Jika Pandemi Pergi. Mau Apa?

Image
Pandu Satyabrata
Lomba | Tuesday, 21 Sep 2021, 13:49 WIB

Covid jahat! Hampir 2 tahun ini sambil mengarungi pandemi Covid-19, dua kata itu seliweran diucapkan oleh semua orang, iya semuanya, mulai dari pekerja yang seketika kehilangan pekerjaannya yang otomatis juga penghasilannya, pengusaha dan pedagang yang tiba-tiba kehilangan pelanggan karena adanya pembatasan kegiatan di masyarakat, anak-anak yang tak bisa bersekolah, baku peluk atau bahkan baku hantam dengan teman menjadi hal yang dirindukan karena sekolah ditutup, semua karena himbauan pemerintah untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah. Yang lebih menyayat hati, dua kata itu diucapkan oleh orang yang telah kehilangan orang tua, pasangan, anak, sanak saudara dan atau lainnya karena serangan virus.

Covid-19 tak mengenal siapa yang diserang, negara termiskin sampai adidaya tak luput darinya, kaum papa hingga yang berada tak bisa menghindar, dari preman sampai ahli agama tidak mampu menghalau. Kalau sudah begini, banyak yang bertanya, lalu kapan ini berakhir? Tak ada yang tahu pasti. Rasanya semua seakan ingin pandemi segera pergi, tahun lalu pada awal datangnya virus ini ke Indonesia, hampir setiap menjelang hari raya keagamaan terucap kalimat semoga sebelum bulan Ramadhan covid lenyap, semoga sebelum Lebaran covid hilang, semoga sebelum Natal covid tinggal kenangan dan lain sebagainya. Ah, nyatanya sudah lewat dua kali lebaran dan hampir memasuki bulan Natal virus ini masih ada, seperjalanannya pun kondisi seakan diajak berdansa, sangat dinamis, bulan ini grafik menurun, seketika bulan depan menanjak, menurun lagi seakan ada harapan ini semua akan segera habis, tapi tak berlama harapan terbersit grafik kembali naik, sungguh fluktuatif. Ya, virus ini kan kehendak Tuhan, maka hak prerogatif Tuhan pula kapan akan menghilangkannya, kita makhluk wajib mengimani bahwa Tuhan baik kepada umatnya.

Virus yang memakan korban semakin tak terkendali, tak berwujud tapi menular dengan masif, harus ada tindakan segera menghindari penularan lebih luas lagi, yaitu lockdown. Di negara lain, utamanya negara maju, lockdown berarti menghalau pergerakan orang dengan memenuhi kebutuhan dasarnya, mudahnya, pemerintahannya mengatakan jangan kemana-mana tapi hidupmu kita jamin baik-baik saja. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar juga berupaya menghalau pergerakan masyarakatnya, istilah lockdown di Indonesia pun sempat berganti-ganti mulai dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dengan interval waktunya pun berubah-ubah hingga muncul ungkapan PPKM kok kayak isi pulsa, mingguan kalau dipikir ada saja jenaka di tengah bencana, semoga ini tandanya kita masih waras menyadari untuk mawas diri dalam berkegiatan dengan ketatkan protokol kesehatan.

Indonesia sebagai negara berkembang belum mampu melakukan lockdown dengan mengucurkan dana untuk kebutuhan rakyat dalam jumlah besar karena rakyatnya juga besar, alhasil pembatasan kegiatan masyarakat berbuah kontroversi, karena dampaknya sangat besar terhadap perekonomian rakyat, apalagi sebagian besar pekerja informal, yang bergantung hidupnya dari dapat uang hari ini untuk makan hari ini, di sisi lain kedisplinan untuk menerapkan protokol kesehatan sangat kendor. Repot jadinya. Kesenjangan terjadi, yang kaya teriak protokol kesehatan sedangkan yang miskin teriak lapar. Pemerintah juga pasti pusing tujuh keliling memilih antara ekonomi dulu lalu kesehatan atau kesehatan dulu ekonomi kemudian. Ekonomi diutamakan, kemungkinan lengah protokol kesehatan akan berujung melonjak jumlah korban. Kesehatan diutamakan, daya beli masyarakat rendah karena tak punya uang, tatanan ekonomi akan hancur, terori supply dan demand tak lagi seimbang. Duh, pilihan dilematis.

Tagar di rumah aja mulai membanjiri linimasa, sesuai yang dikampanyekan pemerintah dalam upaya menahan pergerakan massa. Kesadaran masyarakat mulai tumbuh, tetap di rumah saja, hiruk pikuk jalanan seketika hening, kualitas udara di ibukota pun mengalami perbaikan, seperti yang diungkapkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) bahwa selama masa PSBB udara di Jakarta masuk kategori sedang dan beberapa wilayah kategori baik, yang awalnya kategori tidak sehat. Masih ada hal positif yang bisa diambil dari pandemi ini, patut kita syukuri. Sepertinya di rumah aja adalah solusi yang mumpuni untuk mengurangi interaksi orang dan meminimalisir peluang virus yang tak terlihat ini menghampiri.

Di rumah saja bukan berarti berdiam diri tanpa kegiatan. Bosan sudah nampak di tengah mata dan harus dihadapi, untuk menghalaunya tren menawarkan segala bentuk cara mengusir bosan. Tren berkedok hobi silih berganti selama pandemi, namanya tren ya pasti akan mencapai klimaksnya karena hampir semua mengikuti, misalnya hobi pelihara ikan cupang, mulai dari pernak perniknya sampai harga ikannya tak murah, sampai jutaan, tak berselang lama muncul hobi tanaman, dedaunan ini juga naik daun, sebut saja salah satunya janda bolong, jangan salah, harganya pun melangit jika semakin unik dan cantik bentuknya, lanjut ke hobi sepeda, ikut melambungkan harga sepeda karena tren, ada merk sepeda asal Jerman yang diborong oleh banyak orang Indonesia, sampai tokonya terpaksa tutup sementara karena kehabisan stok karena barang dagangannya dibawa ke Indonesia semua. Bagi yang mampu tentu menyenangkan jalani tren, eh hobi maksudnya, bagi yang ga mampu ya siap gigit jari saja. Ah, pandemi tak terlalu berdampak rupanya bagi si kaya, ya setidaknya roda ekonomi tetap berputar negara tak jadi resesi.

Di tengah ketidakpastian ini, masih bolehkah kita berandai-andai soal kapan ini akan berakhir? Tentu saja boleh, saya yakin para pekerja akan berharap meraih pekerjaannya lagi, pengusaha berharap menarik pelanggannya lagi, anak-anak berharap sekolah kembali buka dan lain sebagainya. Secara pribadi, seandainya pandemi pergi saat ini, saya akan berdoa dengan khusyuk agar virus Covid-19 jangan datang lagi dan pandemi jangan pernah terjadi lagi. Biarlah semua menjadi normal, bukan new normal. Seperti yang dikatakan dalam kitab suci, bahwa tak ada takdir yang bisa berubah kecuali karena doa. Sederhana.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

pemerhati current affairs

Jika Pandemi Pergi. Mau Apa?

Jungkir Balik Pendidikan di Era Covid

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Menangisi Kehilangan, Ihwal Manusia yang Posesif

Image

Tokoh-Tokoh Ahlusunnah wal Jama'ah

Image

Sejarah Terbunuhnya Husain bin Ali

Image

Mengenal Konsep Syiah Imamiyah dan Perkembangannya di Indonesia

Image

Kamu Harus Tahu, Ini Cara Mudah Menghapus Follower TikTok yang Menyebalkan

Image

Proses Konversi Golongan Syiah dan Khawarij

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image