Bahasa yang Menyembuhkan: Pentingnya Komunikasi bagi Mahasiswa Keperawatan
Info Sehat | 2026-10-23 14:30:16
Ketika mendengar kata keperawatan, sebagian orang mungkin langsung membayangkan rumah sakit, seragam perawat, tindakan medis, atau kegiatan merawat pasien. Padahal, menjadi seorang perawat tidak hanya membutuhkan kemampuan melakukan tindakan keperawatan, tetapi juga keterampilan berkomunikasi. Komunikasi merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan karena melalui bahasa, perawat dapat menyampaikan informasi, memahami keluhan, serta membangun hubungan yang baik dengan pasien.
Sebagai mahasiswa keperawatan, penting untuk menyadari bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah nantinya akan diterapkan kepada manusia. Pasien bukan sekadar seseorang yang memiliki diagnosis penyakit, melainkan individu yang dapat merasa takut, cemas, bingung, dan membutuhkan perhatian. Oleh karena itu, cara tenaga kesehatan berkomunikasi dapat memengaruhi bagaimana pasien memahami kondisi dirinya dan menjalani proses perawatan.
Dalam praktik keperawatan, perawat tidak hanya bertugas memberikan tindakan medis sesuai kewenangannya, tetapi juga menjelaskan kondisi pasien, memberikan edukasi kesehatan, mendengarkan keluhan, dan membangun rasa percaya. Hubungan komunikasi yang baik dapat menciptakan suasana perawatan yang lebih nyaman serta membantu pasien merasa dihargai dan diperhatikan.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi kesehatan adalah penggunaan bahasa yang mudah dipahami. Tenaga kesehatan memang mempelajari berbagai istilah medis selama pendidikan, tetapi tidak semua istilah tersebut dapat dipahami secara langsung oleh pasien. Sebagai contoh, ketika seorang tenaga kesehatan mengatakan, “Bapak mengalami hipertensi,” sebagian pasien mungkin belum memahami arti istilah tersebut. Informasi itu dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana, seperti, “Tekanan darah Bapak lebih tinggi dari batas normal sehingga perlu dikontrol.” Dengan demikian, pasien dapat memahami informasi yang disampaikan dengan lebih baik.
Bahasa yang baik bukan berarti menggunakan kata-kata yang sulit atau terdengar formal. Bahasa yang baik adalah bahasa yang mampu menyampaikan informasi secara jelas, tepat, sopan, dan sesuai dengan kondisi lawan bicara. Dalam pelayanan kesehatan, kemampuan memilih kata menjadi penting karena informasi yang disampaikan berkaitan langsung dengan kondisi dan perawatan pasien.
Selain berbicara, komunikasi juga mencakup kemampuan mendengarkan. Pasien terkadang tidak hanya membutuhkan penjelasan mengenai penyakitnya, tetapi juga membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan kekhawatiran dan keluhannya. Pertanyaan sederhana seperti, “Apa yang paling membuat Anda khawatir?” dapat memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya. Sikap mendengarkan dengan penuh perhatian dapat membantu pasien merasa lebih dihargai.
Kemampuan berkomunikasi tersebut perlu dikembangkan sejak mahasiswa berada di bangku kuliah. Di tengah berbagai tugas, praktikum, ujian, dan kegiatan akademik, mahasiswa keperawatan tidak boleh hanya berfokus pada penguasaan materi seperti anatomi, fisiologi, proses penyakit, dan keterampilan keperawatan. Kemampuan menyampaikan ilmu kepada orang lain juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri sebagai tenaga kesehatan profesional.
Dalam hal ini, mata kuliah Bahasa Indonesia memiliki keterkaitan erat dengan dunia keperawatan. Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penggunaan kata sesuai kaidah, penyusunan kalimat, atau penulisan karya ilmiah, tetapi juga membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi secara terstruktur dan mudah dipahami. Kemampuan tersebut dapat menjadi bekal dalam memberikan edukasi kesehatan kepada pasien maupun masyarakat.
Komunikasi yang baik juga tidak dapat dipisahkan dari empati. Setiap pasien memiliki latar belakang, pengalaman, dan kondisi emosional yang berbeda. Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan perlu belajar menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kebutuhan setiap individu. Penggunaan bahasa yang sopan, tidak menghakimi, dan menunjukkan kepedulian dapat membantu membangun hubungan saling percaya antara pasien dan tenaga kesehatan.
Kata-kata memang tidak dapat menggantikan tindakan medis, tetapi komunikasi yang tepat dapat membantu pasien merasa lebih tenang, memahami kondisinya, dan percaya terhadap pelayanan yang diberikan. Oleh karena itu, mempelajari Bahasa Indonesia bagi mahasiswa keperawatan bukan sekadar memenuhi tuntutan mata kuliah, melainkan juga bagian dari proses membentuk tenaga kesehatan yang mampu melayani dengan ilmu, empati, dan kepedulian. Sebab, sebelum tangan memberikan perawatan, sering kali kata-kata menjadi hal pertama yang membuat seseorang merasa aman.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa keperawatan berarti mempersiapkan diri untuk memberikan perawatan kepada manusia secara utuh. Kemampuan akademik dan keterampilan keperawatan perlu disertai kemampuan berkomunikasi yang baik agar pelayanan yang diberikan tidak hanya profesional, tetapi juga manusiawi. Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi, melainkan sarana untuk membangun hubungan, memberikan rasa nyaman, dan menunjukkan kepedulian kepada pasien.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
