Mudik dan Rangkuman Fikih Singkatnya

Image
dhul ikhsan
Gaya Hidup | Saturday, 30 Apr 2022, 12:18 WIB

Mudik adalah tradisi yang tak pernah terpisahkan dari rakyat Indonesia, khususnya di hari raya Idul Fitri. Tradisi tersebut lahir dari berbagai macam pemikiran, mulai dari sumber-sumber keagamaan, adat istiadat, ekonomi, dan lain sebagainya.

ilustrasi mudik. Sumber : Getty Image

Para perantau yang mengadu nasib di ibukota Jakarta dan sekitarnya menjadi jumlah pemudik terbanyak. Mereka berbondong-bondong datang kembali ke tanah kelahiran untuk menggenapi rasa rindu yang menumpuk. Namun, perantau yang berada di kota-kota besar di Indonesia juga ambil ikut bagian meramaikan tradisi mudik ini.

Proses perjalanan mudik tentu menjadi proses yang panjang dan melelahkan. Banyak konsekuensi yang bisa dialami para pemudik di jalan. Proses panjang dan melelahkan ini sangat disayangkan apabila tidak diniatkan sebagai bagian dari ibadah. Maka dari itu, terdapat beberapa ketentuan fikih di dalam mudik tersebut, dan begini rangkuman singkatnya,

1. Niatkan Mudik untuk Allah Semata

Para ahli fikih selalu menekankan niat kita didalam setiap aktivitas untuk mengharapkan ridha Allah SWT. Termasuk juga aktivitas mudik. Sebagaimana firman Allah SWT :

“Katakanlan wahai Muhammad, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah.” (QS. 6: 162).

Sebelum berangkat ke kampung halaman, niatkanlah untuk mencari keridhaan-Nya. Sehingga di setiap langkah memiliki pahala dan keberkahan hingga sampai di tujuan.

2. Menulis Wasiat

Perjalanan panjang mudik selalu memiliki resiko. Baik itu di darat, laut, dan udara. Tiada yang tahu takdir yang akan ditemui bagi yang hendak melakukan safar.

Rasulullah SAW yang setiap harinya melakukan safar untuk kepentingan dakwah pun tidak terlepas dari resiko di jalan. Oleh karenanya beliau SAW bersabda : “Seorang muslim yang mempunyai sesuatu yang ingin diwasiatkan, maka ia sudah harus menulis wasiatnya bila ingin menginap/safar dua malam." (Al-Bukhari dan Muslim).

Maka sabda Rasulullah SAW terkait menuliskan wasiat sebelum melakukan perjalanan panjang menjadi dasar ketentuan adab bagi seorang muslim di seluruh dunia. Disunnahkan bagi yang akan safar untuk menulis wasiat (hak-haknya yang ada pada orang lain dan kewajiban-kewajibannya yang belum ditunaikan).

3. Berpamitan

Islam adalah agama yang menjunjung sosialisasi antarmanusia. Oleh karenanya menjaga adab bertetangga adalah suatu keharusan. Disunnahkan, sebelum bepergian panjang seorang muslim berpesan kepada tetangganya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa yang akan mengadakan perjalanan, hendaklah mengatakan kepada orang yang akan ditinggalkan: ‘Aku titipkan kalian kepada Allah, Dzat yang tidak menyia-nyiakan titipan yang dipasrahkan kepada-Nya.” (Ahmad).

Dan bagi yang tetangga yang dipamiti sunnah menjawab pesan para pemudik, “Semoga Allah membekalimu ketakwaan, mengampuni dosa-dosamu dan memudahkanmu untuk melakukan kebaikan di manapun engkau berada.” (At-Tirmidzi).

4. Jaga Keharmonisan di Jalan

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya.” (Abu Dawud).

Menjaga akhlak baik sepanjang perjalanan mudik adalah kewajiban yang paling utama. Salah satu diantaranya adalah tidak terburu-buru, dan saling mendahului kepentingan sesama pemudik. Hal ini agar saat dalam perjalanan, sesama pengendara tidak saling unjuk-ego masing-masing. Mengedepankan toleransi dan kesabaran semestinya dikedepankan.

5. Berbekal Dengan yang Halal dan Baik

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat Yang Maha Baik dan Ia hanya menerima yang baik.” (Muslim).

Maka dari itu, menyiapkan perbekalan yang baik adalah salah satu keutamaan selama dalam perjalanan, baik itu dari segi makanan, persediaan uang cash, hingga kuota internet. Karena biasanya, pemilik layanan jaringan internet seperti Telkom Grup (Telkomsel dan IndiHome) akan memperkuat sinyal mereka di sepanjang rute mudik. Karena dengan sinyal internet yang kuat, dan Wifi yang cepat, akan mudah terpantau kondisi terkini para pemudik selama beraktivitas.

6. Mempermudah Ibadah Shalat

Allah SWT mengizinkan hamba-hambanya mempermudah ibadah shalat tatkala dalam perjalanan panjang. Seorang musafir diperbolehkan untuk meng-qasar (memendekkan) jumlah rakaat salat. Seperti contoh shalat Zuhur, Ashar, Isya yang wajib didirikan sebanyak 4 rakaat menjadi 2 rakaat saja.

Atau, seorang pemudik dapat menjamak (menggabungkan dua shalat dalam satu waktu) sekaligus meng-qasar (memendekkan rakaat) shalat dalam satu waktu. Untuk detail ketentuannya dapat browsing di situs-situs fikih shalat, atau bertanya langsung ke ustadz-ustadz yang paham akan agama.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Lapas Batu Ikuti Sosialisasi Penyusunan SKP Secara Daring

Image

Cara Dapat Barang Gratis di Akulaku Tanpa Undang Teman

Image

Kejujuran Adalah Bekal Hidup Mu Nak

Image

Game Online PC Gratis Yang Wajib Kamu Mainkan Sekarang!!

Image

Kemenkumham Jateng Siap Diaudit BPK RI

Image

Masa Berlaku Paspor Kini 10 Tahun, Imigrasi Siapkan Juknisnya

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image