Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ade Sudaryat

Mengendalikan Sikap Egois, Menumbuhkan Kedermawanan dan Sikap Empati

Agama | Tuesday, 03 May 2022, 03:12 WIB

Dalam sebuah program pelatihan kepemimpinan, seorang pelatih memberikan tugas kepada para peserta pelatihan. “Besok, semua pesera harus membawa makanan masing-masing untuk makan siang. Panitia tidak akan mempersiapkan makan siang, kecuali air minum saja. para peserta pelatihan harus membawa makanan terbaik yang paling disukai.”

Singkat cerita keesokan harinya pada sessie acara makan siang para peserta pelatihan dibawa ke sebuah aula besar. Mereka diberitahukan sebelumnya, makan siang akan dilakukan secara lesehan, tidak seperti hari-hari biasanya yang dilakukan di ruang makan dan di atas meja makan.

Setelah tiba di aula, para peserta pelatihan dipersilakan untuk duduk berhadap-hadapan dengan peserta lainnya, kemudian diperintahkan untuk mengeluarkan dan membuka wadah makanannya. Masing-masing peserta melakukannya. Benar saja berbagai makanan enak versi masing-masing peserta begitu beragam.

Kemudian seorang pelatih mengajak para peserta untuk berdoa sebelum makan. Setelah selesai berdoa, pelatih tersebut tidak mempersilakan makan, namun ia berkata, “Sebelum makan, silakan masing-masing peserta untuk menukarkan makanan yang dibawa dengan peserta pelatihan yang ada di hadapannya.”

Hampir semua peserta pelatihan terdiam sejenak. Seperti ada yang memberi komando, tak ada seorang pun yang melakukannya. Namun setelah beberapa kali pelatih memerintahkannya, barulah para peserta melakukannya, itu pun dengan raut wajah yang nampak keberatan. Tak sedikit peserta pelatihan yang melirik makanan enak yang dibawanya tengah disantap peserta pelatihan yang ada di hadapannya, sementara ia memakan makanan yang tidak sesuai dengan seleranya.

Sessie makan siang pun usai. Pelatih memahami kekecewaan peserta pelatihan yang nampak pada raut-raut wajah mereka. Namun ada pula peserta pelatihan yang nampak ceria, kemungkinan besar ia memperoleh makanan enak. Para peserta pelatihan kembali lagi ke ruangan pelatihan seraya pelatih tak memberikan komentar apapun.

Selang dua hari kemudian, pelatih memberikan tugas yang sama seperti dua hari sebelumnya. Masing-masing peserta ditugaskan membawa makanan terenak versi mereka untuk makan siang.

Seperti dua hari sebelumnya, sessie makan siang dilaksanakan di aula. Masing-masing peserta berhadap-hadapan. Setelah pelatih memimpin doa, tanpa ada lagi perintah lainnya, masing-masing peserta dipersilakan menyantap makanan yang dibawanya, dan makanannya tidak lagi ditukar dengan peserta lainnya.

Tidak seperti dua hari sebelumnya, kini para peserta membawa makanan alakadarnya, bahkan ada peserta yang hanya membawa nasi yang ditumpangi gorengan plus cabe rawit yang ia beli dari pedagang yang ada di depan gedung tempat pelatihan. Ia berpikir kalaupun membawa makanan enak percuma saja sebab akan menjadi milik peserta lainnya.

Singkat cerita, sessie makan siang pun usai. Meskipun pelatih sudah memerintahkan untuk menghabiskan makanan yang dibawa, banyak peserta yang tidak menghabiskan makanannya, bahkan peserta yang membawa nasi dengan lauk gorengan plus cabe rawit di atasnya, ia tak memakannya sama sekali. Nasi yang sudah dingin dengan lauk gorengan berminyak yang sudah layu membuat selera makannya ikut layu juga.

Setelah masuk ruang pelatihan, kini pelatih memberikan komentar atas tugas yang diberikannya. “Dua hari yang lalu, raut-raut wajah Anda kecewa karena makanan enak yang Anda bawa menjadi santapan teman-teman Anda. Kini raut-raut wajah Anda pun kecewa, lagi-lagi karena makanan yang Anda bawa. Bedanya, kini Anda kecewa karena harus menyantap makanan seadanya yang sebenarnya Anda sendiri tidak menyukainya.”

“Orang yang baik siapapun ia, dan apapun kedudukannya adalah seseorang yang mampu memberikan segala sesuatu yang terbaik bagi dirinya sendiri dan orang lain. Ia meyakini pelayanan terbaik, perbuatan terbaik yang ia berikan kepada orang lain, suatu saat akan kembali kepada dirinya. Orang yang baik adalah orang yang mampu mengendalikan sikap egois, dermawan dan mampu bersikap empati.”

“Ingatlah, kita menjalani kehidupan dengan apa yang kita peroleh, dan kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan alias dermawan.” Demikian ujar pelatih menutup sessie pelatihan pada hari tersebut.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tersebut adalah pada setiap diri kita bersemayam sikap egois. Perasaan ingin menang sendiri, ingin enak sendiri, ingin diperlakukan dan dilayani dengan baik oleh orang lain seraya enggan memperlakukan orang lain dengan baik selalu tumbuh di hati.

Seperti pada kisah tersebut, ketika kita yakin bahwa yang baik itu akan menjadi milik kita, dengan sungguh-sungguh kita mempersiapkannya. Namun ketika kita yakin bahwa yang kita usahakan akan dimiliki dan dinikmati orang lain, kita mempersiapkan alakadarnya, asal-asalan.

Satu bulan penuh, selama Ramadhan kita dilatih untuk mengendalikan sikap egois dan menumbuhkan sikap kedermawanan. Selama bulan suci hampir semua orang mampu melakukan berbagi, tingkat paling minimal berbagi makanan untuk berbuka puasa.

Demikian pula kedermawanan yang berupa harta, banyak orang yang mau berbagi uang dan pakaian kepada orang lain, terutama kaum papa dan anak yatim. Sampai akhir Ramadhan kedermawanan ini masih berlanjut dengan mengeluarkan zakat fitrah, infak, dan sedekah.

Sungguh indah jika kedermawanan dan kemampuan mengendalikan sikap egois ini terus kita pupuk dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan cara seperti ini, persaudaraan dan Islam sebagai rahmatan lil’alamin akan benar-benar terasa di sekitar lingkungan kehidupan kita.

Kemampuan mengendalikan sikap egois dan bersikap empati merupakan salah satu akhlak orang beriman yang harus kita miliki. Malahan jika kita menelusuri lebih jauh, bukti keimanan kita harus sering dibuktikan dalam akhlak, etika, atau tatakrama kehidupan bermasyarakat. Tak sedikit perbuatan yang nampak bersifat sosial kemasyarakatan bisa mengurangi kualitas keimanan, bahkan melenyapkan keimanan yang ada pada hati kita.

Bertutur kata yang baik, memuliakan tamu dan tetangga, memberi makan kepada orang-orang yang kelaparan, menjaga kebersihan lingkungan, menghilangkan duri dari jalan, bersikap empati merupakan sebagian akhlak yang jika kita tidak melakukannya, maka kualitas keimanan kita akan berkurang bahkan hilang.

Kita diwajibkan untuk memperlakukan setiap orang dengan baik seperti halnya kita ingin diperlakukan dengan baik oleh semua orang. Kita harus memberikan apapun yang terbaik kepada orang lain seperti halnya kita ingin menerima pemberian terbaik dari orang lain.

Jika selepas Ramadhan, kita malah kembali menumbuhkan sikap egois, mengembalikan perilaku kikir atau bakhil, ingin menerima sesuatu yang terbaik dari pemberian orang lain seraya senang memberikan sesuatu yang terjelek yang tidak kita sukai kepada orang lain, bisa jadi kita gagal mengikuti pelatihan selama bulan suci Ramadhan. Kondisi kita tak jauh berbeda dengan para peserta pelatihan pada kisah di awal tulisan ini.

Kalaulah kita tidak mampu memberi berupa barang atau uang kepada orang lain, setidaknya kita harus mampu menumbuhkan sikap empati kepada orang lain. Kita harus mampu menghargai orang lain, menjaga harga diri dan perasaan orang lain.

Dalam hal bersikap empati, Sayidina Ali bin Abin Thalib r.a pernah memberikan nasihat kepada gubernur Mesir, Muhammad bin Abu Bakar, “Bertakwalah kepada Allah! Janganlah sekali-kali kamu menjadi serigala yang membahayakan penduduk dan merampas makanan mereka. Mereka adalah saudaramu seagama. Kalau mereka tidak sama agamanya denganmu, hargailah hak asasinya, karena mereka pun manusia seperti kamu. Jauhkan sikap sombong dan tidak mau memaafkan kekeliruan orang lain.”

Selanjutnya ia berujar, “Hendaklah kamu selalu berlapang dada untuk memaafkan setiap kekeliruan­-kekeliruan yang mereka perbuat. Jauhkan perasaan menyesal karena kamu telah memaafkan kekeliruan orang lain, dan jangan pula kamu merasa senang karena kamu telah menjatuhkan hukuman kepada orang yang berbuat kekeliruan. Hendaklah kamu berlaku adil kepada semua pendudukmu. Berbuatlah kebajikan sebanyak yang kamu mampu melakukannya. Jagalah persamaan hak bagi semua orang, baik yang dekat maupun yang jauh denganmu.”

Ilustrasi : dermawan (sumber gambar : https://republika.co.id)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image