Kapal Perang Sebagai Ujung Tombak Pertahanan Maritim Indonesia

Image
Falah habib nurrohman
Politik | Friday, 30 Jul 2021, 19:58 WIB
Sebuah kapal dengan tipe FBP 57 melakukan tes penembakan Rudal C 705.

"Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarungi ombak samudera" inilah lirik lagu anak tentang kejayaan maritim Bangsa Indonesia di masa lalu. Sebuah lagu yang amat bangga dengan lirik yang bersemangat membuat lagu ini begitu populer. Bagi yang pernah menikmati masa kecil di taman kanak kanak maupun SD pasti tak asing dengan lagu ini.

Terlepas dari lagu tersebut. Nusantara memang pernah berjaya dengan kekuatan armada maritim yang begitu hebat. Di era Kerajaan Majapahit, Kerajaan yang satu ini bahkan mampu melakukan ekspansi militer hingga Temasik ( Singapura ) dan Semenanjung Malaka, campuran antara kemajuan teknologi, tentara yang terlatih, dan juga strategi yang baik, membuat Majapahit memiliki wilayah yang membentang dari Laut China Selatan hingga Samudera Pasifik. Kerajaan lain yang juga berjaya dengan armada laut adalah Kerajaan Sriwijaya. Sriwijaya mampu menguasai banyak wilayah dan berdagang dengan negara - negara kuat lain seperti Kerajaan Champa, China, dan banyak lainnya. Yang membuat Sriwijaya menjadi negara kuat di eranya. Kejayaan ini diteruskan hingga masa kerajaan/kesultanan Islam. Salah satunya Demak, yang bahkan angkatan lautnya pernah head - to - head dengan armada pimpinan Laksamana Alfonso de Albuquerque. Meskipun mengalami kekalahan, Demak tetap saja telah membuat Laksamana Alfonso de Albuquerque ketakutan. Faktor kekalahan Demak hanya di persenjataan yang usang dengan teknologi yang sama seperti era Majapahit. Soal ukuran kapal, Demak bahkan mengirim kapal terbesar mereka yang besarnya berkali - kali lipat lebih besar daripada Armada Spanyol.

Dimasa ORLA. ALRI ( TNI AL era Soekarno ) menjadi armada laut terkuat di selatan. Dengan kekuatan yang mumpuni dan modern. Membuat siapa saja merasa merinding ketika harus berhadapan dengan Armada ALRI. Bagaimana tidak, dengan kapal perang tipe Light cruiser ( penjelajah ringan ) Kelas Sverdolv yang dipersenjatai meriam berat kaliber 152mm, kapal selam Kelas Whiskey yang dipersenjatai torpedo dan rudal permukaan , kapal pemukul reaksi cepat Kelas Komar yang dipersenjatai Rudal Styx. Membuat ALRI begitu dihormati di kawasan. Sekaligus membuat Belanda mundur dari Papua dan menarik armada mereka termasuk Kapal induk Karel Doorman pulang ke negara mereka

Namun penurunan sangat ketara di era ORBA, pemangkasan besar begitu terlihat. Dari 12 kapal selam yang ada, semuanya dipensiunkan dari angkatan laut dan hanya diganti 2 kapal selam kelas U 209 buatan Jerman Barat!. Beberapa kapal Kelas Komar juga dipensiunkan terlalu dini dengan alasan embargo suku cadang dari produsen. Meskipun alasannya benar dan apa adanya, penguatan angkatan laut begitu samar terlihat di era ini. Sampai - sampai di tahun 1993 TNI AL hanya diisi seratusan kapal yang 40 diantaranya bekas Angkatan Laut Jerman Timur ( Volksmarine ) salah satunya kapal anti ranjau Kelas Kondor yang usang dan kapal anti peperangan kapal selam Kelas Parchim, yang bahkan oleh Parlemen Jerman sendiri ditentang penjualannya ke Indonesia.

Hari ini, TNI AL memiliki 200 lebih kapal perang. Terdiri dari berbagai jenis kapal, mulai dari fregat, korvet, KCR ( kapal cepat rudal ), dll. Namun angka 200 kapal masih kurang, apalagi di Korps Hiu Kencana ( korps kapal selam ) baru saja kehilangan kapal selam KRI Nanggala 402 yang dengan ini menunjukkan kemerosotan di kekuatan kapal selam dari yang awalnya hanya 5 unit menjadi 4 unit saja. Padahal, target MEF ( minimum enssential force ) adalah 12 kapal selam. Sehingga pembelian alutsista matra laut begitu penting. Kapal perang nantinya dapat menjadi penegas kedaulatan nasional, dan juga mampu memberikan efek gentar bagi negara lain, sehingga mampu membuat negara lain segan. Kapal perang juga dapat digunakan sebagai armada patroli, untuk mematroli wilayah laut yang luas dari kemungkinan pencurian sumber daya yang ada di laut, juga dapat menjadi sarana bagi aparat untuk menindak peanggaran batas wilayah dan tindak kriminal laut. Sehingga kapal perang yang baik dan mumpuni sangat diperlukan.

Kapal perang begitu multifungsi. Bisa dikerahkan untuk tujuan militer, dan juga bisa digunakan untuk misi kemanusiaan. Contoh, ketika Tsunami Aceh di tahun 2004. Kapal induk Amerika USS Abraham Lincoln CV 72 bergerak cepat mengirim 2.689.000 kg bantuan termasuk makanan dan kebutuhan lainnya. Sehingga kapal perang tidak melulu untuk tujuan militer. Selain itu, kapal perang dapat menjadi alat diplomasi. Sehingga menganggarkan uang untuk membeli kapal perang tidaklah sia - sia.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Cara Memahami Humas Zaman Now

Image

Pentingnya Kehumasan

Image

Public Relation : Media Komunikasi Dalam Kegiatan Marketing

Image

Peran humas dalam hubungan media

Image

Peran Humas diera pandemi

Image

Totalitas Guru Di Masa Pandemi

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image