Otentisitas Al-Quran dan Respons terhadap Orientalis: Telaah Kritis
Agama | 2026-11-06 11:19:34
Identitas Artikel
Judul: Potret Studi Al Qur’an di Mata Orientalis Penulis: Hasani Ahmad Said Institusi: Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Terbitan: Jurnal At-Tibyan, Vol. III No. 1, Januari--Juni 2018 Fokus kajian: Sejarah dan motif orientalisme, tokoh-tokoh orientalis yang mengkaji Al-Qur'an, serta tanggapan penulis terhadap kritik mereka atas otentisitas dan penyusunan teks Al-Qur'an.
Resensi dan Tanggapan Kritis
Setiap kali kajian orang luar tradisi Islam atas Al-Qur'an dibicarakan, reaksi yang muncul biasanya cepat: curiga, atau langsung defensif. Persoalan yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana kritik semacam itu dijawab tanpa menutup diri dan tanpa kehilangan pijakan keilmuan. Artikel Hasani Ahmad Said ini mencoba masuk ke wilayah tersebut.
Artikel dibuka dengan penegasan bahwa hampir semua bidang studi Islam, dari tafsir, hadis, fikih, sampai sejarah, pernah disentuh orientalis. Dari situ penulis menelusuri akar orientalisme. Ia menjelaskan bahwa istilah "orientalis" lebih tua daripada "orientalisme" dan sudah dipakai pada abad ke-17, lalu menguraikan dua motif besar di baliknya. Motif keagamaan lahir dari rivalitas Islam dan Kristen yang diperkuat pengalaman Perang Salib, sedangkan motif politik berkaitan dengan kepentingan kolonial Eropa yang membutuhkan pemahaman atas adat dan agama bangsa jajahan. Penulis mengutip Ali Husny al-Kharbuthly bahwa tujuan orientalisme ada tiga: penyebaran agama Kristen, kepentingan penjajahan, dan ilmu pengetahuan semata.
Penulis kemudian merangkum enam "dogma" orientalisme dari Amien Rais. Isinya antara lain anggapan bahwa Barat superior dan Timur inferior, kecenderungan bertumpu pada teks klasik ketimbang realitas masyarakat Timur, pandangan bahwa Al-Qur'an adalah karangan Muhammad dan bukan wahyu, serta keraguan terhadap keaslian hadis. Hadis disebut sebagai "sasaran empuk" orientalis, yang menurut penulis gagal ketika mencoba menyerang Al-Qur'an secara langsung.
Memasuki inti pembahasan, penulis menyatakan bahwa cara pandang Barat terhadap Al-Qur'an bergeser dalam beberapa dekade terakhir, dari pendekatan teologis yang mempersoalkan asal-usul menuju pendekatan yang memandangnya sebagai fakta kultural. Ia lalu memperkenalkan sejumlah tokoh. Abraham Geiger menelusuri akar kosakata Al-Qur'an ke bahasa Ibrani. Gustav Weil menyusun periodisasi surah Makkiyah dan Madaniyah pada 1844, yang kemudian dikembangkan Nldeke dan Schwally dalam Geschichte des Qorans. William Muir mengusulkan pengelompokan kronologis surah dalam enam periode. Alphonse Mingana menyerukan agar teks Al-Qur'an dikritik sebagaimana Bibel. Arthur Jeffery menghimpun bacaan-bacaan awal yang ia sebut "mushaf tandingan", sementara upaya edisi kritis yang dirintis Bergstrsser dan Pretzl hancur bersama dokumennya pada Perang Dunia II.
Terhadap tokoh-tokoh itu, penulis menyampaikan tanggapan. Klaim Nldeke bahwa Nabi keliru dan "mencuri" dari sumber Yahudi dijawab dengan argumen bahwa wahyu dikawal Jibril dan dijaga melalui hafalan serta tulisan para sahabat. Kisah Zayd bin Tsabit yang sempat kehilangan dua ayat terakhir surah Bara'ah, lalu menemukannya dari mushaf Hafsah, dipakai sebagai bukti ketelitian proses pengumpulan. Soal ragam bacaan, penulis mengutip al-A'zami bahwa terdapat lebih dari 250.000 naskah Al-Qur'an, lalu menyatakan bahwa perlakuan terhadap Bibel yang dikaji Wurthwein, Ehrman, dan Metzger tidak tepat dikenakan pada Al-Qur'an. Penjelasan Goldziher bahwa ragam bacaan muncul dari tulisan Arab awal yang belum bertitik juga disinggung. Artikel ditutup dengan kesimpulan bahwa semua upaya itu tidak melunturkan keimanan, bahkan menambah gairah umat mengkaji Al-Qur'an.
Dari gambaran isi tersebut, hal pertama yang saya catat adalah jarak antara abstrak dan isi. Abstrak menjanjikan pembahasan tentang kegelisahan Umar bin Khattab setelah Perang Yamamah, desakan kodifikasi kepada Abu Bakar, alasan Nabi tidak menghimpun suhuf sendiri, serta Zayd bin Tsabit yang tampak belum siap menghadapi hilangnya sebagian ayat Bara'ah. Di badan tulisan, isu-isu itu nyaris tidak dibahas. Zayd dan Bara'ah baru muncul sepintas saat penulis menjawab Nldeke, sementara sebagian besar halaman dipakai untuk sejarah orientalisme yang sifatnya umum. Pembaca yang datang karena abstrak akan menemukan artikel yang berbeda dari yang dijanjikan.
Uraian tentang akar orientalisme sebenarnya berguna sebagai latar. Gagasan Said bahwa Timur kerap diposisikan sebagai objek yang dinilai Barat memberi kacamata untuk membaca bias dalam kajian ketimuran. Namun menurut saya penulis memakainya terlalu jauh. Abstrak menyebut Barat mempelajari Islam untuk menghancurkannya dari dalam dan menegaskan bahwa itu "kenyataan", sementara di bagian lain penulis mengakui ada orientalis yang tulus mencari pengetahuan dan mengutip Hamka yang menyebut ilmu pengetahuan sebagai salah satu tujuan orientalisme. Dua penilaian ini sulit berjalan bersamaan tanpa penjelasan. Tesis Said sendiri lebih berbicara tentang representasi dan relasi kuasa, bukan rencana sistematis untuk menghancurkan Islam, sehingga pemakaiannya sebagai bukti terasa dipaksakan. Uraian enam dogma pun tampak kurang rapi: teks menyebut "keempat dogma itu" perlu ditambah dua dogma lainnya, tetapi yang terbaca jelas hanya tiga sebelum dogma kelima.
Persoalan serupa tampak pada penggunaan istilah "orientalis". Nldeke, Jeffery, dan Watt dimasukkan dalam satu kelompok dengan Ibn Warraq dan Mark Gabriel, padahal keduanya penulis polemis yang oleh artikel yang dirujuk sendiri disebut sebagai mantan intelektual Muslim. Penulis memang sempat menyinggung keberatan Issa Boullata atas penyebutan Fazlur Rahman sebagai orientalis, dan menyebut pemetaan literatur Barat oleh Rahman. Tetapi keragaman ini tidak dikembangkan, sehingga "Barat" tetap terkesan sebagai satu blok.
Bagian yang paling saya perhatikan adalah tanggapan penulis atas kritik. Terhadap Nldeke, jawabannya pada dasarnya berupa pertanyaan teologis: bagaimana mungkin Nabi lupa menyampaikan wahyu yang dikawal Jibril? Bagi pembaca yang beriman, argumen ini masuk akal. Tetapi contoh konkret Nldeke, seperti penyebutan Haman dan Maryam saudara Musa, tidak dijawab satu per satu dan hanya dialihkan ke karya al-A'zami. Terhadap Mingana, penulis menyatakan perlu ditanggapi secara ilmiah, tetapi kemudian menduga pernyataan itu muncul karena Bibel mereka banyak dicampuri manusia. Menjelaskan mengapa seseorang berkata begitu tidak sama dengan membuktikan bahwa perkataannya keliru. Tesis Wansbrough dan Burton pun hanya disebut "paradoks" tanpa dijelaskan isinya, sehingga pembaca awam tidak bisa menilai tepat atau tidaknya bantahan itu.
Pada isu ragam bacaan, penulis menyatakan kurang tepat memperlakukan Al-Qur'an seperti Bibel lalu bertanya di mana letak kesalahannya. Menurut saya jawabannya bisa lebih kuat jika dijabarkan dengan perangkat tradisi Islam sendiri, seperti periwayatan lisan dan tulisan, qira'at yang mutawatir, dan mushaf Utsmani..
Kelebihan dan Kekurangan Artikel
Kelebihan artikel ini terletak pada tema yang relevan dan peta awal yang cukup bermanfaat. Pembaca pemula mendapat gambaran nama tokoh, karya, dan isu utama dalam kajian Al-Qur'an di Barat, ditambah latar sejarah yang membantu memahami mengapa kajian itu sering menimbulkan ketegangan. Penulis juga tidak sepenuhnya menutup mata bahwa tidak semua orientalis bermotif sama.
Kekurangannya ada pada tiga hal. Pertama, isi tidak sepenuhnya sesuai dengan abstrak. Kedua, bantahan lebih banyak bertumpu pada keyakinan daripada bukti filologis dan historis. Ketiga, generalisasi tentang "Barat" dan "orientalis" terlalu lebar, ditambah beberapa ketidaktelitian teknis. Seperti surah al-Hijr ditulis bernomor 19, padahal surah ke-15. Tahun wafat Arberry tertulis 1069 dan Juynboll 1048. Nama M.M. al-A'zami ditulis tidak konsisten. Hal-hal ini tampak kecil, tetapi dalam tulisan akademik ketelitian adalah bagian dari kredibilitas
Penilaian dan Refleksi Akhir
Menurut saya, artikel ini cukup bermanfaat sebagai pengantar bagi pembaca Muslim yang ingin mengenal siapa saja orientalis dalam kajian Al-Qur'an dan isu apa yang mereka angkat. Tetapi sebagai kajian yang betul-betul menjawab perdebatan itu, ia belum tuntas. Bobot analisisnya lebih ringan daripada besarnya persoalan yang dibuka.
Bagi saya, pembelaan terhadap Al-Qur'an akan jauh lebih meyakinkan jika dilakukan pada level yang sama dengan tuduhannya: tuduhan filologis dijawab dengan data filologis, tuduhan historis dengan data historis. Klaim bahwa serangan itu terbukti gagal karena minat umat makin tinggi memang menarik, tetapi tidak didukung data dalam artikel. Justru karena Al-Qur'an layak dibela, pembelaannya perlu bisa diuji oleh siapa pun, termasuk oleh mereka yang tidak beriman.
Catatan: Resensi ini didasarkan pada artikel dalam berkas yang dilampirkan. Pandangan tentang Edward Said, perangkat periwayatan Al-Qur'an, dan kategori "orientalis" merupakan penilaian kritis tambahan, bukan klaim bahwa seluruhnya terdapat dalam artikel.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
