Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Madani

SMK Jangan Hanya Mengajarkan Marketing, tetapi Membangun Marketer

Eduaksi | 2026-10-20 12:33:16
Credit Foto : Dokumentasi Seminar di SMKN 1 Banda Aceh 19 Oktober 2026

Perkembangan artificial intelligence dan teknologi digital telah mengubah dunia pemasaran secara mendasar. Banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan keterampilan teknis khusus kini dapat dibantu oleh aplikasi digital, mulai dari membuat desain, menulis materi promosi, menganalisis informasi, hingga memproduksi konten.

Perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan penting bagi pendidikan kejuruan. Jika membuat konten semakin mudah, kompetensi apa yang sebenarnya harus dimiliki lulusan SMK jurusan pemasaran agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja?

Jawabannya bukan sekadar menambah jumlah aplikasi yang harus dikuasai siswa. Pendidikan pemasaran perlu memperkuat kemampuan memahami manusia, berpikir strategis, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan nilai bagi pelanggan maupun perusahaan.

Pembelajaran Tidak Boleh Berhenti di Ruang Kelas

Gagasan tersebut menjadi bagian dari semangat kegiatan guru tamu dan pembekalan calon peserta LKS di SMK Negeri 1 Banda Aceh pada 19–20 Oktober 2026. Kegiatan yang menghadirkan praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani tersebut juga mendapatkan dukungan lingkungan industri dari Dealer Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh.

Hari pertama kegiatan dilaksanakan di sekolah dengan fokus pengenalan profesi pemasaran masa kini dan pembekalan kompetensi. Pada hari kedua, pembelajaran diarahkan ke lingkungan Dealer Yamaha Alfa Scorpii agar siswa dapat menghubungkan konsep pemasaran dengan konteks bisnis yang lebih konkret.

Kolaborasi ini mendapatkan perhatian dan dukungan dari Kepala SMK Negeri 1 Banda Aceh, Sufiani, S.Pd., bersama jajaran program keahlian pemasaran. Ketua Program Keahlian Pemasaran Mardiani, S.Pd., dan Guru Pemasaran Cut Mitra Susanti, S.Pd., M.M., mengambil bagian dalam upaya memperkuat hubungan pembelajaran sekolah dengan kebutuhan kompetisi dan dunia kerja.

Keterlibatan Sadikin Kwok selaku BM MDS Alfa Scorpii Banda Aceh juga menunjukkan pentingnya peran industri sebagai mitra pendidikan vokasi. Sekolah memerlukan dukungan dunia usaha bukan semata-mata sebagai tempat praktik, tetapi sebagai sumber pembelajaran mengenai standar kerja, kebutuhan pelanggan, dan dinamika bisnis.

Mengapa Lingkungan Dealer Penting bagi Siswa Pemasaran?

Dealer sepeda motor merupakan lingkungan yang relevan untuk mempelajari perjalanan pelanggan. Calon konsumen biasanya membutuhkan informasi tentang produk, mempertimbangkan biaya, membandingkan pilihan, berinteraksi dengan petugas penjualan, dan mengevaluasi layanan sebelum menentukan pembelian.

Situasi tersebut memungkinkan siswa memahami bahwa pemasaran tidak hanya berkaitan dengan promosi. Ada riset kebutuhan pelanggan, komunikasi, pelayanan, pengelolaan prospek, proses penjualan, hingga membangun kepuasan setelah transaksi.

Siswa yang dapat memahami keseluruhan proses ini memiliki fondasi yang lebih kuat dibandingkan siswa yang hanya mampu menghasilkan konten menarik tanpa mengetahui tujuan bisnisnya.

Peran AI dan Pentingnya Karakter

Dalam kegiatan pembekalan, materi pemasaran masa kini juga relevan dikaitkan dengan penggunaan artificial intelligence. AI dapat membantu siswa memperoleh ide kampanye, menyusun analisis awal, atau membandingkan strategi komunikasi. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap memerlukan kemampuan menilai informasi dan memverifikasi kesesuaiannya dengan kebutuhan pasar.

Pada saat yang sama, industri tetap membutuhkan karakter profesional. Kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama tidak boleh dipandang sebagai kompetensi tambahan yang terpisah dari pembelajaran pemasaran.

Kemampuan teknis membuka peluang bekerja, tetapi karakter menentukan apakah seseorang dapat terus dipercaya dan berkembang dalam pekerjaan tersebut.

LKS dan Ukuran Keberhasilan Pendidikan Vokasi

Persiapan LKS menjadi momentum untuk mengukur keterampilan siswa melalui tantangan yang lebih terstruktur. Namun, kompetisi sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai ajang mencari juara. Nilai terbesarnya justru terletak pada proses belajar, latihan, evaluasi, dan keberanian menghadapi persoalan.

Siswa seperti Shina Qisti Fathan dan rekan-rekannya memiliki kesempatan untuk membangun kesiapan profesional sejak kelas XI melalui pengalaman belajar yang melibatkan sekolah, praktisi, dan industri.

Ke depan, model kolaborasi semacam ini layak terus diperkuat. Pendidikan vokasi memerlukan pembelajaran yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi digunakan secara bertanggung jawab dalam aktivitas ekonomi nyata.

SMK tidak cukup hanya mencetak lulusan yang memahami definisi marketing. Sekolah perlu membantu membangun marketer yang bisa berpikir, bekerja, beradaptasi, serta dipercaya.

Karena pada akhirnya, masa depan siswa SMK tidak ditentukan semata oleh nama jurusannya, melainkan oleh keterampilan, karakter, pengalaman, dan kontribusi yang mampu mereka buktikan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image