Hindari 5 Bahaya Lisan
Agama | 2021-08-22 04:38:32
Banyak nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia, salahsatunya adalah lidah/ lisan. Dengan memilikinya manusia bisa menikmati citarasa makan yang enak, dan dengan lisan manusia bisa berbicara, bernyanyi, melantunkan ayat suci dan sebagainya.
Namun terkadang lisan bisa menjerumuskan manusia dalam kemaksiatan dan melakukan hal yang melanggar ketentuan agama. Dalam Al-Qur`an Allah SWT berfirman:
ÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ¹ÙØ¨ÙØ§Ø¯ÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙØªÙÙ ÙÙÙÙ Ø£ÙØÙØ³ÙÙÙ Û Ø¥ÙÙÙÙ Ø§ÙØ´ÙÙÙÙØ·ÙاÙÙ ÙÙÙÙØ²Ùغ٠بÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù Û Ø¥ÙÙÙÙ Ø§ÙØ´ÙÙÙÙØ·ÙاÙÙ ÙÙØ§ÙÙ ÙÙÙÙØ¥ÙÙÙØ³ÙاÙÙ Ø¹ÙØ¯ÙÙÙÙØ§ Ù ÙØ¨ÙÙÙÙØ§
Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS.Al Isra: 53)
Apabila seseorang menggunakan lisannya untuk hal-hal yang tidak dibenarkan, akan dapat menyebabkan perpecahan, perselisihan, menyakiti hati orang lain, bahkan mencelakakan diri sendiri.
Islam mengajarkan agar lisannya tidak menyakiti orang lain, sebab bila seseorang tersakiti hatinya sepanjang hayat akan sulit terhapus dari dalam dirinya.
Nabi Muhammmad SAW bersabda, yang artinya:
Dari Abdullah bin `Amr, Nabi Muhammad SAW beliau bersabda,âSeorang Muslim adalah seseorang yang orang lain selamat (tidak tersakiti) oleh lisan dan tangannya.â (HR.Al-Bukhari).
Agar kita bisa menghindarinya, kita perlu mengenal beberapa bahaya lisan yang harus dihindari:
1. Berdusta
Hadits tentang larangan berbohong dan perintah berbuat jujur diriwayatkan oleh banyak sekali ahli hadits, diantaranya Bukhari, Muslim, Abu Dawud, AL Baihaqi, Ibnu Hiban dll, yang berbunyi:
عÙÙÙ Ø¹ÙØ¨Ùد٠اÙÙÙ٠بÙÙ Ù ÙØ³ÙعÙÙÙØ¯ Ø±ÙØ¶ÙÙ٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙ : ÙÙØ§ÙÙ Ø±ÙØ³ÙÙÙÙ٠اÙÙÙ٠صÙÙÙÙ٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙÙ Ù : عÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù Ø¨ÙØ§ÙصÙÙØ¯ÙÙÙ Ø ÙÙØ¥ÙÙÙÙ Ø§ÙØµÙÙØ¯ÙÙÙ ÙÙÙÙØ¯ÙÙ٠إÙÙÙ٠اÙÙØ¨ÙرÙÙ Ø ÙÙØ¥ÙÙÙ٠اÙÙØ¨ÙرÙÙ ÙÙÙÙØ¯ÙÙ٠إÙÙÙ٠اÙÙØ¬ÙÙÙÙØ©Ù Ø ÙÙÙ ÙØ§ ÙÙØ²ÙاÙÙ Ø§ÙØ±ÙÙØ¬ÙÙÙ ÙÙØµÙدÙÙÙ ÙÙÙÙØªÙØÙرÙÙÙ Ø§ÙØµÙÙØ¯ÙÙÙ ØÙتÙÙÙ ÙÙÙÙØªÙب٠عÙÙÙØ¯Ù اÙÙÙÙ ØµÙØ¯ÙÙÙÙÙÙØ§ Ø ÙÙØ¥ÙÙÙÙØ§ÙÙÙ Ù ÙÙØ§ÙÙÙÙØ°ÙØ¨Ù Ø ÙÙØ¥ÙÙÙ٠اÙÙÙÙØ°Ùب٠ÙÙÙÙØ¯ÙÙ٠إÙÙÙ٠اÙÙÙÙØ¬ÙÙÙØ±Ù Ø ÙÙØ¥ÙÙÙ٠اÙÙÙÙØ¬ÙÙÙØ±Ù ÙÙÙÙØ¯ÙÙ٠إÙÙÙ٠اÙÙÙÙØ§Ø±Ù Ø ÙÙÙ ÙØ§ ÙÙØ²ÙاÙÙ Ø§ÙØ±ÙÙØ¬ÙÙÙ ÙÙÙÙØ°Ùب٠ÙÙÙÙØªÙØÙرÙÙ٠اÙÙÙÙØ°Ùب٠ØÙتÙÙÙ ÙÙÙÙØªÙب٠عÙÙÙØ¯Ù اÙÙÙÙ ÙÙØ°ÙÙØ§Ø¨Ùا
Artinya: Dari âAbdullâh bin Masâûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: âRasûlullâh Shallallahu âalaihi wa sallam bersabda, âHendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta (berbohong), karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (PEMBOHONG).ââ (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At -Tirmidzi, Al-Baihaqi, Ibnu Hiban)
Dari keterangan hadits tersebut jelas bahwa apabila kita berdusta akan membawa kepada dusta berikutnya untuk menutupi kebohongannya. Dengan berdusta bisa menyeret kepada kejahatan dan mengantarkannya kepada neraka.
1. Bercanda yang berlebihan dan berbicara yang tdak perlu
ÙÙØ§ÙÙÙØ°ÙÙÙÙ ÙÙ٠٠عÙÙ٠اÙÙÙÙØºÙÙÙ Ù ÙØ¹ÙØ±ÙØ¶ÙÙÙÙ
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (QS.Al-Mu`minun: 3)
Ayat tersebut menerenanngkan salah satu golongan yang dijanjikan akan masuk ke surga Firdaus, yaitu orang-orang yang menghindari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna.
Islam mengajarkan bahwa menjaga lisan dan berkata yang tidak perlu merupakan amal sangat mulia. Sebab semakin banyak orang berbicara semakin besar peluang berkata salah.
Nabi Muhammad bersabda:
âBarang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.â (Muttafaq`alaih)
2. Berbantahan
Islam mengajarkan umatnya suka beramal bukan suka bicara apalagi berdebat.
Apabila kita ingin menyampaikan kebenaran adalah dengan cara yang santun bukan dengan perdebatan. Sesungguhnya perdebatan tidak akan membawa kepada kebenaran namun akan menimbulkan rasa sakait hati bagi yang kalah berdebat.
Dari Abi Umamah ia berkata. Rasulullah SAW bersabda,âTidaklah tersesat suatu kaum, sesudah mereka menddapatkan petunjuk, kecuali kalau mereka gemar berdebat.â (HR.At-Tirmidzi)
3. Menghina, mencaci maki, berkata jorok
Akhlak buruk dari lisan adalah menghina kepada orang lain dalam bentuk mencaci dan berkata jorok.
Dia menganggap dirinya yang paling baik, paling benar. Menganggap orang lain lebih remeh disbanding dirinya, sehingga terkadang dia tidak mampu memposisikan sebagai pihak yang dicaci atau direndahkan.
Banyak terjadi di lingkungan pergaulan bahkan di kantor, orang yang suka membully orang lain dengan kata-kata menyinggung perasaan bahkan menyakiti hati. Namun orang yang tidak melandasi diri dengan iman akan menganggap itu hal biasa, lumrah dan tidak berdosa. Padahal kalau dia sebagai pihak yang dicaci, dibully dia tidak akan mungkin melakukan seperti itu.
Sesungguhnya kehormatan seseorang akan terlihat dari perkataannya. Orang jawa memiliki kata bijak, âAjining dhiri gumantung obahing lathi.â
Yang maknanya seseorang itu terhormat/bernilai atau tidak tergantung bagaimana ucapan yang keluar dari mulutnya.
Allah berfirman:
ÙÙÙ°ÙØ£ÙÙÙÙÙÙØ§ Ù±ÙÙÙØ°ÙÙÙÙ Ø¡ÙØ§Ù ÙÙÙÙØ§Û ÙÙØ§ ÙÙØ³ÙØ®ÙØ±Ù ÙÙÙÙÙ Ù Ù ÙÙÙ ÙÙÙÙÙ Ù Ø¹ÙØ³ÙÙٰ٠أÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙÙØ§Û Ø®ÙÙÙØ±Ùا Ù ÙÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙÙÙØ§ ÙÙØ³ÙØ§ÙØ¡Ù Ù ÙÙÙ ÙÙÙØ³ÙØ§ÙØ¡Ù Ø¹ÙØ³ÙÙٰ٠أÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙ Ø®ÙÙÙØ±Ùا Ù ÙÙÙÙÙÙÙÙÙ Û ÙÙÙÙØ§ تÙÙÙÙ ÙØ²ÙÙÙØ§Û Ø£ÙÙÙÙØ³ÙÙÙÙ Ù ÙÙÙÙØ§ تÙÙÙØ§Ø¨ÙزÙÙØ§Û بÙÙ±ÙÙØ£ÙÙÙÙÙÙ°Ø¨Ù Û Ø¨ÙØ¦Ùس٠ٱÙÙٱسÙÙ Ù Ù±ÙÙÙÙØ³ÙÙÙÙ Ø¨ÙØ¹Ùد٠ٱÙÙØ¥ÙÙÙ ÙÙ°ÙÙ Û ÙÙÙ ÙÙ ÙÙÙÙ Ù ÙÙØªÙب٠ÙÙØ£ÙÙÛÙÙÙ°ÙØ¦ÙÙÙ ÙÙÙ Ù Ù±ÙØ¸ÙÙÙ°ÙÙÙ ÙÙÙÙ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.(QS.Al-Hujurat: 11)
1. Ghibab dan namimah
Ghibbah adalah menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain, sedangkan Namimah adalah mengadu domba dan menyebar permusuhan. Keduanya perbuatan dosa yang dicela dalam Islam.
Bahkan Allah SWT memberi perumpaaan mereka seakan memakan bangkai saudaranya sendiri.
ÙÙØ§ Ø£ÙÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙØ°ÙÙÙ٠آ٠ÙÙÙÙØ§ Ø§Ø¬ÙØªÙÙÙØ¨ÙÙØ§ ÙÙØ«ÙÙØ±Ùا Ù ÙÙÙ Ø§ÙØ¸ÙÙÙÙ٠إÙÙÙÙ Ø¨ÙØ¹ÙØ¶Ù Ø§ÙØ¸ÙÙÙÙÙ Ø¥ÙØ«ÙÙ Ù ÙÙÙØ§ ØªÙØ¬ÙسÙÙØ³ÙÙØ§ ÙÙÙØ§ ÙÙØºÙØªÙØ¨Ù Ø¨ÙØ¹ÙضÙÙÙÙ Ù Ø¨ÙØ¹ÙØ¶ÙØ§ Ø£ÙÙÙØÙØ¨ÙÙ Ø£ÙØÙØ¯ÙÙÙ٠٠أÙÙÙ ÙÙØ£ÙÙÙÙÙ ÙÙØÙÙ Ù Ø£ÙØ®ÙÙÙÙ Ù ÙÙÙØªÙا ÙÙÙÙØ±ÙÙÙØªÙÙ ÙÙÙÙ ÙÙØ§ØªÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙÙÙ٠إÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙ٠تÙÙÙÙØ§Ø¨Ù Ø±ÙØÙÙÙ Ù
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS.Al Hujurat: 12)
Dan karena buruknya namimah Rasulullah SAW mengancam pelakunya tidak akan masuk surga.
Dari Hudzaifah ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,âTidak akan masuk surga orang yang senang mengadu domba.â (HR.Muslim)
Perpecahan, permusuhan, perselisihan banyak terjadi di lingkungan kita, salah satunya disebabkan karena masih banyak orang yang ghibah dan namimah.
Islam mengajarkan mengajarkan untuk menutup aib atau kekurangan, bukannya menjadikan bahan olok-olok, candaan, bahan bully-an yang justru menimbulkan rasa sakit hati. Akan lebih bijak dinasehati baik-baik bukan dngan menyebar kekurangannya kepada pihak lain.
Akhirnya, marilah kita jaga nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita berupa nikmat lisan dengan berkata baik, tidak menyakiti orang lain, agar kita senantiasa terjaga dari panasnya api neraka.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
