Doa, Ulama, dan Akhir Hayat yang Indah

Image
Harits Masduqi
Agama | Friday, 16 Jul 2021, 14:26 WIB

Kawan, inilah riwayat terkenal yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam dengan seorang pria yang lama berdiam diri di masjid padahal matahari sudah mulai tinggi dan waktunya orang bekerja. Setelah ditanya Rasulullah SAW, pria itu menjawab bahwa dia lama berdoa karena banyaknya hutang yang di tanggungnya. Nabiyullah SAW kemudian mengajari pria tersebut untuk membaca doa yang perlu dibaca menjelang pagi dan petang, "Allahumma inni a'udzubikaminal hamni wal hazani. Waa'udzubika minal ajzi wal kasli. Wa a 'udzubika minal bughli wal jubni. Waa'udzubika min gholabatiddaini wa qahrirrijal."

(Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari rasa kesusahan dan duka-cita. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas, dan aku berlindung kepada Engkau dari bakhil dan pengecut. Dan aku berlindung kepada Engkau dari pengaruh berhutang dan kekuasaan orang lain).

Doa di atas diterjemahkan dengan redaksi nan indah oleh ulama dan sastrawan kharismatik Indonesia, Allahyarham Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Buya Hamka. Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama dan pengarang beberapa karya monumental seperti Tafsir Al-Azhar, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan karya-karya besar lainnya.

Sampai di paragraf ini pikiranku menerawang, merenungi kenyataan dalam kehidupanku di sebuah pinggiran kampung di Kota Malang. Tetangga di sebelah kanan dan kiri rumahku adalah pemeluk agama Nasrani. Di depan rumahku ada tetangga sekaligus kolega di kampus yang beragama Islam dengan nuansa Kejawen. Di sebelah kiri depan rumah ada keluarga keturunan Tionghoa yang telah memeluk agama Islam sejak beberapa tahun yang lalu.

Alhamdulillah, kami rukun-rukun saja, sama-sama relijius, menjunjung tinggi toleransi, dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di kampung. Teringatlah aku pada apa yang pernah disampaikan oleh almarhum Buya Hamka, "Meskipun pandangan kita berbeda, kita masih bisa bertetangga secara jujur. Karena pada pendirian kami, agama itu tidak bisa dipaksakan. Agama adalah soal petunjuk dan hidayah Ilahi."

***

Lima belas tahun yang lalu di suatu pagi nan dingin di Sir Louis Matheson Library, Monash University of Melboune, aku menyepi untuk membaca dan menulis makalah tentang budaya menulis dan membaca di Indonesia. Di tengah kesibukan belasan mahasiswa yang seakan berlomba mencari sumber bacaan untuk bahan kuliah, aku duduk menyendiri di sudut lantai dua sambil membuka arsip-arsip lama majalah terbitan Indonesia. Setelah sejenak memandang tatanan bangunan dan pepohonan yang tampak serasi dari jendela perpustakaan, aku meneruskan membuka majalah dan tak seberapa lama menemukan sebuah berita duka dengan dihiasi foto wajah Haji Abdul Malik Karim Amrullah.

Aku tertegun lama sekaligus terpesona memandang foto itu. Tampak wajah Buya Hamka tersenyum, seolah-olah secuil pemandangan surga telah diperlihatkan kepadanya sebelum pelupuk mata abuya nan mulia itu tertutup selamanya di dunia. Seakan-akan beliau telah mendengar para malaikat lembut berkata, "Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya."

***

Dalam beberapa berita, gambar atau video yang dimuat di berbagai media sosial, kita dihadapkan pada kenyataan yang pahit; satu demi satu ulama kebanggaan kita berguguran di tanah pusaka Indonesia, mati syahid di tengah ganasnya Pandemi Covid-19 Varian Delta. Kawan, bukankah gugurnya para ulama itu musibah?

Ingatkah kau pada sabda Baginda Rasulullah Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam:

"Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama" (HR Ath-Thabrani).

Salah satu pelipur lara mungkin adalah berita kematian nan indah dari para ulama kita. Misalnya, dalam videonya yang dimuat di berbagai media massa setelah berpulangnya ulama WNI kelahiran Madinah yang terkenal sejuk dalam berdakwah, Ali Saleh Mohammed Ali Jaber (Syekh Ali Jaber), K.H. Abdullah Gymnastiar dengan keharuan yang mendalam berkata, "Aa Gym saat ini sedang berada di Yarsi. Alhamdulillah beberapa saat yang lalu sudah berjumpa dengan almarhum. Alhamdulillah Aa jadi saksi, beliau wajahnya bersih dan tersenyum. Allahu Akbar."

Kawan, inilah senyuman dalam kematian. Bukankah ini akhir hayat indah yang didambakan banyak insan? Insya Allah, semoga kelak kita mengalami kebahagiaan yang sama. Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin.

Dunya, Duka di Tengah Corona

@HaritsMasduqi

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Harits Masduqi is a lecturer and writer with academic credentials from INA, AUS, and UK.

Halalan Thayyiban dan Masa Depan

Doa, Ulama, dan Akhir Hayat yang Indah

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Menangisi Kehilangan, Ihwal Manusia yang Posesif

Image

Tokoh-Tokoh Ahlusunnah wal Jama'ah

Image

Sejarah Terbunuhnya Husain bin Ali

Image

Mengenal Konsep Syiah Imamiyah dan Perkembangannya di Indonesia

Image

Kamu Harus Tahu, Ini Cara Mudah Menghapus Follower TikTok yang Menyebalkan

Image

Proses Konversi Golongan Syiah dan Khawarij

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image