Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ashefa Griya Pusaka

Mengenal OCD, Contoh Gangguan Kecemasan Ekstrim

Gaya Hidup | Friday, 08 Apr 2022, 19:41 WIB

Mengenal OCD, Contoh Gangguan Kecemasan Ekstrim - Sesungguhnya, perasaan cemas termasuk kondisi yang wajar dan dapat diderita siapa pun. Akan tetapi, hendaknya waspada bila kejadian tersebut kerap diderita dan bertambah parah. Rasa cemas berlebihan boleh jadi merupakan indikasi gangguan kecemasan. Salah satu contoh gangguan kecemasan adalah Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Baca juga:

Penyakit Gangguan Kecemasan, Gejala dan Penanganan

Penyebab dan Ciri-Ciri Remaja Mengalami Depresi

Bagaimana cara menghindari bahaya penyalahgunaan narkoba

Obsessive compulsive disorder (OCD) adalah gangguan kecemasan di mana penderita memiliki pikiran, ketakutan, atau kekhawatiran yang tidak rasional yang coba dikendalikan dengan melakukan aktivitas ritual untuk mengurangi kecemasan. Pikiran atau gambaran yang mengganggu yang sering muncul diistilahkan obsesi, dan ritual berulang yang dilakukan untuk menghindari atau meniadakannya disebut kompulsi.

Selama pertumbuhan dan perkembangan normal anak-anak dan remaja, ritual dan pikiran obsesif biasanya terjadi dengan tujuan dan fokus sesuai usianya. Anak-anak prasekolah sering menggunakan ritual dan rutinitas waktu makan, waktu mandi, dan waktu tidur untuk membantu menstabilkan harapan dan pemahaman mereka tentang dunia. Anak-anak usia sekolah biasanya mengembangkan ritual kelompok saat mereka belajar bermain game, terlibat dalam olahraga tim, atau membacakan puisi. Sementara masa remaja ditandai dengan mulai mengumpulkan benda-benda dan mengembangkan hobi.

Ritual tersebut membantu anak-anak untuk bersosialisasi dan membantu mereka menguasai kecemasan. Seorang anak atau remaja dengan OCD memiliki pikiran obsesif yang tidak diinginkan dan berhubungan dengan rasa takut (seperti takut menyentuh benda-benda kotor) dan menggunakan ritual kompulsif untuk mengendalikan rasa takut (seperti mencuci tangan secara berlebihan). Pikiran obsesif dan ritual kompulsif bisa begitu sering atau intens sehingga mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari dan aktivitas perkembangan normal.

Penyebab OCD

Penyebab gangguan OCD hingga hari ini belum diketahui dengan pasti. Penelitian menunjukkan bahwa OCD adalah gangguan neurologis otak. Bukti menunjukkan bahwa orang dengan OCD ternyata menderita kekurangan zat kimia otak yang disebut serotonin. OCD sering terjadi dalam keluarga. Ini menunjukkan aspek keturunan. Namun, OCD juga dapat berkembang tanpa riwayat keluarga OCD. Studi terbaru menunjukkan bahwa infeksi streptokokus pun dapat memicu atau meningkatkan intensitas OCD. Meskipun gejala OCD sering terlihat pada anak-anak, penyakit ini diakui sebagai gangguan kesehatan mental yang relatif umum pada remaja, dengan 1 dari 200 anak dan remaja mengalami OCD.

Gejala OCD

Gejala yang paling umum dari gangguan OCD bisa dilihat dari daftar di bawah ini. Namun, setiap orang mungkin menunjukkan gejala yang berbeda. Gejala OCD secara umum adalah :

· Kekhawatiran ekstrem tentang kotoran, kuman, atau kontaminasi

· Keraguan yang berulang (misalnya, apakah pintu tertutup atau tidak)

· Pikiran yang tidak diinginkan tentang kekerasan, menyakiti atau membunuh seseorang, atau menyakiti diri sendiri

· Menggunakan waktu yang lama ketika akan menyentuh benda, menghitung, atau memikirkan angka dan urutan.

· Asyik dengan keteraturan, simetri, atau akurasi.

· Pikiran terus-menerus untuk terlibat dalam tindakan seksual yang menjijikkan atau perilaku tabu yang dilarang.

· Keasyikan dengan pikiran yang bertentangan dengan keyakinan agama.

· Kebutuhan yang kuat untuk mengetahui atau mengingat hal-hal yang mungkin sepele.

· Perhatian yang berlebihan terhadap detail.

· Kekhawatiran berlebihan tentang kemungkinan sesuatu yang mengerikan terjadi.

· Pikiran, impuls atau perilaku agresif.

· Perilaku kompulsif (ritual yang digunakan untuk menenangkan kecemasan yang disebabkan oleh obsesi) dapat berlebihan, mengganggu, dan memakan waktu. Mereka dapat mengganggu aktivitas dan hubungan sehari-hari. Contoh perilaku kompulsif diantaranya :

· Mencuci tangan secara berulang (bahkan bisa mencapai 100 kali atau lebih per hari)

· Mengecek dan mengecek ulang berulang kali (misalnya, untuk memastikan pintu sudah ditutup)

· Mengikuti aturan tata tertib yang kaku (misalnya, mengenakan pakaian menurut urutan yang sama setiap hari atau memasukkan barang-barang ke dalam ruangan dengan cara yang sangat khusus dan menjadi marah jika seseorang mengubah urutannya).

· Menghitung dan menghitung ulang

· Mengulangi kata-kata yang diucapkan seseorang (palilalia) atau yang diucapkan orang lain (echolalia), mengajukan pertanyaan yang sama berulang-ulang.

· Coprolalia (berulang kali mengucapkan kata-kata kotor) atau copropraxia (berulang kali membuat gerakan cabul).

· Mengulangi suara, kata, angka atau lagu untuk diri sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image