Media Sosial Bisa Jadi Tempat Belajar Public Speaking, Benarkah?
Eduaksi | 2026-10-18 20:33:59Media Sosial sebagai Ruang untuk Berlatih
Public speaking bukan hanya tentang berbicara dengan suara lantang atau menggunakan kata-kata yang menarik. Keterampilan ini juga mencakup kemampuan menyusun pesan, mengatur intonasi, menyampaikan informasi secara jelas, serta menyesuaikan cara berbicara dengan audiens.
Media sosial dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melatih keterampilan tersebut. Misalnya, mahasiswa dapat membuat video singkat yang membahas materi kuliah, menyampaikan opini mengenai suatu fenomena, atau menjelaskan informasi yang bermanfaat bagi orang lain.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat belajar menyusun pembukaan, menyampaikan inti pembicaraan, dan menutup penjelasan secara terarah. Mereka juga dapat merekam ulang video apabila masih melakukan kesalahan dalam penyampaian.
Penelitian Arok, Muhammad Rizki A. R., dan Wahyunengsi (2023) membahas pemanfaatan TikTok sebagai media pembelajaran untuk melatih keterampilan public speaking mahasiswa jurnalistik UIN Jakarta. Kajian tersebut relevan untuk menunjukkan bahwa platform media sosial dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif latihan berbicara.
Meskipun demikian, manfaatnya tidak muncul secara otomatis. Mahasiswa tetap perlu berlatih secara konsisten dan mengevaluasi kemampuan komunikasinya.
Belajar Percaya Diri di Depan Kamera
Salah satu tantangan dalam public speaking adalah rasa gugup. Tidak sedikit orang yang sebenarnya memahami materi, tetapi kesulitan menyampaikannya ketika harus berbicara di hadapan orang lain.
Berlatih di depan kamera dapat menjadi langkah awal untuk menghadapi tantangan tersebut. Mahasiswa dapat memulai dengan membuat video berdurasi satu hingga dua menit tentang topik yang dikuasai. Setelah itu, rekaman dapat ditonton kembali untuk memperhatikan kejelasan suara, kecepatan berbicara, ekspresi wajah, dan penggunaan kata-kata.
Latihan sederhana ini membantu mahasiswa mengenali kelebihan dan kekurangan dalam cara mereka berbicara. Jika dilakukan secara rutin, proses evaluasi dapat menjadi kebiasaan yang mendukung perkembangan keterampilan komunikasi.
Namun, percaya diri di depan kamera tidak selalu berarti seseorang sudah siap berbicara di hadapan audiens secara langsung. Keduanya memiliki tantangan yang berbeda sehingga tetap membutuhkan latihan yang sesuai.
Bukan Sekadar Mengejar Penayangan dan Tanda Suka
Media sosial memiliki karakteristik yang membuat pengguna mudah memperhatikan jumlah penayangan, tanda suka, komentar, dan pengikut. Dalam konteks latihan public speaking, perhatian yang berlebihan terhadap angka-angka tersebut dapat mengalihkan tujuan utama dari proses belajar.
Video yang memperoleh banyak penayangan belum tentu memiliki penyampaian informasi yang jelas. Sebaliknya, video dengan jumlah penonton yang sedikit tetap dapat menjadi sarana latihan yang bermanfaat bagi pembuatnya.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu menentukan tujuan latihan yang lebih terukur. Misalnya, mampu berbicara tanpa terlalu banyak jeda, menyampaikan materi secara runtut, menggunakan intonasi yang sesuai, atau mengurangi kebiasaan membaca teks secara terus-menerus.
Dengan demikian, keberhasilan latihan tidak hanya dinilai berdasarkan respons audiens, tetapi juga berdasarkan perkembangan kemampuan berbicara.
Mengapa Latihan Tatap Muka Tetap Penting?
Walaupun media sosial menawarkan ruang untuk berlatih, public speaking tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari interaksi langsung. Ketika merekam video, seseorang dapat mengulang kalimat atau memilih hasil rekaman yang paling baik. Situasinya berbeda ketika melakukan presentasi di depan kelas atau berbicara dalam sebuah forum.
Dalam komunikasi tatap muka, pembicara perlu memperhatikan reaksi audiens, menjawab pertanyaan secara spontan, dan menyesuaikan penyampaian ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
Karena itu, media sosial sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti seluruh proses latihan. Mahasiswa dapat memulai dengan membuat video, kemudian melanjutkan latihan melalui diskusi kelompok, presentasi kelas, atau kegiatan organisasi.
Perpaduan kedua bentuk latihan tersebut memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbicara dalam situasi yang lebih beragam.
Mulai dari Langkah Kecil
Belajar public speaking tidak harus dimulai dengan berbicara di hadapan ratusan orang. Mahasiswa dapat memulainya dari kegiatan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Pertama, pilih satu topik yang dikuasai. Kedua, buat kerangka pembicaraan yang terdiri atas pembukaan, isi, dan penutup. Ketiga, rekam video singkat tanpa terlalu bergantung pada teks. Keempat, tonton kembali rekaman tersebut dan catat bagian yang perlu diperbaiki. Kelima, coba sampaikan materi yang sama di hadapan teman atau kelompok kecil.
Selain itu, mahasiswa perlu memperhatikan etika komunikasi digital. Informasi yang disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan, bahasa yang digunakan perlu disesuaikan dengan audiens, dan privasi orang lain harus tetap dihormati.
Langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu menjadikan media sosial sebagai ruang belajar yang lebih terarah.
Kesimpulan
Media sosial memiliki potensi untuk menjadi salah satu sarana pengembangan public speaking bagi mahasiswa. Melalui pembuatan video, latihan berbicara di depan kamera, dan evaluasi mandiri, mahasiswa dapat berlatih menyampaikan pesan dengan lebih jelas dan terstruktur.
Namun, kemampuan public speaking tidak cukup dikembangkan hanya dengan membuat konten digital. Latihan tatap muka, interaksi dengan audiens, serta kesediaan menerima masukan tetap diperlukan agar keterampilan komunikasi berkembang secara menyeluruh.
Pada akhirnya, media sosial bukan sekadar tempat untuk menunjukkan kemampuan, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar dan memperbaiki diri. Hal terpenting bukan seberapa banyak orang yang menonton, melainkan seberapa besar kemauan seseorang untuk terus berlatih dan berkembang.
Referensi
Arok, B., Muhammad Rizki, A. R., & Wahyunengsi. (2023). TikTok as student's learning media in training a public speaking skill on new journalistic student of UIN Jakarta. JSIKOM: Jurnal Studi Ilmu Komunikasi. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/jsikom/article/view/14161
Rahman, R. (2023). The influence of social media (TikTok) on public speaking mastery of students of the Communication Science Department Hang Tuah University Pekanbaru. Semantik: Journal of Social, Media, Communication, and Journalism. https://doi.org/10.31958/semantik.v1i2.10855
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
