Kritik-Kritik Paul Krugman cs Atas Teori Cetak Uang MMT

Image
Elba Damhuri
Bisnis | Thursday, 22 Apr 2021, 06:04 WIB
Penulis

Oleh Elba Damhuri*

Teori cetak uang yang digagas pendukung Teori Moneter Modern (MMT) menimbulkan kontroversi dan debat panas. MMT menjadi kontroversi karena sejumlah asumsinya bertentangan dengan asumsi-asumsi ekonomi konvensional saat ini.

MMT berasumsi setiap negara memiliki otoritas yang tidak dimiliki rumah tangga dan perusahaan, yakni mencetak uang. Mengelola satu negara tidak bisa disamakan dengan mengelola rumah tangga atau perusahaan yang punya banyak keterbatasan keuangan. Negara tidak.

Negara tidak perlu takut dengan defisit, inflasi, dan pelemahan nilai tukar. Negara bisa mencetak uang sebanyak dia perlukan untuk memenuhi tercapaianya tingkat pekerjaan penuh sehingga tidak ada lagi pengangguran. Negara bisa mengeluarkan uang (spending) untuk mengelola dan memajukan bisnis, UMKM, hingga pendapatan individu.

Defisit sebesar apapun bukan ancaman. Pemerintah tidak lagi perlu meminjam uang dari luar negeri untuk membiayai defisitnya. MMT menilai dengan mencetak uang atas kedaulatannya sendiri maka pemerintah mengurangi beban utang luar negeri.

"Yang harus kita lakukan ada menjaga keseimbangan ekonomi, bukan keseimbangan anggaran," kata pendukung utama MMT Stephanie Kelton, profesor ekonomi dari Stony Brook University, AS.

Teori ini sekilas terdengar indah dan serba-mudah. Namun, banyak celah yang menurut Paul Krugman --ekonom peraih Nobel Ekonomi-- membingungkan dan tidak konsisten. Dan, tentu, berbahaya.

Paul Krugman, Kenneth Rogoff, dan Larry Summers menyatakan MMT tidak masuk akal. Krugman menulis bahwa prinsip-prinsip di balik MMT adalah "tidak dapat dipertahankan" dan argumen yang dibuat oleh para pendukung MMT adalah tidak masuk akal dan menyesatkan.

Menurut Rogoff, MMT adalah sebuah teori omong kosong berdasarkan pada beberapa kesalahpahaman mendasar. Larry Summers berpendapat bahwa merangkul Teori Moneter Modern adalah resep untuk bencana.

Kritik-kritik yang kemudian muncul dari kaum ekonom konvensional adalah bagaimana mencetak uang baru sebanyak-banyaknya dengan inflasi yang tetap rendah? Dasar apa yang membuat MMT yakin defisit tinggi tidak berdampak besar terhadap nilai tukar?

Bagaimana dengan suku bunga yang bisa sampai nol persen dengan cetak uang baru ini? Bagaimana cara hindari hiperinflasi dari cetak uang baru yang masif dan diberikan langsung kepada publik? Bagaimana risiko moral atas cetak uang baru?

Semua pertanyaan ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dengan model ekonomi yang riil dari para pendukung MMT. Kecuali, mereka hanya menyampaikan asumsi-asumsi dan contoh-contoh yang pada sisi lain dinilai kurang relevan.

Pertama, mari lihat sejumlah kasus di Amerika Latin. Ternyata MMT dalam beberapa versi telah dicoba di sejumlah negara. Sebagian besar kasus telah terjadi di Amerika Latin, ada di Turki dan Israel.

Pemerintah di Amerika Latin mencoba ekspansi fiskal besar-besaran yang dibiayai bank sentral di bawah rezim populis. Semuanya berakhir buruk: inflasi tak terkendali, devaluasi mata uang besar, penurunan upah riil drastis, daya beli jeblok, dan pengangguran tinggi.

Sebut saja Argentina, Bolivia, Brasil, Cile, Ekuador, Nikaragua, Peru, dan Venezuela. Para pembuat kebijakan di sana menggunakan argumen yang mirip dengan yang diasumsikan pendukung MMT; untuk menggunakan penciptaan uang dalam membiayai pengeluaran publik yang besar demi mengejar pekerjaan penuh.

Kedua, Krugman cs menilai tidak ada deskripsi yang seragam dan diterima secara umum tentang bagaimana model MMT seharusnya bekerja secara detail dan efektif. Sulit untuk menemukan penjelasan secara jelas dan terang benderang terkait model ekonomi moneter MMT.

Stephanie Kelton dan para pendukung MMT memang banyak menulis tentang Teori Moneter Modern. Mereka adalah produktif dan telah menerbitkan sejumlah besar makalah, pamflet, dan buku.

Namun, karya-karya ini mengandung sangat sedikit persamaan atau diagram; Penulis MMT umumnya menghindari bahasa yang, baik atau buruk, telah menjadi dominan dalam percakapan ilmiah di antara para ekonom profesional.

Dengan cara ini MMTers telah membiarkan diri mereka terbuka terhadap kritik bahwa pandangan dan model mereka kurang jelas. Krugman menegaskan pendukung MMT cenderung tidak jelas tentang apa sebenarnya perbedaan mereka dengan pandangan konvensional, dan juga memiliki kebiasaan yang kuat untuk mengabaikan upaya untuk memahami apa yang mereka katakan.

Ketiga, MMT dan para pendukungnya menawarkan sedikit bukti empiris tentang bagaimana teori itu akan berfungsi, terutama dalam jangka menengah dan jangka panjang. Pendukung MMT kerap menyebut Jepang sebagai contoh nyata model moneter ala MMT.

Namun sebagian kritikus menganggap sebaliknya. Gubernur Bank Jepang, Haruhiko Kuroda, termasuk yang tidak setuju dengan klaim MMT itu atas contoh Jepang.

Jepang termasuk negara yang bermasalah dengan deflasi selama bertahun-tahun meski terus menjalankan kebijakan quantitative easing (QE). Model QE Jepang berbeda dengan model cetak uang gaya MMT.

QE adalah kebijakan melepas uang dalam jumlah besar untuk memompa ekonomi bergerak, daya beli terjaga, perbankan bisa mendorong kegiatan usaha, dan dengan kebijakan suku bunga sangat rendah.

Keempat, Krugman mengkritisi tentang asumsi besaran defisit anggaran yang dapat diarahkan/ditentukan dari seberapa besar uang yang dibutuhkan untuk mencapai pekerjaan penuh. Ini merupakan pandangan utama doktrin 'Keuangan Fungsional' Abba Lerner yang menjadi salah satu pijakan MMT.

Menurut Krugman, sementara ini benar ketika kebijakan moneter dibatasi oleh batas bawah nol. Tapi itu tidak benar ketika bank sentral memiliki ruang untuk menggerakkan suku bunga.

Klaim soal besaran defisit anggaran yang dapat ditentukan oleh kebutuhan untuk mencapai pekerjaan penuh tidaklah tepat. Selama kebijakan moneter tersedia, ada berbagai kemungkinan defisit yang konsisten dengan tujuan itu.

Stephanie Kelton mengklaim kebijakan fiskal ekspansif mengarah ke tingkat bunga yang lebih rendah, bukan lebih tinggi. Ini artinya

defisit harus mengarah pada peningkatan basis moneter, bahwa kebijakan fiskal ekspansif secara otomatis adalah kebijakan moneter ekspansif. Bagi Krugman, asumsi ini tidak benar.

Kelima, ancaman inflasi tinggi --bahkan hiperinflasi-- bakal terjadi jika kebijakan cetak uang baru diberlakukan. Larry Summers menyatakan tidak benar bahwa pemerintah dapat menciptakan uang baru untuk membayar semua kewajiban yang jatuh tempo dan menghindari gagal bajar.

Pendekatan ini hanya akan mengarah kepada hiperinflasi. MMT-ers mengakui meningkatkan pengeluaran pada kapasitas penuh dapat menyebabkan inflasi.

Mereka berpendapat masalah inflasi ini bisa mudah dipadamkan dengan menaikkan pajak atau menerbitkan obligasi untuk menghilangkan kelebihan likuiditas.

Summers menganggap MMT sebagai 'resep untuk bencana'. Dia memberi contoh pada pengalaman suram ekonomi pasar yang sedang tumbuh di beberapa negara.

Prancis pada awal 1980-an, Italia dan Inggris pada 1970-an. Negara-negara ini meningkatkan defisit mereka pada saat tingkat inflasi sudah sangat tinggi 11 persen di Italia dan 9 persen di Inggris pada 1973. Ekonomi bukannya makin membaik, sebaliknya malah semakin memburuk.

Kritik keenam untuk MMT, terkait suku bunga. Konsep MMT, suku bunga harus rendah bahkan ketika ekonomi sedang dalam tahap ekspansi sekalipun. Pada saat ekonomi booming MMT menilai suku bunga harus dijaga rendah.

Bagi Krugman, karena ekonomi sudah beroperasi pada kapasitas penuh, inflasi akan mulai meningkat tajam, bank sentral dipaksa menaikkan suku bunga untuk mencegah ekonomi terlalu panas.

Berbeda dengan MMT, ekonom konvensional melihat ekonomi yang booming menyebabkan inflasi naik, uang beredar lebih banyak, dan bank sentral harus membuat transmisi kebijakan menarik uang-uang itu.

Demikian sejumlah kritik kaum ekonom konvensional atas Teori Moneter Modern. Masih banyak kritik lain yang tidak masuk dalam ulasan kolom ini.

Sebagai sebuah gagasan, MMT semakin membuka cakrawala berpikir politisi dan ekonom tentang sebuah model ekonomi yang boleh dikatakan tidak baru juga.

*Elba Damhuri, Jurnalis/Alumni University of Newcastle Inggris

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jurnalis

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Cara Download Video dari Instagram, Facebook, Twitter dengan Aman dan Cepat 2021

Image

Memahami Ekonomi Politik Penanganan COVID-19

Image

Festival Seni, Suarakan Semangat, Cinta Budaya, hingga Waspada Pandemi

Image

Stop Kriminalisasi Ulama Islam

Image

Kritik Atas Modernisme: Tinjauan Jurgen Habermas-Sayyed Nasr

Image

WIZ Peduli Gizi Dhuafa di Pinggiran Pangandaran

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image