Paradigma Intervensi Kemiskinan

Image
Muhammad Syafi'ie el-Bantanie
Bisnis | Sunday, 04 Jul 2021, 07:41 WIB

Muhammad Syafiie el-Bantanie

(Direktur Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa)

Pernahkah Anda berjalan dalam labirin? Ketika terjebak di dalamnya, sulit bagi kita menemukan jalan keluar. Nah, apa yang terjadi bila kemiskinan di Indonesia ibarat labirin kemiskinan? Maka, sulit bagi kita untuk mengentaskannya.

Labirin kemiskinan terjadi ketika pada satu sisi upaya pengentasan kemiskinan dilakukan, namun pada sisi lain produksi kemiskinan juga terus berjalan. Di sinilah pentingnya kita memahami perspektif kemiskinan dengan tepat agar bisa memberikan intervensi secara tepat pula.

Dalam konteks ini, penulis menggunakan CIBEST Model karya Irfan Syauqi Beik, untuk memahami kemiskinan. Model ini menarik karena kemiskinan tidak hanya dipotret dari aspek material, namun juga spiritual. Dalam CIBEST Model, terdapat empat kuadran.

Kuadran pertama adalah kaya spiritual dan material. Kuadran ini tidak perlu kita pikirkan. Mereka adalah orang-orang mapan dan dermawan. Mereka juga sudah tersadarkan akan kewajibannya membayar zakat, infak, sedekah, dan bahkan wakaf.

Kuadran kedua adalah kaya spiritual, namun miskin material. Pada dasarnya orang-orang dalam kuadran ini adalah orang-orang baik, hanya terhambat akses ekonominya. Kuadran ini menjadi objek intervensi para lembaga ziswaf.

Kuadran ketiga adalah miskin spiritual, namun kaya material. Kuadran ini jarang mendapat perhatian untuk diintervensi oleh lembaga ziswaf. Padahal, di sinilah bisa bermula munculnya labirin kemiskinan. Orang-orang dalam kuadran inilah yang potensial memproduksi kemiskinan.

Kuadran empat adalah miskin spiritual dan material. Dengan kata lain miskin absolut. Sudahlah miskin material, mereka juga miskin spiritualnya. Bayangkan kemudharatan yang akan terjadi bila kuadran empat bertemu dengan orang-orang dalam kuadran tiga.

Apa yang bisa terjadi? Eksploitasi kemanusiaan, sehingga memproduksi kemiskinan. Orang-orang dalam kuadran empat memiliki tipologi mau melakukan apapun demi keluar dari jerat kemiskinan. Celakanya, miskin spiritual menjadikan mereka tidak ragu mengorbankan harkat kemanusiaannya.

Karena itu, paradigma intervensi kemiskinan yang kita bangun perlu utuh dan menyeluruh. Kemiskinan tidak hanya dilihat dari aspek material, namun juga spiritual. Miskin material, namun kaya spiritual (kuadran kedua), rasanya tidaklah terlalu berbahaya.

Mengentaskan orang-orang dalam kuadaran ini juga relatif tidak sulit. Mengapa? Karena pada dasarnya mereka adalah orang-orang baik. Hanya tidak memperoleh kesempatan dan akses terhadap kesejahteraan. Maka, cukup diberikan stimulasi berupa pemberdayaan, mereka bisa keluar dari kemiskinan.

Namun, berbeda dengan kuadran empat. Melakukan intervensi pemberdayaan saja tidak cukup. Namun, mesti didahului atau setidaknya dibarengi intervensi spiritual. Di sinilah urgensi program pemberdayaan ekonomi bersinergi dengan program pendidikan dan dakwah.

Persoalan kaum dhuafa seringkali bukan hanya seputar ekonomi, namun yang lebih mendasar adalah persoalan pola pikir (mindset). Karenanya, pola pikir mereka perlu diintervensi dan diperbaiki.

Pada beberapa kasus, ketika intervensi hanya pada aspek pemberdayaan ekonomi tanpa menyentuh aspek pendidikan dan spiritual, maka yang terjadi adalah mereka kembali terjerat dalam kemiskan. Miskin spiritual menjadikan mereka sering melakukan hal-hal tidak produktif, bahkan destruktif yang menyeret mereka kembali kepada kemiskinan.

Selanjutnya, poin penting yang tidak boleh lupa adalah melakukan intervensi kepada orang-orang dalam kuadran tiga. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sumberdaya ekonomi, namun miskin pemahaman dan pengamalan keagamaan. Mereka terus berambisi menumpuk kekayaan meski harus mengeksploitasi oranglain.

Melakukan intervensi pada kuadran ini perlu strategi dan pendekatan program yang tepat. Kita mesti meriset dengan cermat apa yang dibutuhkan oleh kuadran ini sebagai pintu masuk mengintervensi kemiskinan spiritual mereka. Kolaborasi program pendidikan dan dakwah sangat berperan dalam keberhasilan intervensi pada kuadran ini.

Tolok ukur keberhasilan intervensi kuadran ketiga, ketika banyak di antara mereka yang berhasil berpindah ke kuadran pertama, yaitu kaya spiritual dan material. Keberhasilan intervensi kuadran ketiga akan berpengaruh pada berkurangnya produksi kemiskinan.

Bagaimana dengan orang-orang dalam kuadran pertama? Mereka mesti dijadikan mitra strategis. Selain optimalisasi kedermawanannya, mereka juga bisa diajak berkolaborasi memberikan expertise-nya untuk terlibat dalam pemberdayaan kuadran kedua dan keempat.

Dengan demikian, kita berharap pengentasan kemiskinan bisa terus berjalan baik. Masyarakat sejahtera terus bertambah. Dan, yang tidak boleh lupa, kesejahteraan (material) yang dicapai juga mesti disertai peningkatan spiritual.

Semestinya zakat bukan hanya membebaskan kaum dhuafa dari kemiskinan material, namun juga kemiskinan spiritual. Sehingga, mereka menyadari identitas kehambaannya untuk beribadah dan mengabdi hanya kepada Allah SWT.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Direktur Lembaga Pengembangan Insani, Founder dan CEO Ekselensia Tahfizh School, Penulis + 50 buku.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Menangisi Kehilangan, Ihwal Manusia yang Posesif

Image

Tokoh-Tokoh Ahlusunnah wal Jama'ah

Image

Sejarah Terbunuhnya Husain bin Ali

Image

Mengenal Konsep Syiah Imamiyah dan Perkembangannya di Indonesia

Image

Kamu Harus Tahu, Ini Cara Mudah Menghapus Follower TikTok yang Menyebalkan

Image

Proses Konversi Golongan Syiah dan Khawarij

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image