Suratan Hati Terdalam Dari Pelajar Untuk Pandemi

Image
Fahrizal Sanggah
Lomba | Saturday, 25 Sep 2021, 23:42 WIB

Pelajar adalah aset yang sangat penting bagi perkembangan peradaban dan masa depan dunia. Kami menanam ilmu untuk dituai kemudian hari, demi kemajuan bangsa dan kesuksesan masa depan sendiri. Sekolah adalah tempat para pelajar dapat menambang sedalam-dalamnya ilmu yang kelak akan dibutuhkan. Tapi saat ini, sumber belajar utama pelajar telah ditutup karena adanya invasi wabah penyakit yang telah membuat dunia dan isinya kacau balau. Sekolah dilarang, studi kasus dilarang, semua yang berkaitan dengan kegiatan outdoor dibatasi besar-besaran. Wabah penyakit inilah menjadi sebab dari segalanya, Sebuah virus yang awalnya berasal dari Wuhan, China. Virus ini mulai teridentifikasi di akhir tahun 2019 sehingga disebut secara resmi sebagai virus Covid-19 atau sering dikenal juga sebagai virus Corona. Sejak pertama kali ditemukan virus ini langsung menyebar dalam skala yang cepat dan luas. Tak perlu waktu lama, pada bulan Maret 2020 kasus pertama di Indonesia muncul di tengah publik. Garis temporal tersebut nyatanya sudah berhasil membawa awal mimpi buruk bagi perkembangan negara kita. Semua sektor baik ekonomi, pendidikan, politik, dll. mengalami gelombang kejut yang serasa menghentakkan kestabilan mereka tanpa ada kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi wabah pandemi yang ditakuti ini. Disini saya akan memberikan opini saya berkaitan dengan bagaimana kondisi kita apabila tidak terjadi pandemi. Mungkin saya tidak punya kapabilitas yang baik untuk memberikan opini saya pada sektor-sektor kehidupan lain. Tapi saya yakin saya dapat memberikan opini yang relevan dan dapat dipertimbangkan jika itu berkaitan dengan pandemi dan sektor pendidikan. Karena saya adalah pelajar, sebagai pelaku peristiwa secara langsung di lapangan. Saya pasti memahami apa yang sedang saya alami, dan bagaimana dampak ini semua kepada saya sendiri. Pandemi ini terjadi secara cepat, mengancam bagaikan serbuan hama yang datang tanpa ada aba-aba. Sebelum terjadi pandemi, saya masih bersekolah dan berperan sebagai siswa secara normal. Duduk di belakang meja siswa menghadap papan tulis dan memperhatikan penjelasan guru/pengajar. Lalu tiba-tiba ketika pandemi datang pada kuartal kedua tahun 2020, kami mendapatkan dampak yang sangat terasa bagi kondisi belajar kami. Pelajar yang biasanya bisa senang dan tertawa di sekolah bersama teman-teman, menjadi terasingkan di rumah masing-masing karena dipaksa oleh keadaan. Pada saat awal Indonesia dinyatakan terdampak pandemi, masa-masa tersebut adalah yang paling berat untuk pelajar hadapi. Kami belum beradaptasi dengan kondisi ini, kami belum tahu bagaimana cara belajar dari rumah. Bahkan dulu yang kami kenal dari gawai hanyalah permainan daring ataupun fitur chatting dari aplikasi whatsapp. Pada masa-masa tersebut, lembaga pendidikan pun mulai melakukan sprint untuk memahami fitur teknologi yang harus mereka terapkan untuk mempertahankan kesempatan muridnya dalam belajar. Kondisilah yang mengakibatkan tekanan besar-besaran pada sistem pendidikan kita untuk berubah. Progress yang dicapai pun mulai bertahap. Kami yang awalnya tidak mengenal pembelajaran daring/PJJ, semakin lama semakin terbiasa. Awalnya kami tidak tahu apa itu aplikasi telekonferensi dan sejenisnya, tapi karena pandemi kami juga ikut beradaptasi. Dapat dikatakan bahwa ketika pandemi terjadi di Indonesia, bagian dari sektor pendidikan mengalami perubahan paling besar-besaran adalah penggunaan teknologi. Penerapan teknologi pada sistem pendidikan kita tiba-tiba menjadi gebrakan revolusi, yang dulunya hanya diimplementasikan perlahan dan dapat dikatakan sebagai bagian evolusi. Dari perubahan ini pun kita sudah dapat memahami apa yang berubah karena pandemi. Dan mungkin saja tanpa pandemi perubahan itu tidak akan secepat ini terjadi. Andai pandemi tidak terjadi, maka para pelajar di tahun 2021 ini pasti belum mengenal sistem pembelajaran daring. Kami masih duduk tenang di bangku, membaca buku, mendengar ceramah guru, dan jajan ke kantin ketika waktu istirahat. Tidak akan ada perubahan besar yang akan terjadi. Sistem pendidikan Indonesia akan tetap sebagian besar akan tetap berkutat dengan cara pendidikan tradisional, kalaupun ada penggunaan teknologi tidak akan mencapai lebih dari 30% dari total pembelajaran kami. Hasil yang tidak akan pernah tercapai tanpa pandemi, yang bisa mengubah pembelajaran menjadi 100% berbasis teknologi. Tapi kita tetap tidak boleh buta mata. Pandemi juga memberikan kesedihan bagi kita semua. Korban-korban wabah ini banyak yang sudah berjatuhan, tidak terhitung kiranya kerugian yang sudah kita dapatkan. Bagi sebagian orang, apabila pandemi ini tidak terjadi maka orang-orang tersayang mereka pasti masih tersenyum hangat di sampingnya. Rasa kehilangan ini sudah menjadi sumber kekecewaan diri pada pandemi. Selain itu, kerugian secara materi juga kami para pelajar alami. Biaya sekolah yang membengkak, risiko learning loss, masalah kesehatan mental dan banyak masalah lagi menghantui kami karena pandemi. Jika pandemi tidak ada, maka kami tidak akan pernah mengenal kesulitan ini, dan tidak akan pernah lebih terlatih untuk bertahan. Saya masih berpikir bahwa pandemi adalah bagian dari pendewasaan diri umat manusia. Toh bukan ini pandemi yang pernah manusia alami. Ada wabah hitam, DBD, flu burung dan masih banyak wabah lain juga yang mengancam. Tapi wabah itu juga merupakan teguran dan koreksi dari alam mengenai apa yang belum kita siapkan demi masa depan yang lebih baik. Jika memang ini adalah suratan takdir tuhan untuk kita menjadi lebih baik, maka sebaiknya manusia menyikapinya dengan bijak. Alih-alih mengeluh, menemukan solusi dan inovasi di tengah pandemi ini lebih penting. Seperti yang saya ucapkan bahwa momen yang sangat memaksa ini bisa kita maksimalkan untuk mengembangkan potensi pembawa perubahan bagi sektor kehidupan di negara kita. Dengan solusi dan inovasi maka, masa depresi yang terjadi seperti sekarang ini tidak akan pernah sia-sia, dan memberikan gerbang menuju kemakmuran.

ANTARA/Makna Zaezar
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Stop Melanggengkan Budaya Patriarki

Image

Tawarkan Atap Metal, Stand Produk Fumira Diserbu Pengunjung!

Image

Jerat Riba Pinjol

Image

Mahasiswa Idaqu mendapatkan Ijazah sanad Khot Diwany metode Hamidy dari Syeikh Belaid Hamidi

Image

Mahasiswa Idaqu Dilantik Menjadi Pengurus Pusat FKMTHI

Image

Peringati HSN, MTsN 3 Bantul Gelar Aneka Lomba

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image