PENGUKURAN KINERJA BANK SYARIAH MENGGUNAKAN BALANCE SCORECARD

Image
Nadia imtinan
Eduaksi | Monday, 28 Jun 2021, 13:22 WIB

PENGUKURAN KINERJA BANK SYARIAH MENGGUNAKAN BALANCE SCORECARD

Mellynda Nurjannah, Muhammad Fatchul Anas, Nadiah Fauziyah, Lailatus Saadah, Achmad Majdi Zain, Bayu Kuncoro, Suci Dwi

Abstrak

Pada saat ini masih banyak perusahaan yang mengukur kinerjanya hanya berdasarkan pada tolak ukur keuangannya saja.Padahal dalam mengahadapi lingkungan bisnis yang semakin kompleks seperti saat ini, pengukuran kinerja yang hanya berdasar pada tolak ukur keuangan sudah tidak lagi memadai karena mempunyai kelemahan.Oleh karena itu dikembangkan suatu konseppengukuran kinerja perusahaan yang cukup komprehensif yaitu Balanced Scorecard,yang terdiri dari empat perspektif yang meliputi perspektif keuangan, konsumen,proses internal bisnis, serta pembelajaran dan pertumbuhan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kondisi kinerja Bank Syariah, menggunakan Balanced Scorecard sebagai suatu sistem pengukuran kinerja, dan mengetahui keseimbangan financial dan non financial dalam memperbaiki pengendalian operasional serta dalam menentukan strategi kinerja di masa yang akan datang. Pepengukuran kinerja keuangan dilihat dari Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE), dan Sales Growth Rate. Perspektif pelanggan dilihat dari bertambahnya pelanggan baru, Waktu Penyelesaian, mempertahankan pelanggan. Perspektif proses bisnis internal ukuran hasil yang digunakan adalah Respon Time dan Manufacturing Cycle Effectifiness sebagai ukuran pemacu kinerjanya. Sedangkan untuk perspektif pertumbuhan dan pembelajaran dilihat dari Employee Productifity, Employee Retention. Oleh karena itu perusahaan diharapkan dapat lebih meningkatkan kinerjanya dengan menyeimbangkan antara kinerja dari aspek keuangan dan non keuangan guna mewujudkan misi dan visinya.

Kata kunci : Kinerja, Balanced Scorecard

A. PENDAHULUAN

Perkembangan dunia perbankan yang telah terlihat semakin kompleks, dengan berbagai macam jenis produk dan sistem usaha dalam berbagai keunggulan kompetitif. Keadaan yang seperti ini telah menciptakan suatu sistem dan persaingan baru dalam dunia perbankan, bukan hanya persaingan antar bank tetapi juga antara bank dengan lembaga keuangan. Hal yang paling mencolok adalah dua sistem pengembalian uang nasabah, bunga dan bagi hasil yang keduanya berasal dari dua jenis bank yang berbeda. Bank konvensional memberlakukan bunga dan bank syariah menggunakan sistem bagi hasil.

Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan bagi hasil telah memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, serta menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk dan layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat diminati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia tanpaterkecuali.

Saat ini, Bank Indonesia mencoba untuk menciptakan sebuah terobosan yang diharapkan secara signifikan mampu mendorong kemampuan sistem perbankan nasional dalam melayani dan menyediakan kemudahan bertransaksi syariah. Meluncurlah PBI No.8/3/PBI/2006 yang efektif berlaku mulai tanggal 30 januari 2006 dan seiring dengan itu pula maka lahirlah sebuah ketentuan yang memperbolehkan cabang bank konvensional yang telah memiliki Unit Usaha Syariah dalam melayani transaksi syariah atau yang lebih dikenal dengan konsep office channeling. Sektor perbankan merupakan jantung dalam system 2Perekonomian pada sebuah Negara, dan juga merupakan alat dalam pelaksanaan kebijakan moneter pemerintah. Bank konvensional memberlakukan sistem bagi hasil. Persaingan global perusahaan dihadapkan pada penentuan strategi pada pengelolaan usahanya. Penerapan strategi bisnis memungkinkan menjadi jalan keluar sebagai pemenang dalam persaingan.

Oleh karna itu untuk dapat menentukan kinerja, perusahaan dapat menerapkan Balance Scorecard sebagai alat ukur berbasis strategis, seperti financial perspective, internal proses business perspective, customer perspective, dan learning and growth.Keunggulanpenerapan Balance Scorecard adalah untuk dapat memberikan ukuran yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam perbaikan strategis.Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, menarik untuk diteliti sejauh mana tingkat keberhasilan kinerja suatu perusahaan dengan menggunakan konsep BalanceScorecard.

1. Tujuan dan Manfaat PengukuranKinerja

Tujuan utama pengukuran kinerja menurut Mulyadi dan Setyawan adalah untuk memotivasi personel dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi.

Manfaat pengukuran kinerja adalah:

Menelusuri kinerja terhadap pelanggan sehingga akan membawa perusahaan lebih dekat pada pelanggannya dan membuat seluruh orang dalam organisasi terlibatdalam upaya memberikan kepuasan padapelanggan.

Memotivasi pegawai bank untuk melakukan pelayanan sebagai bagian dari mata rantai pelanggan dan pemasokinternal.

Mengidentifikasi berbagai pemborosan sekaligus mendorong upaya-upaya pengurangan terhadap pemborosan tersebut.

2. Konsep Balance Scorecard

Balanced Scorecard diciptakan untuk mengatasi problem tentang kelemahan sistem pengukuran kinerja eksekutif yang hanya berfokus pada perspektif keuangan saja dan cenderung mengabaikan perspektif non keuangan. Menurut Kaplan dan Norton (1996), menyimpulkan bahwa hasil studinya tersebut untuk mengukur kinerja eksekutif di masa depan diperlukan ukurang komprehesif yang mencakup empat perspektif yaitu perspektif keuangan, pelanggan/konsumen, proses internal bisnis, serta pembelajaran dan pertumbuhan.Balance Scorecard terdiri dari dua kata, yaitu kartu skor (Scorecard) dan berimbang (Balance).

Balance Scorecard adalah kartu skor yang digunakan untuk mengukur kinerja dengan memperhatikan keseimbangan antara sisi keuangan dengan non keuangan, antara jangka panjang dan pendek, serta melibatkan factor internal dan eksternal. Balance Scorecard merupakan alat manajemen kontemporer yang memenuhi kebutuhan perusahaan dalam menghadapi lingkungan bisnis yang sangat kompetitif dan turbulen. Pada kondisi tersebut menuntut kemampuan perusahaan untuk membangun keunggulan kompetitif melalui distinctive capability, membangun secara berkelanjutan dan memutakhirkan peta perjalanan untuk mewujudkan masa depan perusahaan, mengarahkan dan memusatkan kapabilitas dari komitmen seluruh personel dalam membangun masa depan perusahaan.

3. Pengukuran Penilaian Kinerja denganBalancedScorecard

Empat konsep Balanced scorecard memberi keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang, antara hasil yang diinginkan dengan faktor pendorong tercapainya hasil tersebut, dan antara ukuran objektif yang keras dengan ukuran subjektif yang lebih lunak. Sementara keberagaman ukuran pada Balance scorecard mungkin tampak membingungkan, scorecard yang dibuat dengan benar mengandung kesatuan tujuan karena semua ukuran diarahkan kepada pencapaian strategi yang terpadu.

Perspektif Financial atauKeuangan

Balance Scorecard menggunakan perspektif Financial karena ukuran financial sangat peting dalam memberikan ringkasan konsekuensi tindakan ekonomis yang sudah diambil. Ukuran kinerja financial memberikan petunjuk apakah strategi perusahaan, implementasi, dan pelaksanaanya memberikan kontribusi atau tidak kepada peningkatan laba perusahaan.Tujuan financial biasanyaberhubungan dengan profitabilitas, yang diukur misalnya oleh laba operasi, atau yang paling baru, nilai tambah ekonomis. Tujuan financial lainnya mungkin berupa pertumbuhan penjualan yang cepat atau terciptanya arus kas.

Perspektif Pelanggan

Dalam aspek pelanggan balanced scorecard, manajemen harus dapat mengidentifikasikan pelanggan dan segmen pasar dimana unit bisnis tersebut akan bersaing dan berbagi ukuran kinerja unit bisnis di dalam segmen sasaran. Aspek ini terdiri dari berbagai ukuran utama keberhasilan perusahaan dengan ukuran utama nya adalah kepuasan pelanggan.

Perspektif Proses BisnisInternal

Aspek proses bisnis internal mengungkapkan dua perbedaan ukuran kinerja yang mendasar antara pendekatan tradisional dan pendekatan balanced scorecard. Perbedaan pertama adalah bahwa pendekatan tradisional berusaha memantau dan meningkatkan proses bisnis yang ada saat ini.Sedangkan pendekatan balanced scorecard mengidentifikasi berbagai proses baru yang harus dikuasai dengan baik oleh perusahaan agar dapat memenuhi berbagai tujuan pelanggan dan finansial. Tujuan proses bisnis internal balanced scorecard adalah menekankan berbagai proses penting yangmendukung keberhasilan strategi perusahaan tersebut, walaupun beberpa diantaranya mungkin merupakan proses yang saat ini sama sekali belum dilaksanakan. Perbedaan kedua adalah bahwa pendekatan balanced scorecard memadukan berbagai proses inovasi kedalam aspek proses bisnis internal, sedangkan sistem pengukuran kinerja tradisional berfokus pada proses penyampaian produk dan jasa kepada pelanggan.

Perspektif Pembelajaran danPertumbuhan

Balanced Scorecard menekankan pada upaya perusahaan investasi untuk kepentingan di masa mendatang, meliputi investasi manusia, sistem dan prosedur. Manusia atau karyawan perusahaan perlu diberikan pelatihan secara rutin untuk menambah keahlian atau kemampuan dalam rangka memenuhi perubahan tuntunan pelanggan dan lingkungan. Sistem perlu diperbaiki dengan memanfaatkan teknologi informasi. Pada perspektif ini mengukur betapa pentingnya suatu organisasi bisnis untuk terus memperhatikan karyawannya, memantau kesejahteraan karyawan dan meningkatkan pengetahuan karyawan. Hal ini terjadi karena dengan meningkatnya tingkat pengetahuan karyawan akan meingkatkan kemampuan karyawan untuk berpartisipasi dalam pencapaian hasil tujuan perusahaan.

4. Pengukuran Kinerja dengan metode Balanced Scorecard dalam integrasisyariah

Balanced Scorecard (BSC) merupakan sistem manajemen kontemporer yang dapat diterapkan di seluruh bentuk organisasi, baik organisasi yang berorientasi profit maupun organisasi nirlaba. Balanced Scorecard (BSC) sebagai alat ukur kinerja yang mempertimbangkan faktor keuangan maupun non keuangan dapat dimodifikasi menyesuaikan dimana BSC akan diterapkan. Faktor-faktor non keuangan itu meliputi persepektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pembelajaran danpertumbuhan.

B. PENUTUP

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan bahwa balanced scorecard adalah sistem pengukuran kinerja yang fokus tidak hanya pada aspek keuangan namun juga pada aspek non keuangan. Pengukuran kinerja tersebut dengan memandang 4 perspektif balanced scorecard yakni perspektif keuangan, pelanggan, pembelajaran dan pertumbuhan, serta perspektif proses bisnis internal.

Dengan Balanced Scorecard para manajer perusahaan akan mampumengukur bagaimana unit bisnis mereka melakukan penciptaan nilai saat ini dengan tetap mempertimbangkan kepentingan-kepentingan masa yang akan datang. Balanced Scorecard memungkinkan untuk mengukur apa yang telah diinvestasikan dalam pengembangan sumber daya manusia, sistem dan prosedur, demi perbaikan kinerja di masa depan. Melalui metode yang sama dapat dinilai pula apa yang telah dibina dalamintangible assets seperti merk dan loyalitas pelanggan.

Saran

Untuk Bank Syariah, khususnya Bank Syariah Mandiri sebaiknya lebih meningkatkan kinerjanya melalui rasio keuangan agar kinerja keuangan dari bank tersebut dapat meningkat. Selain itu, Bank Syariah Mandiri perlu melalukan sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat lebih mengetahui tentang produk-produk bank syariah dan memiliki ketertarikan untuk menjadi nasabahnya, sehingga akan meningkatkan kinerja Bank Syariah Mandiri

DAFTAR PUSTAKA

Adiwarman A. Karim. Bank Islam (Analisis Fiqih dan Keuaangan).Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010

Agus Murdiyanto. Pengukuran Kinerja Bank Umum Syariah di Indonesia dengan Balanced Scorecard. Semarang: Universitas Stikubank, 2017.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Semakin Banyak Anak Muda Aceh yang Melek Saham

Image

Cara Riset Kata Kunci Untuk Artikel Blog, Berikut Cara Mudahnya!

Image

Perlukah PPN Pendidikan?

Image

Garda Terdepan, Covid-19 Segera Padam

Image

Pembelajaran Di Saat Pandemi

Image

LAZ Harfa Salurkan Bantuan untuk Penyintas Banjir di Kabupaten Pandeglang

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image