Yakinkah Amalan Kita Diterima Di Sisi-Nya?

Image
Muhtar Arifin
Agama | Sunday, 01 May 2022, 06:58 WIB
Sumber Ilustrasi: id.wikipedia.org

Tatkala seseorang telah berbuat banyak kebaikan di bulan ramadhan, terkadang muncul dalam hati bahwa amalnya pasti diterima. Lebih dari itu, terkadang muncul dalam hatinya suatu perasaan merendahkan orang yang amalnya tidak segiat dia dan tidak sebanyak amal yang ia lakukan. Ia menganggap kecil bacaan al-Qur’an orang lain yang tidak sebanyak dia. Menganggap ringan orang yang bersedekah tidak sebanyak sedekahnya. Pantaskah ini dimiliki oleh seorang muslim?

Ada sebuah atsar yang sudah seyogyanya direnungkan kembali di penghujung ramadhan seperti sekarang ini. Atsar tersebut datang dari Abu Darda’ – radhiyallahu ‘anhu – dan dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam kitabnya Tafsirul Qur’anil Adhim (III/85):

لَأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}

Sungguh, tatkala aku bisa yakin bahwa Allah telah menerima dariku satu kali shalat itu lebih aku cintai daripada dunia seisinya. Hal itu karena Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah hanyalah menerima (amal) dari orang yang bertakwa”. (QS. Al-Maidah: 27).

Dalam atsar ini beliau mengungkapkan bagaimana penerimaan amalan itu adalah sesuatu yang tersembunyi dari manusia. Allah tidak menampakkan kepada para hamba-Nya secara pasti di dunia ini amalan yang diterima dan amalan yang tidak diterima. Oleh karena itu, setelah seseorang beramal dengan berusaha untuk ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan) maka selanjutnya ia memiliki raja' (berharap agar amalannya diterima).

Atsar ini juga mengingatkan kita agar memiliki khauf (rasa khawatir terhadap amalan yang kita lakukan tidak diterima di sisi Allah). Hendaknya kita tidak memastikan bahwa amalan kita diterima di sisi Allah. Hal itu karena ada beberapa hal yang bisa saja terjadi pada manusia tanpa disadarinya:

1. Terjatuh dalam sayyiatun mahiyah (dosa yang dapat menghapuskan pahala amalan kebaikan yang telah ia lakukan)

2. Melakukan dzunubun jariyah (dosa yang mengalir sehingga akan menghabiskan pahala yang dimiliki.

3. Melakukan i’tida’ 'a'al ibad (kedhaliman terhadap sesama hamba sehingga pahala-pahalanya akan habis untuk menyelesaikan kedhaliman tersebut di hari kiamat).

4. Seseorang meninggal dalam keadaan su-ul khatimah (penghujung kehidupan yang buruk). Wal’iyadhu billah.

Demikianlah sejenak tafakkur kita di penghujung ramadhan ini. Mudah-mudahan Allah menerima amalan yang kita lakukan di bulan ini. Semoga Allah melindungi kita dari perkara-perkara yang dapat merusak amalan-amalan yang telah kita lakukan. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Belajar, Mengajar, Membaca, Menulis, Berlatih

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Layanan Paspor Hari Sabtu Edisi Unit Layanan Paspor

Image

Telah Memenuhi Syarat, Tiga Narapidana Rutan Jepara Mendapat Asimilasi

Image

Lapas Brebes Ikuti Pengarahan dari Kakanwil dan Kadivpas Kemenkumham Jateng Melalui Zoom

Image

Kalapas Batang Ikuti Kursus Orientasi Sedang Pramuka

Image

Tingkatkan Kedisiplinan CPNS Lapas Brebes Melaksanakan Apel Malam

Image

Etika Jurnalistik: Pelanggaran Privasi

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image