Larangan Mudik bagi Mereka yang Tunduk

Image
Jessica Sheridan
Curhat | Friday, 23 Apr 2021, 14:44 WIB
Kondisi sepi pemudik di tol Solo. Sumber : Kompas Otomotif

Ramadan tiba,

Ramadan tiba,

Ramadan tiba

Penggalan lagu diatas sepertinya hampir tidak pernah absen di telinga kita. Kalau sudah memasuki bulan suci Ramadan, lagu ini biasa berkumandang di setiap pusat perbelanjaan, tempat kita membeli baju baru untuk menyambut Lebaran. Seperti halnya lagu tersebut dan tradisi beli baju baru, mudik juga menjadi suatu hal yang rasanya tidak mungkin absen selama bulan suci ini. Lebaran tanpa mudik bagaikan kolak tanpa pisang. Kolak memang tak selalu dipadukan dengan topping pisang, tetapi kolak pisang biasanya lebih disukai oleh penikmat takjil daripada jenis kolak lainnya.

Sama seperti Ramadan tahun ini yang terasa hampa tanpa tradisi mudik. Mudik memang bukanlah suatu kegiatan yang wajib dilakukan, tetapi bulan suci Ramadan selalu dikaitkan dengan mudik. Kegiatan pulang ke kota asal tempat kita meninggalkan keluarga demi berjuang di perantauan terasa seperti angin segar, bukan di tengah gurun, melainkan di tengah lelahnya perjuangan menghadapi hiruk pikuk dunia kerja. Sayangnya, di tahun 2021, segalanya berbeda. Lebaran secara virtual menjadi anjuran dari pemerintah, padahal hati dan pikiran masyarakat sudah tertuju pada opor ayam buatan ibu dikampung halaman. Tanyakan pada pandemi Covid-19 yang kedatangannya berhasil membawa pemerintah pada keputusan larangan mudik.

Ramadan tahun ini dihiasi keadaan dunia yang dilanda pandemi Covid-19. Berkaca pada tahun 2020 yang lalu, pemerintah terkesan tidak siap menghadapi ledakan masyarakat yang menanti kepastian Lebaran di tengah pandemi. Pada akhirnya, 2020 pun tetap dihiasi dengan larangan mudik dari pemerintah. Meski begitu, masyarakat di tahun lalu berbeda dengan tahun ini. Masyarakat di tahun lalu dipercaya terlalu takut akan adanya virus sehingga terjadi penurunan angka kendaraan mudik sebesar 62 persen atau sejumlah 465.582 dari 1,21 juta unit. Hal ini diketahui dari catatan arus kendaraan bermotor yang melintasi jalan tol milik PT Jasa Marga. Penurunanangka kendaraan terjadi karena situasi darurat pandemi pada saat itu sedang tinggi-tingginya. Suka ataupun tidak suka, virus yang baru saja datang sebagai warga negara Indonesia itu menjadi halangan terbesar sekaligus alasan kuat bagi masyarakat untuk menahan diri dari kegiatan berkumpul hingga mudik Lebaran.

Namun, hal itu sudahberlalu. Sekarang, kita berada pada tahun yang baru. Tepat setelah merayakan hari jadi Covid-19 yang pertama, bulan suci Ramadan datang meramaikan situasi pandemi tahun ini. Masyarakat beserta pemikirannya sudah berkembang. Satu tahun lamanya mereka menahan hasrat untuk bertemu dengan keluarga karena takut akan membawa penyakit tersebut kepada keluarga mereka. Kini, masyarakat sepertinya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Walaupun hasrat masyarakat ini bertentangan dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah pada 26 Maret 2021 mengenai larangan mudik yang akan berlaku sejak 6 sampai 17 Mei 2021. Besar harapan mereka untuk bisa mewujudkan mudik tahun ini. Mereka berpikir bahwa setelah satu tahun ini semua akan kembali normal, ditambah dengan janji akan kegiatan vaksinasi yang sepertinya bisa menyelesaikan semua masalah yang berkaitan dengan pandemi.

Mengingat antusiasme masyarakat akan mudik Lebaran 2021 ini, rasanya tidak mungkin program larangan mudik dapat berhasil. Baru memasuki hari-hari awal puasa saja sudah banyak komentar netizen menanggapi larangan mudik tersebut. Sebagian kecil dari masyarakat setuju dan mendukung program ini, sedang sebagianlainnya terlihat biasa saja. Namun, ada kelompok besar masyarakat yang meremehkan aturan baru tersebut. Larangan mudikini menjadi bahan masyarakat untuk mempertanyakan keberhasilan vaksin, alternatif tes Covid-19, dan program penerapan protokol kesehatan yang selamaini harus mereka jalani. Apakah semua itu hanyalah candaan belaka sehinggatidak mampu untuk mengatasi permasalahan Covid-19 di tengah mudik Lebaran? Apa justru larangan ini hanyalah ajang bagi aparat-aparat untuk mencari keuntungan? Pertanyaan tersebut telah terjawab melalui tanggapan masyarakat yang sepertinya sudah bosan menuruti pemerintah.

Seperti biasanya, peraturan hadir untuk dilanggar. Fakta bahwa kebanyakan peraturan hanya berakhir dilanggar oleh masyarakat di negara tercinta kita seharusnya sudah menjadi sebuah petunjuk akan hasil dari larangan mudik ini. Rasa rindu akan tradisimudik menjadi motivasi dasar mereka untuk menghalalkan segala cara demi bisa melaksanakannya. Salah satu fakta yang tidak bisa dihindari adalah metode petak umpet atau kucing-kucingan supaya tidak tertangkap polisi. Jika sudah seperti ini, pemerintah seperti membuat aturan hanya untuk menertibkan mereka yang tunduk. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak tunduk?

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Generasi Milenial Pilar Utama Gerakan Filantropi

Image

Ngabuburit Ramadhan: Lifestyle Mahasiswa di Mesir

Image

Destinasi Wisata Alun-alun Kejaksan, Tempat Ngabuburit Favorit di Kota Cirebon

Image

Penyekatan di Tol Pasteur Menjelang Lebaran

Image

Tempe Mendoan, Menu Takjil Kesukaan Masyarakat

Image

Penggunaan Media Pembelajaran Sederhana

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@rol.republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image