba-tiba ditelpon pihak kampus. Di sini, sama kok dengan penjuru dunia lain, kalau mau sekolah, apalagi di tingkat universitas, ya harus punya duit.

Sementara, anggapan banyak orang terhadap kuliah masihlah sebuah kemewahan. Itu membuat banyak orang semakin jauh dari sebuah istilah bernama "bisa kuliah" atau "menguliahkan anak". Para tetangga saya di desa bahkan masih ada yang menolak jika anaknya hendak meneruskan sekolah ke SMA. Alasannya lugu, supaya kelak ketika lulus sudah punya keterampilan dan bisa langsung kerja, tidak harus kuliah.

Saya merasakan sendiri hal itu saat hendak memaksa adik saya kuliah pada 2019 silam. Orang tua saya ingin dia belajar pertanian, sesuai bakat yang sedikit ia tunjukkan. Sebuah panduan universitas swasta berisi pilihan jurusan dan rincian biaya saya unggah. Saya kaget, perlu biaya 15 juta untuk biaya SPP semester jika menjadi mahasiswa pertanian di kampus itu. Orang tua saya tak kalah kaget namun memutuskan nekat. Untung adik saya waktu itu tetap berkeras hati enggan kuliah.

Bagi sebuah kota kecil dengan upah minimum provisinsi (UMP) sebanyak 2 juta, angka 15 juta per bulan tentu saja sangat besar. Sederhananya, per bulan si orang tua harus bisa menabung 3,5 juta. Sederhananya lagi, orang tua harus punya pemasukan per bulan lebih dari itu. Jurusan lain ada yang lebih murah, "hanya" sekitar 7 juta, 3 setengah kali UMP Yogyakarta. Dan ingat, angka 15 juta itu belum termasuk uang pangkal.

Saya ingat, sebuah akun Twitter pernah menyinggung hal ini. Saya masih ingat pula, banyak sekali orang menyangkal argumen itu dengan menganjurkan cara melalui beasiswa. Masalahnya adalah, jumlah beasiswa yang tersedia sudah pasti jauh lebih sedikit daripada jumlah pendaftar perguruan tinggi. Sederhana saja, mahasiswa penerima beasiswa dengan mahasiswa umum berselisih amat jauh jumlahnya. Itu belum termasuk masalah lain seperti akses terhadap informasi yang merata dan kemampuan akademis yang berbeda-beda.

Di satu sisi, sama seperti biaya lain, tahun demi tahun biaya pendidikan juga terus meningkat. Saat ini, uang pangkal masuk perguruan tinggi rata-rata sudah melebihi 10 juta. Itupun untuk jurusan yang standar, harga bisa lebih mahal di jurusan favorit. Itu baru uang pangkal, belum SPP semester yang belasan juta. Saya tidak tahu, ini akibat dari kapitalisasi pendidikan atau bukan. Tapi itulah kenyataannya.

Alih-alih beasiswa, beberapa keluarga di Yogyakarta punya cara lain memecahkan hal ini yaitu dengan membagi beban ekonomi. Caranya, hanya ada satu anak yang dikuliahkan di keluarga itu. Sementara anak yang lain bekerja selepas lulus sekolah. Lewat cara ini, biaya si anak yang berkuliah bisa ditanggung bersama oleh ayah, ibu, dan anak lainnya. Terdengar seperti kisah klasik generasi 70-an mungkin, tapi tidak sekali dua kali saya mendengarnya.

Cara di atas hanya salah satu. Ada pula tetangga saya yang petani desa. Dua anaknya berhasil ia kuliahkan di sebuah kampus unggulan Yogyakarta dengan SPP belasan juta. Saya yakin, hasilnya bertani tidak cukup untuk biaya kuliah dua anaknya itu. Keyakinan saya terbukti kala suatu hari tahu bahwa satu petak sawah keluarga itu sudah dijual, berselang sebentar setelah anak nomor dua masuk universitas. Dan ingat, dia tidak masuk kuliah di jurusan favorit, dia juga tidak masuk pendidikan militer.

Seorang kawan lain pernah berkisah ia memilih tidak kuliah supaya kelak adiknya bisa kuliah. Selepas lulus, ia bekerja menjadi pengemudi ojek online sembari berjualan. Adiknya itu, menurutnya, lebih cocok untuk meneruskan kuliah karena ia lebih pintar dibandingkan sang kakak. "Lebih prospek dia kalau kuliah," kisahnya. Hingga suatu hari, ia mengumpat saat mendengar uang pangkal masuk universitas sang adik yang setara harga Honda Beat baru. Dan tabungannya habis demi mimpi keluarganya menguliahkan sang adik.

"Aku yang ngalah, Mas," terangnya. Ah, mengalah. Kata itu mungkin tepat untuk banyak sekali anak muda di kota pelajar ini. Mereka mengalah pada kenyataan bahwa biaya kuliah di kota pelajar tidak semurah UMP-nya. Mereka mengalah, sambil menyaksikan ribuan mahasiswa datang dan pergi di kota tempat mereka tumbuh.

Yogyakarta mungkin masih bakal terus dikenal sebagai kota pelajar. Kampus-kampus baru terus bermunculan. Jurusan-jurusan baru dirintis. Sementara, seiring harga pendidikan kian melambung, semakin banyak saja pemuda kota ini yang harus mengalah. Bahwa, pendidikan masihlah sebuah kemewahan bagi beberapa orang. Bahkan ketika mereka hidup pada tahun 2021 di sebuah kota pendidikan.

Sama seperti kawan saya yang anak bonusan tadi. Ia mengalah dan memilih mencari kerja selepas lulus. Dulu, sesekali ia bertanya pada saya tentang rasanya kuliah. Saya semangati dia, agar kelak tetap mengejar mimpinya untuk kuliah dengan biaya sendiri. Takdir kemudian membawanya bekerja di sebuah toko roti, tidak jauh dari kampus yang dulu pernah ia idam-idamkan. Sungguh, saya tidak pernah bisa membayangkan perasaan kawan saya itu saat menjalani takdirnya di kota ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image