Konflik Buruh Pengusaha, Abadikah?

Image
Elba Damhuri
Bisnis | Thursday, 29 Apr 2021, 20:50 WIB
Buruh saat aksi demo

Pada satu sesi diskusi informal di sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington DC, Amerika Serikat, pada Oktober beberapa tahun lalu, seorang aktivis LSM dari Brasil mengungkapkan perihal konflik abadi dalam ekonomi.

Kata dia, selain perseteruan antara setan dan manusia, ada satu lagi konflik abadi yang hingga kapan pun sulit dicarikan titik temunya. Itu adalah konflik antara buruh dan majikan, konflik kelas pekerja dengan kaum borjuis.

Tak heran, kata dia, pada forum-forum internasional, terutama forum ekonomi, reformasi kebijakan buruh selalu menjadi agenda penting untuk dituntaskan. Jika kita bentangkan tali dari Selandia Baru di Benua Australia ke Barbados di Benua Amerika, atau dari Yaman di Timur Tengah ke Inggris di Eropa, daftar konflik tuntutan gaji, kesejahteraan buruh, hingga aksi mogok paling banyak menghiasi tali itu.

Makanya, kata aktivis Brasil itu, sejak kematian tokoh gerakan kiri, Karl Marx, hingga saat ini Eropa terus digentayangi hantu yang disebut marxisme.

Memang, terlalu ekstrem untuk membandingkan konflik abadi buruh-pengusaha dengan manusia dan setan, selepas iblis diusir dari surga gara-gara mengingkari penciptaan manusia (Adam). Tapi sebetulnya, tidak salah-salah amat untuk mencap konflik buruh-borjuis ini bersifat abadi, dalam pengertian duniawi. Lihat saja, separuh dunia masih menghadapi demonstrasi dan tuntutan buruh, termasuk di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS).

Di Indonesia, kita tahu sendiri, ini seperti konflik tanpa ujung. Setiap tahun kita selalu dihadapkan periodisasi demonstrasi buruh, mulai dari yang terkait dengan hari-hari tertentu maupun yang tak terukur.

Untuk yang pertama, demonstrasi dan ancaman mogok kerja biasanya terjadi saat merayakan Hari Buruh, penentuan upah minimum, hingga kegagalan kesepakatan tripartit.

Untuk yang kedua, umumnya terjadi ketika buruh mendapat ancaman, intimidasi, gajinya tak dibayar, hak-haknya diabaikan, hingga pemutusan kerja secara sepihak.

Pertanyaannya, mengapa ini terus terjadi? Jangankan buruh dan pengusaha, wartawan saja mungkin sudah bosan mengulang-ulang pertanyaan atas permasalahan ini.

Namun, sebetulnya, kata seorang wartawan dari Korea Selatan yang mengaku penganut Neo-Marxian ini, tidak perlu orang sekelas Adam Smith, Joseph Stiglitz, atau Ben Bernanke untuk menjawab pertanyaan ini. Dia menilai, ini pertanyaan mudah yang bisa dijawab, bahkan oleh buruh itu sendiri.

Sedikitnya ada tiga latar belakang mengapa konflik buruh-pengusaha terus terjadi, bahkan sejak zaman sebelum dunia modern lahir. Ibaratnya, seperti dua kutub yang tidak mungkin disatukan.

Pertama, terkait dengan filosofi ekonomi antara pengusaha dan buruh. Efisiensi dan mencari untung sebesar-besarnya selalu menjadi target pengusaha, di mana pun. Ini lumrah, alamiah, dan memang begitu seharusnya.

Buruh memiliki pandangan berbeda. Filosofi mereka: bisa hidup layak, aman secara finansial, sejahtera, dan mendapat penghasilan tinggi. Apalagi, mereka percaya bahwa kayanya pengusaha muncul dari keringat buruh.

Kedua, pemilik modal menganggap buruh adalah komoditas, bukan aset yang bernilai tinggi. Sebagai komoditas, buruh tidak ada bedanya dengan produk yang dihasilkan, termasuk nilainya. Semakin banyak produk yang dihasilkan, semakin murah harga produk itu. Hukum pasar ini pun berlaku buat buruh.

Sementara, buruh menilai diri mereka adalah aset perusahaan seperti batu berharga yang harus dibayar mahal. Karena aset, gaji mereka pun harus layak dan bagus, hidup keluarga harus terjaga.

Ketiga, buruh ingin hari-hari dalam kehidupan mereka dimasukkan sebagai faktor pendukung penentuan gaji. Jika mereka bekerja lima jam sehari, mereka menganggap bukan faktor lima jam itu yang dihitung, tapi jam-jam lainnya juga.

Tak heran, jika kemudian buruh membuat daftar kebutuhan hidup layak (KHL) puluhan, bahkan sempat di atas angka seratus. Pengusaha? Mereka memandang nilai buruh berdasarkan hukum permintaan dan penawaran tadi alias hukum pasar.

Jadi, tak heran jika sampai sekarang konflik buruh dan pengusaha masih terus terjadi. Dari fitrahnya, perbedaan di antara mereka memang sudah sangat tajam.

Makanya, aktivis LSM Brasil itu membandingkan konflik buruh-pengusaha dengan konflik manusia-setan. Apalagi, ada ilmuwan gila, sebuat saja Marx, yang meramalkan konflik ini akan terus abadi sampai muncul revolusi sosial menuju keadaan ideal, yang begitu utopia.

Berbeda dengan aktivis LSM Brasil dan penganut neo-marxist di atas, Organisasi Buruh Internasional (ILO) percaya, konflik buruh-pengusaha bisa diselesaikan dengan terbuka dan baik. Yang penting, masing-masing pihak bersikap rasional dan tidak keras kepala.

Caranya, negosiasi atau berunding menjadi kata kunci yang harus dilakukan. Setiap sikap dan tuntutan masing-masing pihak tentu bisa dipertemukan dalam satu kesepahaman.

ILO menilai sikap adil dan netral pemerintah juga harus ditegakkan. Dengan begitu, friksi-friksi yang terjadi bisa dikurangi dengan maksimal.

Biar bagaimana, baik buruh maupun pengusaha, tentu ingin memiliki rasa aman dan senang. Tinggal bagaimana menjaga keseimbangan untuk menemukan titik temu ini.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jurnalis

Artikel Lainnya

Image

Pemanfaatan teknologi digital untuk pendidikan Indonesia

Image

Peran Perguruan Tinggi Dalam Menguatkan Jiwa Wirausaha Mahasiswa disabilitas

Image

Pengaruh Pandemi Covid 19 Terhadap Pendidikan

Image

Ashabul Kahfi dan Izzatul Muna Dinobatkan sebagai Agam-Inong Duta Wisata Aceh Besar

Image

Kualitas Tak Kalah Bagus, Inilah Rekomendasi Tempat Beli Granit Paling Diminati Konsumen!

Image

Covid-19 Membungkam Dunia Pendidikan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image