Alamak... Wisatawan Rusak Benteng Belanda Berusia 170 Tahun demi Foto Instagramble

Image
Karta Raharja Ucu
Wisata | Friday, 23 Apr 2021, 01:47 WIB
Benteng Martello di Pulau Kelor. Foto: Dokumen Pribadi Karta Raharja Ucu

Benteng Martello di Pulau Kelor. Benteng ini dibangun Belanda tahun 1850 sebagai bagian sistem pertahanan laut Kota Batavia saat itu. Pada periode tahun 1840-1880, kongsi dagang Belanda, VOC, mengembangkan sistem pertahanan Nieuwe Hollandse Waterlinie (semacem sistem pertahanan menjaga batas wilayah laut). Salah satunya dengan membangun benteng ini yang berfungsi sebagai benteng pertahanan sekaligus menara pengintai.

Belanda saat itu emang takut banget diserang Portugis, Inggris, dan negara-negara lain yang juga mencari rempah-rempah (sembari ngejajah). Makanya untuk mengamankan wilayah jajahannya, Belanda rela membangun 1.000 candi untuk Roro Jonggrang, eh salah, membangun benteng di pulau-pulau terluar Kota Batavia.

Selain di Pulau Kelor, Batavia saat itu juga dilindungi tiga Benteng Martello yang tersebar di Pulau Cipir, Pulau Onrust, dan Pulau Sakit atau sekarang dikenal dengan sebutan Pulau Bidadari. Tetapi benteng di Pulau Kelor bisa dibilang yang masih bertahan secara penampilan bangunan. Tiga sisanya remuk dihantam kejamnya penantian.

Meski sudah menjaga dengan membangun benteng yang kokoh, Belanda pernah kena tikung karena diserang terus menerus oleh gombalan armada band, eh armada Inggris ke Mutiara nanti cantik jelita dari Timur --julukan untuk Kota Batavia kala itu. Akhirnya Belanda terpaksa menyerahkan Batavia pas lagi sayang-sayangnya.

Dari kisah itu bisa diambil hikmahnya: Sekuat apa pun kita menjaga toh kalau ditakdirkan kehilangan, dia akan pergi juga.

Seperti prinsip di dunia ini: "tidak ada yang ditakdirkan saling memiliki. Semuanya hanya ditakdirkan saling dititipi".

Lalu bagaimana kondisi benteng sekarang?

Sayang seribu sayang, benteng berusia 171 tahun ini, kondisinya udah gak sekokoh dulu. Vandalisme atau coretan memenuhi beberapa bagian tembok benteng. Batu bata benteng banyak yang rusak karena sejumlah faktor. Berserakan di sana-sini. Selain faktor usia, kerusakan benteng itu juga karena ulah pengunjung yang gak punya adab, gak punya rasa menjaga situs sejarah, gak punya etika dalam berwisata.

Ketika terakhir kali saya ke sana, banyak pengunjung yang naik ke atas "jendela" benteng yang tinggi. Caranya? Ya dipanjat. Bahkan tangga menuju ke bagian atas benteng sudah hancur yang kemungkinan besar karena ulah pengunjung. Padahal pengelola sudah memasang rambu larangan dilarang memanjat benteng. Harusnya larangan di tempat-tempat wisata jangan lembut-lembut.

Misalnya: Dilarang Memanjat, Kalau Melanggar Alat Kelamin Anda Hilang.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Singa JP Coen di Lapangan Banteng

Naik Oplet di Jakarta, Bagaimana Sih Rasanya?

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Indonesia Bisa Mengambil Hikmah di Balik Kasus Covid-19 di India

Image

Generasi Milenial Pilar Utama Gerakan Filantropi

Image

Ngabuburit Ramadhan: Lifestyle Mahasiswa di Mesir

Image

Destinasi Wisata Alun-alun Kejaksan, Tempat Ngabuburit Favorit di Kota Cirebon

Image

Penyekatan di Tol Pasteur Menjelang Lebaran

Image

Tempe Mendoan, Menu Takjil Kesukaan Masyarakat

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@rol.republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image