Mengenal Simbol Kekaayaan Hayati Tanah Papua Melalui PON XX 2020

Image
Waeni Nur Ilmi
Olahraga | Sunday, 25 Jul 2021, 19:20 WIB

Tahukah kamu pemaknaan dari maskot yang digunakan untuk memeriahkan PON XX 2020 Papua? Sebelum mengenal pemaknaan arti maskot tersebut, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa sih memang yang menjadi maskot di Olimpiade Nasional XX 2020 yang baru bisa diadakan di tahun 2021 ini? Biasanya yang dijadikan maskot untuk banyak kegiatan yang sudah dilaksanakan adalah, kumpulan hewan-hewan. Dikarenakan hewan ataupun satwa lainnya, memiliki lebih banyak arti filosofis tersendiri dibandingkan dengan benda ataupun makhluk lainnya. Untuk PON XX 2020 sendiri menggunakan 2 maskot bersamaan, yang diambil dari hewan endemik Papua, yaitu Kangpho dan Drawa. Kangpho sendiri merupakan Kangguru pohon mantel emas, sedangkan Drawa, merupakan perumpamaan dari burung Cenderawasih. Nah, dua maskot yang digunakan tersebut merupakan salah dua dari hewan endemik yang berasal dari pulau Papua, dan juga merupakan salah satu kangguru dan burung yang terkenal di Pulau Timur.

Kangguru sendiri sudah diketahui banyak khalayak sebagai satwa yang berasal dari Australia. Tetapi, ternyata Papua, pulau kita tercinta juga mempunya satwa khas kangguru. Bedanya kangguru yang ada di Papua merupakan jenis kangguru pohon. Salah satu cirinya yaitu mempunyai warna kuning keemasan di area pipi dan kakinya, dari situlah kenapa dijuluki mantel emas.

Kangguru pohon jenis mantel emas. Diambil dari Greeners.Co

Membahas maskot yang kedua, yakni Drawa, yang merupakan perumpamaan dari burung cenderawasih. Burung ini, disebut-sebut sebagai bird of paradise dikarenakan burung endemik yang berasal dari Papua ini mempunyai kemolekan dan keindahan warna bulu yang sangat indah.

Burung cenderawasih. Diambil dari KabarPapua.co (Burung Cenderawasih Warisan Anak Cucu Papua)

Mengetahui lebih lanjut arti filosofi dari pemakaian kedua satwa ini sebagai maskot Olimpiade Nasional XX. Kita harus mengenal terlebih dahulu bahwasanya pulau Papua memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, termasuk dalam jumlah jenis burung. Bahkan tidak sedikit diantaranya yang merupakan burung endemik, yakni burung dengan sebaran terbatas yang secara alami hanya mendiami wilayah tertentu. Burung endemik tidak ditemukan di daerah lain. Burung endemik Indonesia adalah burung yang daerah sebarannya terbatas hanya di Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. Pun endemik Papua, berarti hanya hidup di pulau Papua saja. Menurut Conservation International (1999), pulau Papua dihuni oleh sekitar 650 jenis burung. Sedangkan Beehler, Pratt dan Zimmerman (1986), mencatat terdapat 717 spesies yang menghuni pulau Papua. Sungguh suatu kekayaan alam yang harus kita kagumi dan harus kita jaga kelestariannya.

Membahas terkait burung yang salah satunya di jadikan maskot PON XX 2020 yakni cendrawasih, ternyata di Indonesia terdapat sekitar 30 jenis cenderawasih. Angka yang kemudian mengantarkan negara Indonesia menjadi negara dengan jumlah spesies cendrawasih paling banyak. Dan dari 30 jenis tersebut, 28 diantaranya dapat ditemukan di Papua. Tidak hanya memiliki kekayaan jenis (species richness) yang tinggi, tetapi juga memiliki tingkat endemisitas jenis (species endemism) yang tinggi pula. Endemisitas burung Papua merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Dari sekitar 426 spesies burung endemik Indonesia, lebih dari 50 jenis tersebar terbatas di pulau Papua.

Untuk kangguru pohon mantel emas sendiri, mereka hidup hampir di seluruh wilayah Papua (daratan dan pulau) dengan menempati 80% luas daratan Papua sebagai habitat aslinya bersama fauna lainnya. Kanguru pohon hidup di dataran tinggi dan kawasan hutan pegunungan di Papua. Khususnya di Papua Barat, kanguru pohon dapat dijumpai di Manokwari, Bintuni, Sorong, Sorong Selatan, Maybrat, Waigeo, Fakfak, Kaimana, Wondama/Wasior dan Raja Ampat, tangkas Johan, peneliti dari Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati Universitas Papua (UNIPA) Manokwari. Dan di Papua, selain kanguru pohon mantel emas terdapat beberapa jenis lain, yaitu kanguru pohon hias (Dendrolagus goodfellowi), kanguru pohon mbaiso (Dendrolagus mbaiso), kanguru pohon nemena (Dendrolagus ursinus), kanguru pohon kelabu (Dendrolagus inistus), dan kanguru pohon doria (Dendrolagus dorianus). Semua jenis kanguru pohon ini memiliki ciri khas masing-masing.

Pemilihan satwa endemik yang terkait dengan maskot PON XX 2020 ini memang dipilih karena satwa tersebut merupakan satwa endemik atau khas dari pulau Papua, yakni cendrawasih dan kangguru pohon mantel emas. Tetapi dari design logo maskot, kangpho dan drawa tersebut, punya arti menyeluruh seperti saya sebutkan diatas. Makna tersebut digambarkan sebagai kekayaan hayati yang memang tersimpan dari timur.

Pada kepala Kangpho memiliki topi atau penutup kepala berbentuk segitiga Puncak Salju yang menggambarkan ciri pengunungan yang ada di Papua. Begitupun Ukiran Ikat Pinggang yang memang diambil dari pakaian adat Papua sebagai bentuk tradisi dan penghormatan pada nenek moyang. Juga Obor yang dipegang oleh kangpho menandakan semangat bertanding dengan sportif antar daerah di Indonesia selama olimpiade baik sebelum dan sesudah olimpiade ini dimulai, sebagai perumpaan juga bahwasanya masyarakat Indonesia harus menjungjung tinggi toleransi dan semangat persatuan agar selama pertandingan nanti semua bisa tercapai dengan damai. Rok Rumba-Rumba yang di pakaikan pada kangpho dimaksudkan sebagai seluruh jajaran baik pihak terkait maupun masyarakat menyambut hangat dan akrab seluruh peserta olimpiade di tanah Papua.

Drawa ataupun burung cendrawasih yang dijadikan maskot di olimpiade ini pun sama, memegang sebuah obor yang arti filosofisnya sebagai semangat bertanding dengan sportif. Di gambarkan pada tubuh drawa dengan warna oranye, mengartikan bahwasanya kehangatan, persahabatan dan cinta kasih yang ditujukkan untuk seluruh peserta terkait olimpiade ini oleh tanah papua, dan juga berlaku bagi seluruh Indonesia. Pada leher drawa pun di kalungkan medali dengan tali merah putih yang bertujuan untuk sama-sama bersemangat dalam pelaksanaan olimpiade ini untuk merebut medali demi NKRI. Pakaian adat holim atau juga bisa disebut koteka, di pakaikan di tubuh drawa untuk kembali mengenalkan ciri khas kekayaan yang dimiliki oleh tanah papua, salah satunya yakni pakaian adatnya.

Tanah Papua memang begitu banyak memiliki kekayaan hayati baik dari tumbuhan, alam, maupun satwa. Begitulah yang mempelopori bahwasanya Papua merupakan sebuah mentari harapan baru dari timur. Banyak dari kekayaan hayati tersebut yang harus kita lestarikan dan kita kenali masing-masing untuk lebih mencintai dan menghargai setiap kekayaan yang tersebar itu. Pelaksanaan olimpiade ini pun menjadi salah satu ajang juga untuk generasi muda, untuk terus menggali potensi harapan-harapan baru yang ada di seluruh pulau Indonesia. Seperti halnya mengenali hewan atau satwa endemik khas dari pulau yang ada di seluruh Indonesia. Lebih jauh lagi kita bisa turut mengkampanyekan suatu kegiatan yang ditujukkan untuk mempertahankan kelestarian hewan endemik tersebut agar tidak punah.

Membicarakan kepunahan soal kekayaan hayati ini pastinya bukanlah hal yang langka. Mengingat pemahaman kita akan kelestarian atau angka-angka tentang kepunahan satwa atau tumbuhan yang didapat sekarang sangat menyedihkan. Maka alangkah baiknya kita juga terus memperkaya data-data tentang kekayaan hayati yang masih bisa kita jaga untuk bisa memunculkan harapan-harapan baru bagi negeri Indonesia.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

LITERASI DIGITAL DAN PERAN GURU SAAT PANDEMI

Image

Pagebluk dan Wajah Murung Pendidikan Indonesia

Image

Jangan Kau Beri Tahu Kepada Mereka

Image

Andai pandemi pergi, MAHASISWA KESEHATAN MEMBUTUHKAN PRAKTIKUM DI LAPANGAN BUKAN SEKADAR TEORI

Image

Enam Tip Memilih Reksa Dana Terbaik untuk Pemula, Nomor 2 Sering Disepelekan

Image

PANDEMI CORONA MEREDA SEMUA KEMBALI CERIA

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image