Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shohibul Ahbab

Dari Botol ke Sajadah: Menyambut Pulang Remaja yang Pernah Mabuk

Agama | 2026-11-05 16:13:53

Penulis: Sohibul Ahbab

NIM: 26109017|

Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sunan

Gresik

Bayangkan seorang remaja berusia tujuh belas tahun, sebut saja Raka. Dua tahun lalu ia

pertama kali mencicipi minuman keras di sebuah pesta ulang tahun teman. Awalnya hanya

ingin ikut-ikutan dan takut dianggap kuno. Lama-lama, minuman itu menjadi pelarian dari

rumah yang dingin, dari nilai yang merosot, dan dari perasaan tidak berharga. Hingga pada

suatu pagi ia terbangun di teras rumah orang yang tidak dikenalnya, dengan kepala

berdenyut dan pakaian yang bau. Ada satu pertanyaan yang kemudian terngiang: “Sampai

kapan aku begini?”

Beberapa bulan kemudian, Raka duduk di saf paling belakang sebuah masjid kampung. Ia

belum fasih membaca doa. Tangannya masih canggung saat bersedekap. Tetapi ia ada di

sana. Pertanyaan yang kini penting bagi kita sebagai orang tua, guru, tetangga, dan

masyarakat bukan lagi sekadar “mengapa ia dulu mabuk?”, melainkan “apa yang akan kita

lakukan ketika ia mengetuk pintu untuk pulang?” Apakah kita menyambutnya, atau justru

menutup pintu dengan stempel “anak nakal” yang akan melekat seumur hidup?

Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan itu dengan meminjam beberapa lensa keilmuan:

psikologi, sosiologi, pedagogi, dan humaniora, tentu dengan pijakan nilai-nilai Pendidikan

Agama Islam (PAI). Argumen utamanya sederhana: tobat seorang remaja bukanlah

peristiwa tunggal yang selesai dalam satu malam, melainkan proses panjang yang sangat

dipengaruhi cara lingkungannya merespons. Pendidikan agama yang baik tidak hanya

mencegah remaja jatuh, tetapi juga menyiapkan tangan yang terulur ketika ia ingin bangkit.

Mengapa Remaja Terjerumus: Membaca Akar, Bukan Hanya Gejala

Di tengah kepanikan moral, kita cenderung terburu-buru menyalahkan remaja yang mabuk

sebagai pribadi yang rusak. Padahal, minum minuman keras pada usia belia hampir selalu

merupakan puncak gunung es dari sejumlah persoalan yang lebih dalam. Ada remaja yang

meminumnya karena penasaran dan tekanan teman. Ada yang meminumnya karena ingin

meredam kecemasan, kesepian, atau luka batin yang tidak tahu harus dibicarakan kepada

siapa. Ada pula yang meniru perilaku orang dewasa di lingkungannya, entah ayah, kakak,

atau figur yang ia kagumi.

1

Memahami akar ini bukan berarti membenarkan perbuatannya. Dalam pandangan Islam,

khamr jelas dilarang karena merusak akal, kesehatan, dan hubungan sosial. Larangan itu

hadir sebagai bentuk perlindungan, bukan semata pembatasan. Namun, pendidik yang bijak

membedakan antara menegaskan hukum dan memahami manusia. Dokter yang baik tidak

hanya melarang pasien merokok, tetapi juga bertanya mengapa pasien sulit berhenti.

Demikian pula pendidik agama: ia tegas pada nilai, tetapi hangat pada orangnya.

Perlu pula diakui bahwa akses terhadap minuman keras dan budaya yang menormalkannya

sering lebih dekat dengan kehidupan remaja daripada yang kita bayangkan. Iklan

terselubung, tayangan hiburan yang menggambarkan mabuk sebagai kegiatan seru, hingga

lingkungan pergaulan yang menjadikan minum sebagai tiket diterima kelompok, semuanya

membentuk iklim yang tidak ramah. Remaja yang tidak memiliki benteng nilai dan

dukungan emosional akan lebih mudah terseret iklim tersebut.

Perspektif Psikologi: Otak yang Sedang Dibangun dan Jiwa yang Sedang

Mencari

Psikologi perkembangan menawarkan penjelasan yang membantu kita bersikap lebih

empatik. Erik Erikson menyebut masa remaja sebagai periode pencarian identitas, ketika

seseorang bertanya siapa dirinya, di mana tempatnya, dan apa yang layak diperjuangkan.

Remaja yang gagal menemukan jawaban yang sehat dapat mencari identitas pada kelompok

yang menawarkan penerimaan instan, termasuk kelompok yang membiasakan minuman

keras. Mabuk, bagi sebagian remaja, bukan semata soal rasa, melainkan soal rasa memiliki.

Temuan ilmu saraf perkembangan memperkuat gambaran ini. Korteks prefrontal, bagian

otak yang berperan dalam pengendalian diri, pertimbangan jangka panjang, dan

pengambilan keputusan, terus berkembang hingga usia awal dua puluhan. Sementara itu,

sistem penghargaan di otak sangat peka terhadap kesenangan dan pengalaman baru.

Akibatnya, remaja lebih rentan mengambil keputusan impulsif dan lebih sulit menahan

godaan, terutama ketika berada di depan teman sebaya. Otak remaja juga lebih mudah

membentuk kebiasaan yang kuat, sehingga zat adiktif dapat meninggalkan jejak yang lebih

dalam dibanding pada usia dewasa.

Di sisi lain, plastisitas otak yang sama juga berarti kabar baik. Otak remaja sangat mampu

belajar dan berubah. Inilah alasan ilmiah mengapa harapan untuk pulih dan berubah pada

usia remaja sangat besar, selama ia memperoleh dukungan dan lingkungan yang tepat.

Tobat pada masa remaja bukan hanya mungkin, tetapi sering kali lebih mudah dirawat

menjadi kebiasaan baru dibandingkan pada usia yang lebih tua.

James Prochaska dan Carlo DiClemente, melalui model perubahan perilaku yang dikenal

sebagai Transtheoretical Model, menjelaskan bahwa perubahan bukan lompatan satu kali.

2

Ada tahap prakontemplasi ketika seseorang belum menyadari masalahnya, kontemplasi

ketika mulai ragu dan menimbang, persiapan, tindakan, lalu pemeliharaan. Dan, yang sering

dilupakan, kambuh (relapse) dipandang sebagai bagian wajar dari siklus perubahan, bukan

akhir dari segalanya. Pandangan ini sangat penting bagi pendidik agama. Ketika seorang

remaja yang sudah berniat tobat tergelincir lagi, respons yang membangun bukan “kamu

memang tidak bisa berubah”, melainkan “mari kita pelajari apa yang memicu dan bangkit

lagi.”

Konsep efikasi diri dari Albert Bandura juga relevan. Keyakinan seseorang bahwa ia

mampu mengubah dirinya adalah prediktor penting keberhasilan. Remaja yang

terus-menerus dicap bejat akan kehilangan keyakinan ini. Sebaliknya, remaja yang diberi

pengalaman keberhasilan kecil, seperti berhasil tidak minum selama seminggu, istiqamah

shalat subuh tiga hari berturut-turut, atau menyelesaikan satu tugas sekolah, akan perlahan

membangun keyakinan bahwa dirinya bisa. Pendidikan agama yang memahami psikologi

tidak menuntut kesempurnaan instan, tetapi merayakan kemajuan kecil.

Perlu ditekankan pula bahwa sebagian remaja yang minum minuman keras secara berulang

mungkin telah mengalami ketergantungan, atau menyimpan persoalan kesehatan mental

seperti kecemasan dan depresi. Dalam kasus demikian, nasihat agama saja tidak cukup.

Dukungan profesional dari psikolog, dokter, atau layanan rehabilitasi sangat diperlukan,

berdampingan dengan pendampingan spiritual. Menyarankan bantuan profesional bukanlah

tanda kurang beriman, melainkan wujud ikhtiar. Islam sendiri mengajarkan berobat sebagai

bagian dari upaya menjaga jiwa dan raga.

Perspektif Sosiologi: Ketika Lingkungan Menjerumuskan dan

Menyembuhkan

Sosiologi mengingatkan bahwa perilaku menyimpang tidak lahir dari kekosongan sosial.

Edwin Sutherland, melalui teori asosiasi diferensial, menjelaskan bahwa perilaku

menyimpang dipelajari melalui interaksi dengan kelompok yang menormalkannya. Remaja

yang dikelilingi teman yang menganggap mabuk sebagai hal biasa akan menginternalisasi

pandangan itu. Sebaliknya, remaja yang berada dalam lingkaran yang menjunjung

nilai-nilai positif akan belajar pola yang berbeda. Maka, tobat yang kuat sering

membutuhkan perubahan lingkaran pergaulan, bukan hanya perubahan niat.

Travis Hirschi, dengan teori ikatan sosial, menyebut empat elemen yang mengikat

seseorang pada masyarakat konvensional: keterikatan (attachment) kepada orang-orang

penting, komitmen pada tujuan hidup, keterlibatan dalam kegiatan positif, dan keyakinan

pada nilai moral. Semakin lemah keempatnya, semakin besar risiko seseorang jatuh pada

perilaku menyimpang. Teori ini memberi peta jalan yang jelas bagi pendidik agama.

Memperkuat kedekatan remaja dengan keluarga dan guru, membantunya menemukan

3

cita-cita,

melibatkannya dalam kegiatan masjid, olahraga, atau kesenian, serta

menumbuhkan keyakinan nilai secara bermakna, adalah cara memperbaiki ikatan sosial

yang sempat retak.

Robert Merton melalui teori ketegangan (strain theory) menambahkan sudut pandang

struktural. Ketika masyarakat menuntut kesuksesan tertentu tetapi tidak menyediakan jalan

yang setara bagi semua orang, sebagian individu mencari jalur lain, termasuk pelarian.

Remaja dari keluarga yang tertekan secara ekonomi, atau yang merasa selalu gagal dalam

ukuran prestasi akademik, dapat terdorong mencari kompensasi di tempat yang salah. Maka

pendidikan agama yang adil perlu berpihak pada mereka yang paling rentan, bukan hanya

memuji murid yang sudah rajin.

Namun bagian paling relevan bagi tema tobat mungkin adalah teori pelabelan dari Howard

Becker dan konsep stigma dari Erving Goffman. Becker menjelaskan bahwa label

“menyimpang” yang diberikan masyarakat dapat membuat seseorang menginternalisasi

identitas tersebut dan akhirnya bertindak sesuai label itu. Goffman menggambarkan

bagaimana stigma menjadikan seseorang tidak sepenuhnya diterima, meski ia sudah

berubah. Bagi remaja yang bertobat, stigma adalah tembok yang paling menyakitkan. Ia

sudah ingin berubah, tetapi bisik-bisik tetangga, tatapan curiga, dan label “bekas pemabuk”

terus mengikutinya. Tidak jarang stigma inilah yang membuat sebagian remaja merasa

percuma bertobat dan kembali ke kelompok lamanya yang masih menerima mereka apa

adanya.

Dengan demikian, masyarakat memiliki tanggung jawab moral yang sering terlupakan. Kita

sibuk menuntut remaja berubah, tetapi enggan berubah dalam cara memperlakukannya.

Padahal tobat adalah kerja bersama. Ketika masyarakat bersedia memberi kesempatan

kedua, mempercayakan tanggung jawab kecil, dan tidak mengungkit masa lalu secara

berulang, ia sedang menjadi bagian dari proses penyembuhan. Dalam kerangka Durkheim,

masyarakat yang sehat adalah yang mampu mengintegrasikan anggotanya, termasuk yang

pernah menyimpang, kembali ke dalam solidaritas bersama.

Perspektif Pedagogi: Mendidik dengan Kasih, Menegur dengan Martabat

Dari sisi pedagogi, pertanyaan kuncinya adalah: bagaimana pendidikan agama dirancang

agar relevan bagi remaja yang sedang bergumul? Pendekatan satu arah yang hanya

menyampaikan dalil larangan khamr dan ancaman dosa sering kali tidak menyentuh remaja

yang sudah terlanjur berada di dalam persoalan. Mereka mungkin sudah tahu bahwa

perbuatan itu dilarang. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk bercerita tanpa dihakimi,

penjelasan yang masuk akal tentang dampaknya, dan jalan keluar yang nyata.

4

Pendekatan pedagogi yang relevan antara lain pembelajaran berbasis dialog dan refleksi.

Guru dapat mengajak remaja menulis jurnal refleksi tentang perasaan, pemicu, dan

harapannya. Diskusi kelompok kecil yang aman dapat membantu remaja menyadari bahwa

mereka tidak sendirian. Studi kasus tentang tokoh yang berubah dapat membuka

kemungkinan harapan. Guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping, bukan hakim.

Lev Vygotsky mengingatkan bahwa perkembangan dibantu oleh interaksi dengan orang

yang lebih mampu. Remaja yang ingin berubah membutuhkan mentor yang berjalan di

sampingnya pada tahap-tahap sulit.

Prinsip pendidikan restoratif juga layak dipertimbangkan. Berbeda dengan pendekatan

hukuman semata yang berfokus pada pelanggaran dan siapa yang salah, pendekatan

restoratif berfokus pada pemulihan hubungan dan tanggung jawab. Seorang remaja yang

pernah mabuk di sekolah, misalnya, dapat diberi kesempatan menyampaikan penyesalan,

memperbaiki kerugian yang timbul, dan dibimbing menyusun rencana perubahan, alih-alih

langsung dikeluarkan dan dibuang dari ekosistem pendidikan. Pengeluaran dari sekolah

mungkin menyelesaikan masalah bagi institusi, tetapi sering memperparah masalah bagi

anak, sebab ia kehilangan lingkungan yang berpotensi menolongnya.

Gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang memerdekakan, yaitu menuntun

kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, sangat cocok

di sini. Anak yang pernah salah jalan tetap memiliki kodrat baik yang dapat dituntun.

Dalam bahasa Islam, ia tetap memiliki fitrah. Pendidik tidak menciptakan kebaikan dari nol,

melainkan menyingkap dan merawat kebaikan yang sudah ada dalam diri anak, meski

sempat tertutup debu kesalahan. Pandangan ini membebaskan pendidik dari sikap putus asa

dan membebaskan remaja dari rasa tak tertolong.

Keteladanan, seperti dalam setiap pendidikan agama, menempati posisi kunci. Remaja

sangat peka terhadap kemunafikan. Orang dewasa yang menceramahi bahaya minuman

keras tetapi menyimpan botol di rumah, atau yang mengecam kenakalan remaja sambil

memperlihatkan perilaku tidak jujur sendiri, akan kehilangan wibawa moral di mata

mereka. Sebaliknya, orang dewasa yang konsisten, rendah hati, dan mau mengakui

kelemahan diri sendiri justru menjadi tempat berlindung yang dipercaya. Banyak kisah

tobat remaja diawali bukan oleh ceramah yang menggetarkan, melainkan oleh satu sosok

dewasa yang sabar dan tidak pergi meninggalkannya.

Perspektif Humaniora dan Nilai Islam: Tobat sebagai Perjalanan

Kembali

Dalam khazanah Islam, tobat adalah gagasan yang sangat manusiawi. Al-Qur’an

memanggil hamba-hamba yang telah berlebih-lebihan atas diri mereka dengan seruan agar

tidak berputus asa dari rahmat Allah, sebagaimana tercantum dalam Surah Az-Zumar ayat

5

53. Al-Qur’an juga menyebut tobat yang sungguh-sungguh, taubatan nasuha, dalam Surah

At-Tahrim ayat 8. Sebuah hadis yang masyhur menyatakan bahwa setiap anak Adam

berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.

Pesan-pesan ini menegaskan satu hal: dalam pandangan Islam, kesalahan adalah bagian dari

kemanusiaan, dan pintu kembali selalu terbuka.

Pesan tentang harapan ini sangat berharga bagi pendidikan remaja. Sering kali, hambatan

terbesar seorang remaja untuk bertobat bukanlah kurangnya pengetahuan agama, melainkan

rasa malu dan keyakinan bahwa dirinya sudah terlalu kotor untuk diterima. Pendidik agama

perlu menyampaikan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada kesalahan yang diperbuat,

tanpa mengesampingkan pentingnya sungguh-sungguh meninggalkan perbuatan dosa.

Keseimbangan antara khauf (rasa takut) dan raja’ (harapan) menjadi pedoman: cukup takut

agar menjauhi kesalahan, cukup berharap agar tidak menyerah.

Sejarah Islam menyimpan kisah-kisah perubahan yang dapat menginspirasi. Fudhail bin

Iyadh, misalnya, dikenang sebagai seorang yang pada masa mudanya hidup keras dan

bahkan terlibat perampokan, lalu berubah menjadi ulama dan ahli ibadah yang disegani.

Terlepas dari rincian riwayatnya, kisah-kisah semacam ini menyampaikan pesan yang jelas:

masa lalu seseorang tidak mengunci masa depannya. Ketika kisah semacam ini

diperkenalkan kepada remaja dengan gaya penceritaan yang hidup, ia bukan sekadar

sejarah, melainkan cermin harapan.

Dari sisi sastra dan seni, pengalaman tobat sering menjadi tema yang menggetarkan:

perjalanan dari gelap menuju terang, dari kegaduhan menuju keheningan. Memberi ruang

kepada remaja untuk mengekspresikan perjalanan batinnya melalui tulisan, puisi, musik,

atau seni visual dapat menjadi sarana penyembuhan sekaligus pendidikan. Banyak anak

muda yang lebih mudah menyatakan pergulatan jiwanya melalui lirik atau gambar daripada

melalui percakapan formal. Pendidikan agama yang menyentuh dimensi humaniora tidak

hanya menyuruh remaja berhenti, tetapi menawarkan bahasa baru untuk menamai

pengalaman dan menyalurkan energinya.

Fenomena hijrah di kalangan anak muda perkotaan hari-hari ini juga layak dibaca secara

kritis dari kacamata humaniora. Di satu sisi, hijrah memberi banyak remaja alasan dan

komunitas untuk berubah. Di sisi lain, ada risiko hijrah berhenti pada penampilan atau tren,

sementara pergulatan batin dan persoalan akar tidak tersentuh. Ada pula risiko sikap merasa

paling suci yang meremehkan orang lain, atau sebaliknya, kekhawatiran berlebihan atas

“kehilangan citra” ketika suatu ketika tergelincir. Tobat yang matang bukan tentang tampil

berbeda, melainkan tentang menjadi lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat

bagi sesama.

6

Tantangan Pasca-Tobat: Godaan Lama, Stigma Baru, dan Euforia yang

Rapuh

Perjalanan setelah tobat sering kali lebih berat daripada momen tobat itu sendiri. Pada fase

awal, remaja biasanya diliputi semangat besar. Ia ingin segera menjadi pribadi yang

sepenuhnya berbeda. Tetapi ketika semangat awal menurun, rutinitas membosankan, dan

godaan lama datang kembali melalui ajakan teman atau tekanan batin, ia menghadapi ujian

yang sesungguhnya. Pada titik ini, dukungan yang berkelanjutan jauh lebih penting

daripada sambutan hangat di awal.

Ada beberapa tantangan yang lazim. Pertama, lingkaran pergaulan lama yang masih

memanggil. Memutus hubungan sama sekali sering terasa kejam dan tidak realistis,

sehingga remaja perlu dibantu membangun jaringan pertemanan baru yang sehat sambil

belajar menetapkan batas dengan teman lama secara santun. Kedua, pemicu emosional,

seperti konflik keluarga, kesepian, atau kegagalan, yang dulu dilampiaskan lewat minuman.

Remaja perlu dibekali strategi mengelola emosi yang baru: berbicara dengan orang

tepercaya, berolahraga, beribadah, menulis, atau melakukan aktivitas yang menyalurkan

energi.

Ketiga, stigma dan ketidakpercayaan lingkungan. Orang tua yang pernah kecewa mungkin

sulit kembali percaya. Wajar, tetapi tetap perlu dikelola, sebab kecurigaan yang berlebihan

dapat menumbuhkan rasa putus asa. Kepercayaan dapat dibangun bertahap melalui

kesepakatan yang jelas dan konsisten. Keempat, tergelincir. Bila seorang remaja kembali

mencicipi minuman, respons orang dewasa sangat menentukan. Reaksi marah yang

meledak-ledak dapat menyuburkan rasa malu dan mendorongnya bersembunyi. Reaksi

yang tenang, tetapi tegas dan mendukung, membuka jalan untuk belajar dari kejadian itu

dan memulai lagi.

Kelima, beban rasa bersalah. Dalam kadar yang sehat, rasa bersalah menggerakkan

perbaikan. Namun rasa bersalah yang berlebihan menjerumuskan pada kebencian terhadap

diri sendiri, yang justru menjadi bahan bakar bagi pelarian baru. Pendidik agama perlu

membantu remaja membedakan penyesalan yang membangun dari rasa malu yang

melumpuhkan. Tobat yang diajarkan Islam mensyaratkan penyesalan, berhenti dari

perbuatan, dan tekad tidak mengulangi, bukan penghukuman diri tanpa akhir.

Model Pendampingan: Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Merajut

Jaring Pengaman

Konsep tripusat pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, yaitu keluarga, sekolah, dan

masyarakat, menyediakan kerangka yang kuat untuk membahas pendampingan remaja yang

bertobat. Ketiganya perlu menjadi jaring pengaman yang saling terhubung, bukan tiga pulau

terpisah.

7

Di keluarga, langkah pertama adalah menciptakan rumah yang aman untuk jujur. Remaja

yang takut dimarahi akan menyembunyikan masalahnya. Orang tua dapat mulai dari

mendengarkan tanpa menyela, mengakui perasaan anak, dan menahan diri dari ceramah

panjang saat emosi tinggi. Selanjutnya, orang tua dapat menyepakati aturan yang jelas

bersama anak, menyediakan waktu berkualitas, dan, bila perlu, mencari bantuan

profesional. Orang tua juga perlu memeriksa diri: adakah pola pengasuhan, konflik rumah

tangga, atau kebiasaan di rumah yang ikut berkontribusi pada pelarian anak? Pertobatan

sering kali melibatkan perubahan seisi rumah, bukan hanya anak.

Di sekolah, guru PAI dan guru bimbingan konseling dapat bekerja sama menyediakan

pendampingan berkelanjutan. Sekolah dapat membentuk kelompok pendamping sebaya

yang terlatih, program mentoring oleh kakak kelas yang positif, serta kegiatan

ekstrakurikuler yang menarik untuk mengisi waktu luang dengan hal bermakna. Kebijakan

sekolah sebaiknya membedakan antara menegakkan disiplin dan menutup pintu

kesempatan. Sanksi tetap perlu, tetapi diiringi program pembinaan yang jelas. Kerahasiaan

perlu dijaga agar remaja yang membuka diri tidak menjadi bahan gunjingan

teman-temannya.

Di masyarakat, masjid dan komunitas keagamaan dapat menjadi rumah kedua yang ramah.

Pengurus masjid dapat membuka ruang bagi remaja untuk terlibat dalam kegiatan seperti

kepanitiaan, kajian santai, olahraga bersama, atau kerja bakti, tanpa menuntut mereka sudah

sempurna sebelum masuk. Tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat berperan sebagai

figur dewasa yang mau mendengar. Komunitas dapat menyepakati sikap bersama untuk

tidak menggunjing dan tidak menyebut-nyebut masa lalu seseorang yang telah berupaya

berubah, sesuai ajaran agama untuk menutup aib saudara sesama muslim.

Langkah-langkah praktis yang dapat ditempuh bersama antara lain: pertama, menyediakan

pintu masuk yang tidak menghakimi, misalnya layanan konsultasi sekolah atau forum

remaja masjid yang ramah. Kedua, menyusun rencana perubahan bersama remaja yang

realistis, berisi target kecil, mekanisme dukungan, dan cara menangani pemicu. Ketiga,

melibatkan tenaga kesehatan dan konselor bila ada tanda ketergantungan atau gangguan

emosional. Keempat, memberikan peran dan tanggung jawab positif agar remaja merasa

dibutuhkan. Kelima, merayakan kemajuan, sekecil apa pun. Keenam, menjaga komunikasi

antara keluarga, sekolah, dan masjid dengan tetap menghormati privasi remaja.

Mendengar Suara Remaja: Sebelum Menasihati, Pahami Dulu

Salah satu kekeliruan paling umum dalam mendampingi remaja yang ingin bertobat adalah

terlalu cepat berbicara. Orang dewasa merasa harus segera memberi nasihat, menyitir dalil,

dan menyusun daftar larangan. Padahal, sering kali yang paling dibutuhkan remaja pada

tahap awal adalah telinga yang mau mendengar. Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik,

8

menekankan pentingnya penerimaan tanpa syarat dan empati sebagai prasyarat tumbuhnya

perubahan. Seseorang baru berani menelanjangi kelemahannya ketika merasa aman bahwa

ia tidak akan dihakimi.

Mendengarkan bukan berarti menyetujui. Pendamping dapat menyampaikan bahwa ia

memahami betapa beratnya pergulatan itu sekaligus tetap menegaskan bahwa perbuatan

tersebut merugikan dan perlu ditinggalkan. Teknik wawancara motivasional dalam

konseling menunjukkan bahwa perubahan lebih mungkin terjadi ketika seseorang

menemukan sendiri alasan untuk berubah, bukan ketika alasan itu dijejalkan dari luar.

Pertanyaan terbuka seperti “Apa yang membuatmu ingin berhenti?” atau “Apa yang paling

kamu harapkan dari hidupmu setahun lagi?” sering lebih menggerakkan daripada seribu

kalimat nasihat.

Nada suara dan bahasa tubuh juga menentukan. Remaja dapat dengan cepat membaca

apakah orang dewasa di hadapannya benar-benar peduli atau sekadar menjalankan

kewajiban. Kata-kata yang menghina, seperti “dasar tidak tahu diuntung” atau “memalukan

keluarga”, mungkin keluar dari kekecewaan, tetapi dampaknya dapat bertahan

bertahun-tahun dalam kepala seorang anak. Ucapan yang membangun, misalnya “Ayah

kecewa dengan perbuatan itu, tetapi Ayah percaya kamu bisa berubah dan Ayah akan

menemanimu”, tetap jujur menyatakan kekecewaan tanpa menutup pintu.

Pendidik dan orang tua juga perlu belajar membaca sinyal yang tersembunyi di balik

perilaku. Perubahan pola tidur, menurunnya prestasi, menarik diri dari keluarga, perubahan

lingkaran pertemanan secara mendadak, dan sering berbohong tentang keberadaan adalah

tanda-tanda yang perlu diperhatikan dengan serius dan penuh kasih, bukan dengan

interogasi. Pendekatan yang terlalu represif, seperti menggeledah kamar tanpa penjelasan

atau memata-matai secara berlebihan, dapat merusak kepercayaan. Pendekatan yang terlalu

longgar membuat remaja merasa tidak diperhatikan. Keseimbangan antara kepedulian dan

penghormatan terhadap martabat remaja adalah seni yang harus terus dilatih.

Memahami Hukum Agama dengan Bijak: Tegas pada Prinsip, Lembut

pada Praktik

Dalam Islam, larangan khamr didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutnya

sebagai perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan, sebagaimana dalam Surah

Al-Ma’idah ayat 90 dan 91. Para ulama menjelaskan bahwa larangan itu berkaitan erat

dengan tujuan syariat menjaga akal (hifzh al-’aql), salah satu dari lima tujuan pokok syariat

bersama menjaga agama, jiwa, keturunan, dan harta. Dengan memahami hikmah ini,

pendidik dapat menjelaskan kepada remaja bahwa larangan tersebut bukan aturan

sewenang-wenang, melainkan perlindungan terhadap hal-hal paling berharga dalam hidup.

9

Namun, tegas pada prinsip tidak berarti keras dalam cara. Ajaran Islam sendiri

menunjukkan kebijaksanaan dalam menyampaikan larangan secara bertahap sebagaimana

yang dijelaskan oleh banyak ulama mengenai proses pengharaman khamr pada masa awal

Islam. Pelajaran pedagogisnya penting: perubahan perilaku yang mengakar membutuhkan

proses dan pendekatan yang memperhatikan kesiapan manusia. Menuntut remaja yang

masih rapuh agar berubah drastis dalam semalam, tanpa pendampingan, bertentangan

dengan semangat bertahap tersebut.

Ada pula aspek hukum positif yang perlu disampaikan secara proporsional. Remaja perlu

mengetahui bahwa konsumsi minuman keras pada usia di bawah ketentuan dapat

berkonsekuensi hukum dan sosial, serta bahwa perilaku di bawah pengaruh alkohol, seperti

berkendara, berkelahi, atau tindakan lainnya, dapat menimbulkan akibat serius bagi diri dan

orang lain. Informasi ini sebaiknya disampaikan sebagai bagian dari pendidikan tanggung

jawab, bukan sebagai ancaman untuk menakut-nakuti.

Ruang Digital: Antara Jebakan Pelarian dan Peluang Pemulihan

Dunia digital turut memengaruhi perjalanan remaja yang bertobat. Di satu sisi, media sosial

dapat menjadi sumber paparan terhadap budaya pesta dan normalisasi minuman keras.

Konten yang menampilkan gaya hidup glamor, dengan alkohol sebagai bagian dari

kesenangan, mudah menggoda remaja yang tengah berusaha menjauh. Algoritma yang

mengenali minat lama seseorang dapat terus menyodorkan konten serupa, sehingga

memperumit upaya berhenti.

Di sisi lain, ruang digital juga menyimpan peluang pemulihan. Komunitas daring yang

suportif, konten edukatif dari para konselor, kajian ringan dari penceramah yang ramah

remaja, dan aplikasi untuk membangun kebiasaan baru dapat membantu. Kuncinya adalah

literasi digital: remaja perlu dibantu menyaring akun yang diikuti, mengatur lingkungan

digitalnya agar mendukung perubahan, dan bijak memilih sumber ilmu agama yang

kredibel. Pendampingan orang dewasa tetap penting agar remaja tidak jatuh dari satu

jebakan ke jebakan lain, misalnya dari kebiasaan lama ke kelompok yang menawarkan

kepastian instan dengan cara pandang sempit dan menghakimi.

Remaja yang bertobat juga perlu dilindungi dari budaya “membuka aib” di media sosial.

Foto atau video masa lalu dapat tersebar dan menjadi sumber perundungan baru.

Pendidikan etika bermedia, termasuk kesadaran untuk tidak menyebarkan aib orang lain

dan tidak menghakimi masa lalu seseorang, perlu menjadi bagian dari pembelajaran agama.

Menutup aib saudara adalah ajaran luhur yang sangat relevan di era ketika jejak digital sulit

dihapus.

Pencegahan: Memperkuat Benteng sebelum Badai

10

Meskipun tulisan ini berfokus pada pemulihan, kita tidak boleh melupakan pencegahan.

Pendidikan agama yang baik sejak dini menumbuhkan benteng batin yang membuat remaja

lebih tahan menghadapi tekanan. Benteng ini dibangun dari beberapa unsur: hubungan yang

hangat dengan orang tua, keyakinan yang bermakna, kecakapan sosial untuk berkata tidak,

kemampuan mengelola emosi, dan komunitas positif yang memberi rasa memiliki.

Pelatihan keterampilan menolak ajakan negatif, misalnya, dapat diintegrasikan dalam

pembelajaran PAI dan bimbingan konseling melalui bermain peran. Remaja dilatih

mengatakan tidak dengan percaya diri, tanpa harus memusuhi temannya. Pendidikan

tentang dampak kesehatan, hukum, dan sosial dari minuman keras dapat disampaikan

secara faktual dan terbuka, tanpa melebih-lebihkan. Remaja yang merasa dibohongi dengan

ancaman berlebihan cenderung kehilangan kepercayaan pada pesan secara keseluruhan.

Keterbukaan dan kejujuran informasi justru memperkuat kredibilitas pendidik.

Pendidikan tentang makna hidup juga memiliki daya pencegah yang kuat. Remaja yang

memiliki tujuan, merasa dirinya berguna, dan terlibat dalam sesuatu yang lebih besar dari

dirinya sendiri umumnya lebih terlindungi dari pelarian yang merusak. Pendidikan agama

yang menghadirkan Islam sebagai sumber makna, bukan sekadar daftar larangan, memberi

mereka alasan yang kuat untuk menjaga diri. Menjaga akal, salah satu tujuan utama syariat,

dapat dijelaskan sebagai cara menghormati anugerah terbesar yang membuat manusia

mampu berpikir, mencintai, dan berkarya.

Peran Calon Guru: Menjadi Tangan yang Terulur

Sebagai mahasiswa calon guru sekolah dasar, penulis menyadari bahwa tema ini tampak

jauh dari dunia anak SD. Namun justru di sekolah dasarlah fondasi dibangun. Anak yang

tumbuh dengan rasa aman, harga diri yang sehat, kemampuan mengelola emosi, dan

kedekatan dengan orang dewasa yang tepercaya akan jauh lebih terlindungi ketika

memasuki masa remaja. Guru SD juga sering menjadi orang pertama yang melihat

tanda-tanda kesulitan anak: kesepian, kemarahan yang tidak wajar, atau kondisi keluarga

yang rapuh.

Selain itu, guru SD hidup di tengah masyarakat yang sama dengan remaja-remaja tersebut.

Kita mungkin akan bertemu dengan kakak dari murid kita yang sedang bergulat, atau

dengan mantan murid yang kembali dengan cerita gelapnya. Sikap kita saat itu,

menghakimi atau merangkul, menunjukkan seberapa dalam nilai-nilai yang kita ajarkan

telah menjadi bagian diri. Mengajarkan kasih sayang di depan kelas tidak bermakna bila

kita sulit memberikannya kepada orang yang paling membutuhkannya.

Karena itu, calon guru perlu membekali diri dengan pemahaman psikologi perkembangan,

kemampuan komunikasi empatik, pengetahuan dasar tentang kesehatan mental dan

11

ketergantungan, serta jejaring rujukan ke konselor dan lembaga yang tepat. Kita bukan

penyelamat tunggal, tetapi kita dapat menjadi satu mata rantai penting dalam jaring

pengaman yang menolong seorang anak kembali berdiri.

Penutup: Pintu Pulang Harus Tetap Terbuka

Kisah Raka di awal tulisan ini tidak berakhir pada saf paling belakang masjid. Itu baru

permulaan. Hari-hari berikutnya akan diwarnai kegigihan dan kegagalan, keberhasilan kecil

dan godaan lama. Apakah ia akhirnya berhasil bertahan atau tidak, sangat ditentukan oleh

bagaimana kita, keluarga, sekolah, dan masyarakat, menyambutnya.

Dari lensa psikologi, kita belajar bahwa otak dan jiwa remaja masih dalam pembangunan

dan perubahan selalu mungkin, termasuk kambuh sebagai bagian dari proses. Dari lensa

sosiologi, kita belajar bahwa lingkungan dan stigma dapat menjerumuskan sekaligus

menyembuhkan. Dari lensa pedagogi, kita belajar bahwa kasih, dialog, keteladanan, dan

pendekatan restoratif jauh lebih ampuh daripada hukuman semata. Dari lensa humaniora

dan nilai Islam, kita belajar bahwa tobat adalah perjalanan pulang yang dihargai, dan bahwa

rahmat Allah selalu lebih luas daripada kesalahan hamba-Nya.

Pendidikan Agama Islam yang sejati, dengan demikian, bukan hanya benteng bagi mereka

yang belum jatuh, tetapi juga pelabuhan bagi mereka yang ingin kembali berlabuh. Marilah

kita menjadi masyarakat yang menepuk bahu, bukan menunjuk jari; yang membuka pintu,

bukan mengunci hati. Sebab pada akhirnya, tidak ada pendidikan yang lebih agung daripada

menolong seorang anak menemukan kembali jalan pulangnya.

Daftar Rujukan

Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological

Review, 84(2), 191–215.

Becker, H. S. (1963). Outsiders: Studies in the Sociology of Deviance. New York: Free Press.

Dewantara, K. H. (1977). Karya Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta:

Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Durkheim, E. (1897). Le suicide (Suicide: A Study in Sociology).

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: W. W. Norton.

Goffman, E. (1963). Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity. Englewood Cliffs, NJ:

Prentice-Hall.

Hirschi, T. (1969). Causes of Delinquency. Berkeley: University of California Press.

Merton, R. K. (1938). Social structure and anomie. American Sociological Review, 3(5), 672–682.

Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person. Boston: Houghton Mifflin.

Prochaska, J. O., & DiClemente, C. C. (1983). Stages and processes of self-change of smoking:

Toward an integrative model of change. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 51(3),

390–395.

12

Sutherland, E. H., & Cressey, D. R. (1974). Criminology. Philadelphia: J. B. Lippincott.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes.

Cambridge, MA: Harvard University Press.

Al-Qur’an al-Karim, antara lain QS. az-Zumar [39]: 53; QS. at-Tahrim [66]: 8; QS. al-Ma’idah [5]:

90–91.

Hadis riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah tentang “setiap anak Adam berbuat salah dan sebaik-baik

yang bersalah adalah yang bertobat”.

13

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image