Spesial Kartini: Mengapa Selalu Perempuan?

Image
Taufik Alamsyah
Gaya Hidup | Thursday, 21 Apr 2022, 17:49 WIB

Mengapa selalu perempuan? Saya menduga, pertanyaan inilah yang terbesit dalam hati serta pikiran Kartini saat itu. Bagaimana tidak, perempuan saat itu, wabilkhusus di masyarakat Jawa, hidupnya terjerat dari pelbagai sisi yang secara tidak sadar dan tidak langsung, menyebabkan perempuan menjadi kehilangan esensi dirinya serta kehilangan kepercayaan bahkan harapan dan impian. Sehingga, membawa kedirian perempuan ke dalam jurang pengekangan dan keterpaksaan. Kekerasan fisik dan verbal ini bukan tanpa sebab, bukan turun dari langit, tetapi kalau kita lihat secara historis kehidupan Kartini saat itu, bagaimana rezim feodal Jawa mencapai titiknya. Watak feodalistik sangat berkelindan dengan lahirnya kekerasan terhadap perempuan. Tentu saja, feodalistik lahir dari tiupan roh patriarki yang terus menghidupinya.

Adalah Raden Adjeng Kartini, sosok perempuan yang lahir tepat pada hari ini, tanggal 21 April 1879. Perempuan yang melihat, mendengar, dan merasakan, serta yang paling fundamental adalah mengalami langsung segala macam kekerasan yang dialaminya. Lahir dari seorang ayah yang menjadi aristokrat, tidak membawa dirinya ke nasip yang lebih baik. Karakter patriarki dan feodalistik yang telanjur menguat dalam ruang lingkup keluarga, membawa hidup kartini ke alam penindasan. Fisik dan batin. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika seorang Kartini saja yang, secara sosial dan politik serta ekonomi, mempunyai kedudukan yang tinggi, diperlakukan dan diproyeksikan seperti itu, lantas bagaimana nasip perempuan yang, diluar mempunyai akses, kedudukan, harkat, bahkan martabat sekalipun yang kadung dicuri oleh kekuasaan, adat, budaya, serta kontruksi sosial lainnya? Tentu saja, benar-benar malang.

Meskipun begitu, privilege yang diterima Kartini tidak di-sia-sia-kan olehnya. Betul memang, Kartini dilarang bersekolah atau melanjutkan ke tingkat tinggi pendidikannya. Tetapi, dengan sedikit mengenyam pendidikan, Kartini mempunyai akses pendidikan dan bacaan serta jaringan komunikasi yang begitu luas, dan juga yang paling membantu adalah relasi dengan beberapa orang dan perempuan elite, tajir, dan high class tentunya yang merekam jejak perbalasan antar surat yang saling diterimanya, dapat membuat Kartini mampu menjelaskan pandangan dunia ideal, dunia yang penuh toleransi, partisipasi, dan emansipasi.

Kartini, dalam pandangan kacamata pragmatis, juga dipandang bukan sekadar manusia atau perempuan ideal, lebih dari itu, Kartini dicap sebagai simbol perlawanan. Kartini selalu dinarasikan dengan persoalan ketidakadilan, ketidaksetaraan, intoleransi, bias jender, dan sebagainya. Secara tidak langsung, Kartini adalah simbol keperempuanan Indonesia mulai dari tradisional sampai modern.

Namun, apakah persolan yang sudah diatasi awal oleh pemikiran-pemikiran serta tindak-tanduk Kartini selesai di kehidupan kiwari ini? Sayangnya tidak. Dengan pelbagai kemajuan dan arus teknologi yang mengalirkan informasi nyaris tidak bisa dibendung lagi, menimbulkan banyak sekali persoalan, hambatan, serta kekerasan yang berganti wujud dan dapat menembus ruang dan waktu dengan cepat persis secepat kilatan cahaya. Memang betul, adanya sebuah persoalan, memang bisa dilihat dan ditangkap dengan adanya diskursus, dan itu sehat untuk menciptakan ruang dialektika.

Tetapi, betapa ngerinya bila salah satu individu, kelompok, dan sebagainya tidak bisa menanggapi dengan kepala dingin, akal sehat, dan lebih mengenaskannya bila tidak mempunyai akses, privilege, kesempatan, serta keterbatasan ilmu, pengetahuan,ekonomi, budaya, politik, dan lainnya. Dan sialnya, itu selalu mengarah kepada perempuan. Ya, perempuan! Saya meminjam istilah dari Arif Akhyat sebagai fase “Post-Kartinian”.

Apakah teman-teman membaca berita beberapa akhir ini ? Entah membaca berita dari media elektronik atau media sosial. Apa saja isinya ? sudah barang tentu isi berita diwarnai mulai dari pernikahan Atta Halilintar, Akuisisi saham Cilegon United oleh RANS Entertainment, vaksin nusantara, sampai lelucon Silicon Valley ala Indonesia yang akan dibangun di Sukabumi, Jawa Barat. Pelbagai berita telah disajikan, meskipun banyak sekali berita yang seharusnya menjadi arus informasi bersifat positif dan merangsang akal sehat, kini justru dipenuhi oleh berita yang mengaliri informasi bersifat ke-tidak-masuk-akal-an dan menggiring masyarakat ke dalam kategori arogansi epistemik.

Dari sekian banyak berita yang disajikan, ada yang membuat saya ingin menghancurkan kaca di kamar atau ingin mengigit lemari yang terletak persis di depan saya. Berita yang disajikan oleh pelbagai media beberapa hari yang lalu yaitu masyarakat dan polisi melakukan razia terhadap para perempuan yang memakai celana ketat. Dengan alasan, tidak sesuai hukum syariat yang telah disepakati di kota itu dan (katanya) dapat membuat para lelaki melakukan tindak asusila. Ini persis yang dilakukan para birokrat beberapa tahun lalu yang terjadi di Pulau Jawa bagian timur melakukan tindakan penyeleksian keperawanan terhadap calon peserta didik yang ingin menuntut ilmu dan pengetahuan di sekolah.

Saya membandingkan di mana peristiwa yang terjadi pada beberapa negara berkembang yaitu meningkatnya kemajuan penelitian sains dan tidak sedikit pula maraknya pengorganisasian kemanusiaan untuk membebaskan suara, hak, atau berkaitan dengan civil liberties. Perempuan selalu dijadikan objek kesalahan atau menjadi asal-usul kekacauan dunia. Mulai dari cerita Yunani klasik tentang Medusa yang menjadi biang keladi di Athena sampai yang sekarang menjadi viral yaitu perempuan yang terjebak dalam layanan Open BO sampai pelakor, Atau di realita sekalipun, fenomena ibu-ibu yang mengendarai motor matic dan perempuan yang suka nge-gosip sudah menjadi suatu keburukan yang melekat pada perempuan.

Berita mengenai perempuan tidak pernah akan berhenti, begitu pula ketidakadilan atau penindasan yang dialaminya. Pertanyaannya adalah, “Mengapa Selalu Perempuan?” Salah satu jawabannya adalah hasil dari budaya yang dibangun dari patriarki. Apa itu Patriarki ? menurut Sylvia Walby dalam bukunya Teorisasi Patriarki (1990), Patriarki adalah sebuah sistem struktur sosial dan praktik-praktik di mana laki-laki mendominasi, menindas, dan mengeksploitasi perempuan.

Seiring berjalanya waktu, budaya patriarki tidak hanya memasuki sistem sosial. Budaya patriarki telah menggegoroti sistem hukum, sistem pendidikan, bahkan diplintir ke ranah agama. Jadi, jika melihat fenomena penolakan sekolah dikarenakan siswi sudah tak lagi perawan, atau KDRT disebabkan karena seorang istri tidak mau melayani hubungan badan, bahkan perkelahian yang dilakukan sekelompok antar kecamatan/desa disebabkan oleh perempuan. Karena memang perempuan sudah dijerumuskan dalam permasalahan dan menjadi objek dalam tindak-tanduknya di semua sistem.

Hal ini juga dikatakan oleh Ibu Feminis gelombang-2 Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex (1989), “Perempuan dan laki-laki dalam aktualitasnya tidak persis seperti dua arus listrik, karena laki-laki mewakili baik arus positif dan arus netral, sebagaimana diindikasikan dengan pemakaian kata laki-laki (man – peny.) untuk menunjukkan umat manusia secara umum: sementara perempuan hanya mewakili hal-hal yang berkonotasi negatif, yang didefinisikan oleh kriteria-kriteria terbatas, tanpa adanya hubungan timbal balik.”

Budaya patriarki sudah melekat dalam ruang lingkup kehidupan masyarakat. Dan inilah yang menjadi sponsor utama ketidakadilan dan penindasan bermukim pada perempuan di sepanjang hidupnya. Patriarki mengkontrol, mengendalikan dan menyusupkan otoritas ke-macho-an untuk tetap mendominasi perempuan. Laki-laki absolut, perempuan adalah “liyan”.

Perempuan lahir bukan untuk ditindas, diperas, dilecehkan, bahkan menjadi objek pemuas nafsu belaka. Perempuan selalu bangkit dan melawan atas segala jenis penindasan yang dilakukan oleh patriarki. Meski ini dilihat sebagai aktifitas menjala angin, atau sia-sia karena ketidakmungkinan melawan dan menghancurkan budaya patriarki. Bukan berarti tetap tunduk dan tetap membuka pintu penindasan. Perempuan akan tetap mendobrak peradaban yang dibangun budaya patriarki. “One is not born, but rather. Becomes a woman.”

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

tak ada kematian paling agung, selain mati karena cinta

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

PK Bapas Purwokerto Tindaklanjuti Usulan Pembebasan Bersyarat

Image

Pastikan Kondisi Aman, Petugas Rutan Jepara Rutin Lakukan Trolling

Image

Pembayaran Pajak Sarang Burung Walet Menuai Pro dan Kontra

Image

Mengenal Apa Itu Delik Pers. Apakah Hanya Berkutat Pada Kesalahan Pers?

Image

Kunjungi Rutan Jepara, Ustadz Abdurahman Berikan Tausiyah Kepada Ratusan WBP

Image

Gelar Yasinan Rutin, Kalapas Brebes : Intropeksi Diri Sarana Jadi Pribadi Baik

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image