Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ade Sudaryat

Meraup Manfaat Puasa dengan Jamu Jabati Jarak Bagian 4

Lomba | Sunday, 20 Mar 2022, 16:28 WIB

Beberapa puluh tahun ke belakang banyak orang yang meninggal dunia akibat kekurangan makanan. Kini pada saat teknologi pangan dan pengolahan pangan semakin maju banyak orang yang meninggal dunia akibat kelebihan mengkonsumsi makanan.

Dalam hal ini menarik untuk dicermati pendapat Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus A Brief History of Tomorrow (versi e-book, 2017 : 7), “untuk kali pertama dalam sejarah, kini lebih banyak orang yang meninggal akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan dan minuman daripada orang kekurangan makan; lebih banyak orang meninggal dunia karena lanjut usia daripada karena penyakit menular. Pada awal abd ke-20 lebih banyak kemungkinan manusia meninggal akibat McDonald (makanan cepat saji) daripada akibat kekeringan, ebola, atau serangan al-Qaeda.”

Salah satu akibat berlebihan dari mengkonsumsi makanan adalah timbulnya obesitas alias kelebihan berat badan. Beberapa tahun belakangan ini obesitas telah banyak menelan korban jiwa.

Masih dalam buku yang sama, Yuval Noah Harari (versi e-book, 2017 : 9) menyebutkan, pada tahun 2014, lebih dari 2,1 miliar orang kelebihan berat badan, sementara yang kekurangan gizi hanya mencapai 850 juta orang. Pada tahun 2030 setengah dari populasi manusia diperkirakan akan menderita kelebihan berat badan.

Data sebelumnya, pada tahun 2010, kelaparan digabung dengan gizi buruk menyebabkan orang meninggal dunia sebanyak satu juta orang, sedangkan yang meninggal dunia akibat obesitas mencapai tiga juta orang. Masih dalam hal urusan isi perut, bagi rata-rata warga Amerika dan Eropa, coca-cola menjadi ancaman yang lebih mematikan ketimbang al-Qaeda (serangan teroris).

Para ahli kesehatan menyebutkan penyakit-penyakit yang diderita kebanyakan orang pada saat ini pada dasarnya karena salah pola makan. Dokter Mohammad Ali Toha Assegaf (2007 : 107) dalam bukunya “Smart Healing, Kiat Hidup Sehat Menurut Nabi” mengatakan, 70% penyakit manusia modern disebabkan kelebihan gizi alias berlebihan dalam mengkonsumsi makanan.

Saya sengaja mengemukakan data tersebut di atas sebagai bukti kebenaran sabda Rasulullah saw ribuan tahun ke belakang. “Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau ia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas,” (H. R. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Muslim).

Jelas sudah bahwa penyakit yang diderita orang-orang pada saat ini disebabkan berlebihan dalam mengkonsumsi makanan. Dengan Bahasa lain, kebanyakan orang rakus dalam mengkonsumsi makanan, hanya memikirkan enak dan kenyang saja tanpa memikirkan akibat dari pola makan yang dilakukannya.

Sebagai agama yang tawazun (seimbang), Islam senantiasa engajarkan kesederhanaan, tak berlebihan dalam melakukan apapun, termasuk dalam mengkonsumsi makanan. Ajaran Islam sangat menekankan agar kita benar-benar memperhatikan makanan yang kita konsumsi. Selain bergizi, kehalalannya pun mutlak harus mendapatkan perhatian, dan yang paling penting jangan berlebihan dalam mengkonsumsinya. “Silakan kalian makan dan minum, namun kalian jangan berlebihan” (Q. S. Al-A’raf : 31).

Melihat sifat kemaruk atau kerakusan manusia dalam hal mengkonsumsi makanan, dengan kasih sayang-Nya Allah mengingatkan manusia agar mampu mengendalikan keinginan mengkonsumsi makanan secara berelebihan. Melalui lisan Rasulullah saw, Allah menganjurkan agar setiap hamba-Nya mampu mengukur kadar makanan yang dikonsumsinya sesuai dengan kebutuhan.

Ibadah puasa yang kita laksanakan, baik puasa sunat maupun puasa Ramadan memiliki hikmah yang luhur. Salah satunya adalah mengendalikan keinginan untuk mengkonsumsi makanan secara berlebihan.

Kini banyak para ahli yang meyakini bahwa melaksanakan puasa merupakan cara terbaik untuk menjaga pencernaan dan kesehatan tubuh. Meskipun konsep puasa yang para ahli kesehatan Barat lakukan berbeda dengan konsep Islam, tapi intinya mengendalikan makanan, mengurangi kadar makanan yang masuk ke dalam perut, tidak rakus dapat meningkatkan kesehatan pencernaan dan kesehatan tubuh orang yang melaksanakannya.

Satu hal yang harus diperhatikan agar kita dapat meraup manfaat puasa secara sosial dan spiritual adalah benar-benar melaksanakan jarak (jangan rakus). Satu hal yang jarang disadari, dengan dalih diperbolehkannya makan-minum ketika berbuka puasa, pada umumnya kebanyakan orang mengkonsumsi makanan tanpa kendali alias rakus. Perut diisi penuh dengan makanan dan minuman.

Jika disadari, berbuka dengan rakus dalam mengkonsumsi makanan bukanlah hal yang baik baik secara sosial maupun spiritual. Secara sosial akan merusak kesehatan tubuh, sementara secara spiritual akan mengurangi kekhusyukan dalam melaksanakan ibadah shalat dan berzikir.

Perut yang penuh sesak biasanya menimbulkan kemalasan untuk bergerak, jangankan menggerakkan tubuh untuk beribadah, sekedar untuk berpindah tempat duduk pun terasa malas. Perut yang malas akan mengantarkan seseorang untuk tertidur pulas. Jika sudah tertidur pulas pada umumnya pelaksanaan ibadah dan zikir akan tertunda.

Sangatlah bijak nasihat Lukmanul Hakim kepada putranya agar menghindari kemaruk atau rakus dalam mengkonsumsi makanan.

“Anakku, kamu selayaknya menghindari rakus atau kemaruk dalam mengkonsumsi makanan. Jika perutmu penuh sesak dengan makanan, maka otakmu akan malas untuk diajak berfikir yang mengakibatkan ilmu dan hikmah akan menjauh dari hatimu. Perut yang penuh sesak dengan makanan akan melahirkan jiwa-jiwa yang malas beribadah kepada Allah” ( Syaikh Ahmad Ali Al-Jurjawi, Hikmatut Tasyri, Juz I, halaman 204, Penerbit : Al-Haramain, Jiddah-Saudi Arabia).

Masih pada kitab dan halaman yang sama, Syaikh Ahmad Ali Al-Jurjawi mengutip sebuah sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang mengosongkan perutnya (tidak rakus dalam mengkonsumsi makanan dan minuman), pikirannya akan berwawasan luas dan hatinya akan cerdas”. (bersambung)

Ilustrasi : Puasa pada masa Pandemi Covid-19 (sumber gambar : https://pwmu.co)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image