Ayam Mengeram di Bulan Ramadhan

Image
Koiyudh
Curhat | Monday, 10 May 2021, 04:21 WIB
Sumber: Pixabay/Alexas_Fotos

Pengalaman menarik baru saja kudapati. Seekor ayam betina berbulu abu-abu, entah dari mana asalnya, tiba-tiba datang dan bertelur di atas sak semen yang ku taruh depan rumah. Awalnya lima telur. Namun, selang dua hari, jumlahnya bertambah menjadi delapan, sembilan, lalu sepuluh.

Karena bukan ayamku, aku pun berinisiatif mencari si pemilik hewan itu. Niatnya telur-telur itu akan kuberikan saja kepada si empunya. Aku, karena masih warga baru di kediamanku sekarang, baru bertanya-tanya kepada tetangga terdekat yang kukenal. Mereka ternyata juga belum punya jawabannya.

Eh, saat penelusuranku masih berlangsung, aku mendapati sang ayam, kali ini tidak menghilang seperti hari-hari sebelumnya. Ia malah berdiam diri di atas telur-telur itu dari pagi sampai malam. Begitu juga keesokannya sampai sekarang. Kayaknya ayam ini sedang mengeram, dugaanku.

Tentu tidak sampai tega untuk memindahkannya, aku memutuskan mendiamkannya di tempat itu sementara. Biar deh sampe menetas, pikirku. Mungkin dia nanti juga akan balik sendiri ke pemelihara dengan anak-anaknya. Dan, sambil menunggu, aku bakal mencari-cari lagi siapa pemiliknya.

Syahdan, aku yang penasaran dan masih awam, juga coba-coba menelusuri informasi soal ayam saat mengeram. Beberapa referensi tulisan kudapati. Hal menarik kutemukan.

Proses pengeraman telur ayam ternyata tidak sebentar. Bisa berlangsung 13 hari. Dan, selama itu pula, si induk ayam ternyata berpuasa. Ya, ia harus menahan lapar, haus, dan tidak beranjak dari posisinya sampai telur menetas. Puasa, menurut keterangan ilmiah, bertujuan meningkatkan suhu badan ayam sehingga telur yang dierami dapat menetas.

Mungkin karena baru tahu, ini bagiku luar biasa. Apalagi momen ini kutemui bertepatan bulan Ramadhan. Bedanya, tidak seperti shaum manusia, si induk ayam, tidak sahur dan berbuka. Benar-benar tanpa makan-minum belasan hari. Pengorbanan mengagumkan. Membuatku terenyuh.

Pengalaman ini pun menjadi semacam pengingat buatku. Bagaimana besarnya pengorbanan, dedikasi, ikhtiar, dan keringat-peluh seorang ibu. Aku mungkin sempat lalai mengingat itu. Masih jarang berbakti, memuliakan, dan membahagiakanmu ya Ibu. Hiks..Ingin menangis rasanya. Alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb. Atas cara-Mu mengingatkanku.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jangan-jangan aku memang Ambivert?

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Tahukah Kalian, Tertawa Itu Baik Untuk Kesehatan?

Image

WIZ Salurkan Sembako Untuk Dhuafa yang Terdampak Pandemi

Image

Pentingnya Self Healing Dimasa Pandemi

Image

Keluarga Harmonis, Seperti Apa sih?

Image

3 Tips membuat konten yang viral

Image

6 Tips Agar Kamu Betah di Pesantren

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image