Andai Pandemi Pergi : Harapan dan Kesadaran Diri

Image
Andi Luqna Fadillah
Lomba | Wednesday, 22 Sep 2021, 23:02 WIB
Pagi ini sangat cerah dari biasanya, aku aku berjalan menyusuri sebuah jalan sambil bersenandung ria mengecek tanggal di Handphone ku 2 Januari 2022. Orang-orang sibuk dengan aktivitasnya, ada yang menyapu jalanan, bersepeda, membuka toko, ada pula yang berpakaian dinas yang tengah melajukan kenderaannya ke tempat kerja. Sedangkan aku apa yang aku lakukan?. Ya. Aku sedang berjalan menuju tempat ku untuk memperoleh pengetahuan sekaligus tempat terindah menurutku. Bagaimana tidak, ya waktu Istirahat adalah waktu yang tepat untuk nongkrong bersama kawan-kawan sambil bercanda ria. Tapi mengapa aku merasa hal ini sudah lama tidak aku lakukan lagi?. Aku mencoba menepis pemikiran itu dan terus berjalan melewati setiap pembatas jalan.

Sesampainya di sekolah aku merasakan hal yang sangat beda. Gerbang sekolah seperti menyediakan alat penyemprot air dan aku harus melewati itu. Dalam benak bertanya lagi, ini apa? Mengapa harus di siram seperti ini. Apa mereka tidak percaya aku mandi dari rumah. Tapi lamunanku buyar saat selang selang kecil itu menyemprotkan air yang halus dan tidak membuat tubuhku basah, baunya pun aneh seperti diberikan sedikit alcohol. Kakiku tetap melangkah kedalam sekolah yang sepertinya sepi. Mataku tak berhenti menyisir setiap sudut sekolah yang kulewati. Sepertinya ini bukan hari libur, tapi kenapa sekolah seperti kekurangan siswa, apa mereka libur sendiri atau... ah... mengapa aku berfikir yang tidak-tidak.

Di kelas pun aku merasakan aura-aura kehororan. Mulutku refleks mengucapkan kalimat kalimat pelindung. Ada apa dengan sekolah? Mengapa seperti ini? Teman-temanku seperti sedang bertengkar satu sama lain. Mereka duduk terlalu berjauhan bahkan tak ada interaksi satu sama lain. Mengapa? Ada apa?. Aku seperti berada didalam ruangan the air ship. Salah satu ruangan dalam permainan Among Us Yang paling ku benci, terlalu rumit dan banyak teka teki.

Satu persatu mata pelajaran kami lewati dengan hening. Bahkan guru yang mengajar pun tak banyak berbicara. Hanya memberikan tugas menjelaskan inti materi lalu pamit menyelesaikan tugasnya. Semakin banyak tugas yang akan ku kerjakan nanti. Bahkan perpustakaan yang biasa aku datangi untuk mencari buku pelajaran tutup. Ada apa sebenarnya.

Waktunya pulang sekolah, aku mulai terbiasa dengan keheningan ini dan terus berjalan menuju pintu gerbang sekolah. Mendapati guru piket yang selalu memberikan arahan kepada siswa yang melewati nya dengan berkata segera pulang, dan tetap sehat. Akupun mendapatkan kata-kata tersebut dan hanya tersenyum mendengarnya.

Dirumah seperti biasa, ibu dengan kegiatan memasaknya, adik yang tengah asik menonton kartun kesukaannya. Tiba-tiba di layar tv menayangkan iklan jasa travel dengan iseng aku berkata pada ibu untuk jalan-jalan. Dan tanggapannya, ibu melotot padaku sambil berkata bahaya, apalagi biayanya mahal". Aku menanggapinya dengan tertawa dan bergegas ke kamar untuk membuat tugas yang diberikan oleh guru-guru mata pelajaran tadi. Rasanya mumet kepalaku memikirkan tugas yang begitu banyak.

Tidak terasa sudah jam 10 malam dan tanpa sengaja tertidur di meja belajarku. Entah siapa yang memindahkanku ke ranjang tidurku, aku berterimakasih atas itu dan aku melanjutkan tidurku.

Aku sedang menikmati dinginnya air yang menyentuh ujung kaki telanjangku. Pasir yang begitu halus sehingga tak membuat telapak kakiku sakit saat menapak di atasnya. Rasanya aku baru melepaskan sesuatu yang berat. Entah apa itu aku tak terlalu memikirkannya. Yang aku tau aku sedang menikmati hari kebebasanku. Tiba-tiba seseorang datang mendorongku dan tak sengaja menjatuhkanku ke ombak kecil yang datang.

Seketika aku terbangun dari mimpiku dan bergegas mengambil handphone ku. 2 Januari 2021. Telkomsel (dirumah saja), aku menghela nafas beratku. Ternyata semua hanya mimpi. Pembelajaran Daring, memakai masker, mencuci tangan, memakai hand sanitizer. Peraturan pembatasan kegiatan masyrakat yang terus berlanjut. Itulah kenyataan yang sekarang kita hadapi. Ke sekolah hanya hayalan belakang saja. Aku muak dengan semua ini. Kapan pandemi akan berakhir?

Andai pandemi ini telah berakhir mungkin mimpiku saat di pantai itu akan jadi kenyataan

Tak terasa sudah 1 tahun lamanya Dunia di jajah oleh covid-19 atau sering di sebut virus corona, akibatnya manusia beradaptasi dengan lingkungan baru, seperti menggunakan masker saat keluar rumah, memakai hand sanitaizer, aktivitas terjangkau, menjaga jarak minimal 2 meter saat berbicara, dan PPKM.

Kita ketahui bersama bahwa Manusia sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai warga masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari. Manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Bosan rasanya jika hanya berinteraksi dengan orang rumah saja, bosan rasanya hanya belajar lewat jaringan saja.

Lantas apakah kalian merindukan suasana saat Bumi sehat?

Rindu berlibur, Rindu berkumpul bersama teman-teman, keluarga. Rindu belajar di kelas, Rindu suasana lebaran yang meriah dan bewarna, Rindu padatnya jalan, dan merindukan Festival-festival yang sering di adakan tiap tahun. Rumit rasanya harus di paksa beradaptasi dengan keadaan sekarang.

Jika pandemi telah pergi, lantas apakah yang ingin kalian lakukan?

Apakah kalian akan sama sepertiku? Jika pandemi telah pergi akan memanfaatkan waktu berkumpul bersama teman-teman, belajar di kelas, traveling, dan masih banyak hal lain yang ingin di lakukan.

Sayangnya semua hanyalah angan-anganku. Jika pandemi telah pergi , bagaimana bisa pandemi akan cepat berlalu jika manusia lalai dalam menaati peraturan pemerintah seperti tidak memakai masker saat keluar rumah, tidak menjaga jarak, tidak melakukan suntik vaksin. Manusia hanya menganggap covid-19 hanyalah penyakit seperti flu biasa,mereka hanya menggap bahwa covid-19 adalah rekayasa pemerintah.

Terkadang muak rasanya dengan manusia yang kurang menanamkan kesadaran diri untuk menaati peraturan pemerintah. Apa sulitnya menaati peraturan yang sudah di buat? Menurutku itu sangat mudah di lakukan dan semua peraturan yang di buat demi kebaikan kita bersama. Sampai kapan kita terus menyalahkan pemerintah?sampaikan kalian tetap mau bertahan dengan keadaaan seperti ini?

Sebelum aku mengakhiri opiniku mari kita meningkatkan kesadaran diri terhadap protokol kesehatan yang sudah di buat, mari kita bersama-sama membuat bumi kembali sehat. Jangan melupakan Fakta bahwa covid-19 terjadi atas ulah manusia.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Menangisi Kehilangan, Ihwal Manusia yang Posesif

Image

Tokoh-Tokoh Ahlusunnah wal Jama'ah

Image

Sejarah Terbunuhnya Husain bin Ali

Image

Mengenal Konsep Syiah Imamiyah dan Perkembangannya di Indonesia

Image

Kamu Harus Tahu, Ini Cara Mudah Menghapus Follower TikTok yang Menyebalkan

Image

Proses Konversi Golongan Syiah dan Khawarij

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image