Ketika Mengingatkan Berubah Menjadi Alasan untuk Menghakimi
Agama | 2026-11-04 09:49:11
Media sosial rasanya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Hampir tiap hari ada saja waktu yang habis hanya untuk men-scroll beranda. Tapi, pernah nggak sih kamu menemukan komentar yang katanya “mengingatkan”, padahal cara menyampaikannya justru bikin yang membaca merasa terintimidasi?
Misalnya, “Kamu kan Islam, seharusnya begini, bukan malah begitu.” Atau, “Buka aja hijabnya, nanggung kalau cuma segitu yang kelihatannya.” Lalu ketika ada yang menegur agar pendapatnya disampaikan lebih baik, alasan hampir rata-rata sama: “Kan sesama muslim wajib mengingatkan.” Ujung-ujungnya, kolom komentar berubah jadi berisi panjang yang tidak ada habisnya.
Kenapa ya orang bisa lebih berani menghakimi di dunia maya? Ternyata fenomena ini sudah lama dibahas dalam psikologi komunikasi. Suler (2004) menyebut efek disinhibisi online, yaitu kecenderungan orang bertindak lebih bebas dan intens saat berinteraksi secara berani dibandingkan saat bertemu langsung. Menurutnya ada enam faktor yang saling mempengaruhi, dan tiga di antaranya terasa sangat dekat dengan kasus komentar “mengingatkan” ini.
Pertama, anonimitas. Saat identitas tersembunyi, apa yang kita tulis terasa tidak terhubung dengan kehidupan nyata, sehingga rasa tanggung jawab ikut melemah. Kedua, tembus pandang. Saat mengetik, kita tidak perlu memikirkan bagaimana raut wajah atau nada suara kita terlihat, dan ini bisa terjadi bahkan ketika identitas semua orang diketahui. Ketiga, komunikasi daring tidak berlangsung secara langsung, sehingga kita tidak harus menghadapi reaksi lawan bicara pada saat itu juga.
Gabungan ketiganya membuat kalimat yang di kepala penulisnya terasa tegas dan penuh niat baik bisa terbaca jauh lebih kasar oleh orang yang ditegur. Tidak ada senyum, tidak ada intonasi, tidak ada ekspresi yang direkonstitusikan maksudnya. Suler juga menjelaskan bahwa efek ini bisa ke dua arah. Ada yang jinak, misalnya orang jadi lebih terbuka berbagi cerita atau saling mendukung. Ada pula yang beracun, seperti kata-kata kasar dan penghakiman. Komentar “mengingatkan” yang menghakimi jelas masuk yang kedua.
Lalu, apakah menegur di kolom komentar selalu salah? Menurut saya belum tentu. Kalau memang niat awalnya hanya mengingatkan, sebenarnya ada jalur yang lebih personal, yaitu lewat DM. Tapi kalau di DM pun bahasanya tetap melirik, mengintimidasi, dan merasa diri paling benar tanpa peduli perasaan orang yang ditegur, apakah cara itu tetap bisa dibenarkan? Tentu tidak, kan?
Di sisi lain, mengingatkan lewat kolom komentar juga tidak selalu berarti mempermalukan. Karena komentar ada di ruang publik, pesan yang baik bisa menjadi pengingat juga bagi pembaca lain. Jadi yang perlu diperhatikan bukan hanya di mana kita menyampaikan nasihat, tapi juga bagaimana cara menyampaikannya.
Yang membuat saya agak miris, banyak komentar semacam ini mengatasnamakan agama. Padahal Islam punya pedoman yang jelas soal etika menyampaikan kebaikan. Dalam QS. An-Nahl ayat 125, Allah memerintahkan kita untuk mengajak orang lain ke jalan-Nya dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta berdiskusi dengan cara yang baik pula. Inilah yang dikenal sebagai dakwah bil hikmah. Ayat ini bukan hanya bicara soal isi pesan, tapi juga cara dan sikap orang yang menyampaikannya.
Al-Qur'an bahkan memberi contoh yang lebih menohok. Ketika Nabi Musa dan Harun diutus kepada Fir'aun, yang diketahui melampaui batas, mereka diperintahkan berbicara dengan qaulan layyina, kata yang lemah lembut (QS. Thaha: 44). Kalau kepada Fir'aun saja kelembutannya diperintahkan, bagaimana dengan sesama muslim yang kita tegur lewat kolom komentar? Dalam kajian komunikasi Islam ada juga konsep qaulan maysura (perkataan yang pantas dan mudah diterima, QS. Al-Isra: 28) dan qaulan karima (perkataan yang mulia, QS. Al-Isra: 23). Ketiganya bisa jadi tolok ukur sederhana sebelum kita menekan tombol kirim: apakah kalimat ini baik, mudah diterima, dan memuliakan lawan bicara?
Nasihat yang menghakimi juga bisa berdampak panjang. Orang yang ditegurkan dengan kasar bisa saja malah semakin jauh dari agama, lalu menganggap pemeluk agama itu orang-orang yang suka menghakimi. Niat mengajak pada kebaikan akhirnya justru jadi alasan orang menjauh.
Mengingatkan ke jalan kebaikan jelas bukan hal yang salah. Tapi jangan sampai nasehat yang kita sampaikan kehilangan adab dan berubah jadi penghakiman, karena pesan yang benar belum tentu disampaikan dengan cara yang benar. Bagi yang menjadi sasaran teguran, kita juga perlu bijak. Tidak semua nasihat harus ditanggapi dengan emosi, apalagi dengan sikap defensif seperti “my life my rule”. Ambil nasihat yang bermanfaat, abaikan cara penyampaiannya yang kurang pas, dan tetap jawab dengan baik.
Pada akhirnya, memberi nasihat dan menerima nasihat sama-sama butuh adab. Jadi sebelum menulis komentar “pengingat” berikutnya, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah yang saya lakukan baik, atau cuma ingin divalidasi sebagai orang yang lebih benar?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
